Strategies in Translating Emotion in Inside Out 2 Movie: Appraisal Theory
Studi ini mengkaji penerjemahan ekspresi emosional dalam film animasi Inside Out 2, dengan fokus khusus pada adaptasi subtitel dari dialog para karakter. Dengan menggunakan analisis kualitatif dan teori penerjemahan Molina Albir, penelitian ini menyelidiki bagaimana berbagai teknik penerjemahan mempertahankan atau mengubah nuansa emosional yang tersampaikan dalam teks sumber, menyoroti tantangan yang dihadapi penerjemah ketika menerjemahkan konten afektif lintas bahasa dan budaya dengan Teori Penilaian Martin dan Rose. Temuan ini mengungkapkan berbagai strategi, termasuk penerjemahan harfiah, modifikasi leksikal, dan penyesuaian sintaksis, yang masing-masing memengaruhi nada emosional dan penerimaan audiens dengan cara yang berbeda. Studi ini menggarisbawahi peran penting penerjemah dalam menyeimbangkan kesetiaan pada maksud emosional asli dengan ekspektasi budaya audiens target, sehingga memastikan komunikasi yang efektif dan sesuai konteks. Keterbatasan studi ini meliputi fokus studi pada satu film dan pendekatan kualitatif, yang menunjukkan peluang bagi penelitian di masa mendatang untuk memperluas cakupan ke berbagai genre media dan menggabungkan ukuran kuantitatif guna memperdalam pemahaman tentang dampak penerjemahan emosional. Penelitian ini memberikan kontribusi pada bidang penerjemahan dengan menawarkan perspektif bernuansa tentang bagaimana emosi dikelola secara linguistik dan budaya dalam penerjemahan subtitel.
This study examines the translation of emotional expressions in the animated film Inside Out 2, focusing specifically on the subtitle adaptations of the characters' dialogues. Employing qualitative analysis and Molina Albir theory of Translation, the research investigates how various translation techniques preserve or alter the emotional nuances conveyed in the source text, highlighting the challenges translators face when rendering affective content across languages and cultures with Martin and Rose's Appraisal Theory. The findings reveal a range of strategies, including literal translation, lexical modification, and syntactic adjustment, each affecting the emotional tone and audience reception in different ways. The study underscores the translator’s critical role in balancing fidelity to the original emotional intent with the cultural expectations of the target audience, thereby ensuring effective and contextually appropriate communication. Limitations include the study’s focus on a single film and the qualitative approach, suggesting opportunities for future research to expand across diverse media genres and incorporate quantitative measures to deepen understanding of emotional translation’s impact. This research contributes to the field of translation by offering a nuanced perspective on how emotions are linguistically and culturally managed in subtitle translation.