Analisis Perbedaan Asupan Protein, Vitamin A, dan Seng Dengan Kejadian ISPA Pada Balita 2-4 Tahun di Wilayah Puskesmas Simomulyo Surabaya
Analysis of the Differences in Dietary Protein, Vitamin A, and Zinc Intake with the Occurrence of Acute Respiratory Infections (ARI) in Toddlers Aged 2-4 Years at the Simomulyo Health Center Area, Surabaya
Fase balita dapat dikatakan sebagai fase yang sangat penting karena merupakan fase tumbuh kembang.. Pengoptimalan fase balita bertujuan untuk mencegah penyakit salah satunya adalah ISPA. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi yang disebabkan patogen yang menyerang saluran pernapasan. Pada usia balita yang rentan terkena ISPA adalah balita dengan usia rentang `1-4 tahun. Asupan makanan yang tidak adekuat akan mengakibatkan respon imun menjadi terganggu karena gizi yang kurang dan lebih rentan terhadap penyakit infeksi. Asupan protein berkaitan dengan ISPA karena protein memiliki fungsi membentuk antibodi untuk memerangi agen penyebab infeksi. Asupan vitamin A juga memiliki peran dalam meningkatkan sel imummunoglobulin A untuk memerangi patogen. Selain itu, asupan seng juga berdampak dalam melawan infeksi karena memiliki anti-inflamasi ketika infeksi timbul dalam tubuh. Puskesmas Simomulyo Surabaya dalah puskesmas dengan prevalensi ISPA tertinggi ketiga di Surabaya sebesar 39,7%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan asupan protein, vitamin A, dan seng dengan kejadian ISPA pada balita usia 2-4 tahun di wilayah Puskesmas Simomulyo Surabaya adalah puskesmas dengan prevalensi ISPA tertinggi ketiga di Surabaya sebesar 39,7%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan asupan protein, vitamin A, dan seng dengan kejadian ISPA pada balita usia 2-4 tahun di wilayah Puskesmas Simomulyo Surabaya.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif retrospektif dengan pendekatan unmatched case control. Tempat penelitian dilakukan pada wilayah sekitar Puskesmas Simomulyo Surabaya dengan responden ibu/wali balita dengan balita ISPA (sebagai kelompok kasus) atau balita tidak ISPA (sebagai kelompok kontrol). Total responden sejumlah 82 orang dengan perbandingan 1:1 untuk kelompok balita ISPA dan balita tidak ISPA. Pengumpulan dilakukan pada bulan Agustus 2024 dengan instrumen lembar persetujuan responden, identitas responden, lembar SQ-FFQ yang diadaptasi pada penelitian sebelumnya guna mengetahui asupan balita selama 1 bulan terakhir, dan porsimetri. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji Mann-Whittney menggunakan SPSS 26.
Hasil dari penelitian ini adalah tidak ada perbedaan asupan protein (p=0,276), asupan vitamin A (p=0,407), asupan seng (p=0,516) dengan kejadian ISPA pada balita.. Faktor risiko lain yang berpeluang terhadap kejadian ISPA adalah lokasi/tempat tinggal, higiene sanitasi, ventilasi rumah, adanya anggota keluarga merokok, dan lainnya. Saran yang diberikan agar tidak terpapar atau pengulangan ISPA adalah memilih bahan makanan real food dengan minimal pengolahan, mengatur ventilasi rumah, dan mengurangi kebiasaan merokok.
The toddler phase can be considered as a very important phase because it is a phase of growth and development. Optimizing the toddler phase aims to prevent diseases, one of which is Acute Respiratory Infection (ARI). Acute Respiratory Infection (ARI) is an infection caused by pathogens that attack the respiratory tract. Toddlers aged 1-4 years are most susceptible to ARI. Inadequate food intake can impair immune responses due to nutritional deficiencies, making them more susceptible to infectious diseases. Protein intake is related to ARI because protein plays a role in forming antibodies to combat infection-causing agents. Vitamin A intake also plays a role in increasing the production of immunoglobulin A to fight pathogens. Additionally, zinc intake affects the fight against infections because it has anti-inflammatory properties when an infection occurs in the body. Simomulyo Health Center in Surabaya has the third-highest ARI prevalence in Surabaya, at 39.7%.
This study aims to analyze the difference in protein, vitamin A, and zinc intake with the incidence of ARI in toddlers aged 2-4 years in the area of Simomulyo Health Center, Surabaya. This research is a quantitative retrospective study with an unmatched case-control approach. The study was conducted in the area around Simomulyo Health Center in Surabaya with respondents being mothers/guardians of toddlers with ARI (as the case group) or toddlers without ARI (as the control group). A total of 82 respondents participated, with a 1:1 ratio between the ARI toddler group and the non-ARI toddler group. Data collection was conducted in August 2024 using instruments such as respondent consent forms, respondent identification, an SQ-FFQ sheet adapted from previous studies to assess toddler intake over the last month, and portion measurements. Data analysis was performed using Mann-Whitney tests with SPSS 26.
The results of this study showed no significant difference in protein intake (p=0,276), vitamin A intake (p=0,407), and zinc intake (p=0,516) with the incidence of ARI in toddlers. Other risk factors that may contribute to the occurrence of ARI include the location/place of residence, sanitation hygiene, home ventilation, the presence of family members with smoking habits, and more. Recommendations to prevent exposure or recurrence of ARI include to choosing minimally processed real food,