Hubungan Manajemen Pelatihan Membatik Dengan Minat Wirausaha Peserta Didik Paket C Di PKBM Annisa Kabupaten Banyuwangi
Relationship between Management of Batik Training and Entrepreneurial Interests of Package C Students at CLC Annisa, Banyuwangi Regency
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana siswa Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Annisa di Kabupaten Banyuwangi berhubungan dengan manajemen pelatihan keterampilan membatik dan minat berwirausaha mereka. Dalam konteks ini, manajemen pelatihan meliputi perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan pendampingan pasca pelatihan, yang kesemuanya dianggap berdampak pada kecenderungan peserta untuk memulai usaha mandiri berbasis batik mereka sendiri. Pentingnya pelatihan yang berakar pada budaya lokal sebagai sarana untuk meningkatkan keterampilan dan motivasi berwirausaha di satuan pendidikan nonformal menjadi pendorong penelitian ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan pendekatan korelasional. Sebanyak 31 siswa yang mengikuti pelatihan keterampilan membatik di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Annisa merupakan populasi penelitian ini. Mereka juga berperan sebagai sampel penelitian, yang diambil dari keseluruhan sampel. Kuesioner yang didasarkan pada indikasi minat berwirausaha (Bandura, 1997) dan manajemen pelatihan (Becker, 2009) berperan sebagai alat penelitian. Uji korelasi Pearson Product Moment digunakan untuk menguji data yang terkumpul guna memastikan arah dan derajat hubungan antar variabel.
Temuan menunjukkan korelasi yang kuat dan positif antara minat mahasiswa dalam berwirausaha dan manajemen pelatihan membatik. Meskipun komponen kepercayaan diri dan keterampilan merupakan prediktor minat berwirausaha yang paling menonjol, dimensi pendampingan pasca-pelatihan ditemukan sebagai indikator terbesar dalam manajemen pelatihan. Hal ini menyiratkan bahwa peserta lebih termotivasi untuk menciptakan usaha mandiri berdasarkan bakat mereka ketika pelatihan dikelola dengan baik.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pelatihan keterampilan sangat dipengaruhi oleh seberapa baik manajemen pelatihan yang terstruktur, terutama di seluruh tahapan pendampingan dan pengembangan karakter kewirausahaan. Oleh karena itu, disarankan agar pengelola PKBM meningkatkan hubungan dengan peserta industri batik, meningkatkan komponen manajerial pelatihan, dan mengadvokasi peraturan perundang-undangan yang mendukung ekosistem kewirausahaan lokal. Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kreatif melalui lembaga pendidikan nonformal berbasis lokal, diperlukan dukungan dari pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
Kata Kunci: Manajemen Pelatihan, Membatik, Minat Wirausaha, Pendidikan Nonformal, PKBM Annisa
The purpose of this study is to ascertain how Package C students at the Annisa Community Learning Center (PKBM) in Banyuwangi Regency relate to management of their batik skills training and their interest in entrepreneurship. In this context, training management includes planning, execution, assessment, and post-training mentoring, all of which are thought to have an impact on participants' propensity to launch their own independent batik-based enterprises. The significance of training rooted in local culture as a means of enhancing entrepreneurial skill and motivation in non-formal education units is what drives this study.
This study took a quantitative approach, employing correlational approaches. The 31 students who took part in the batik skills training at the Annisa Community Learning Center (PKBM) made up the population of this study. They also served as the research sample, which was drawn from a total sample. A questionnaire that was based on indications of entrepreneurial interest (Bandura, 1997) and training management (Becker, 2009) served as the research tool. The Pearson Product Moment correlation test was used to examine the collected data in order to ascertain the direction and degree of the link between the variables.
The findings demonstrated a strong and favorable correlation between students' interest in entrepreneurship and the management of batik training. While the skill-confidence component was the most prominent predictor of entrepreneurial interest, the post-training mentoring dimension was found to be the greatest indicator in training management. This implies that participants are more motivated to create independent enterprises based on their talents when training is managed well.
The findings of this study suggest that the success of skills training is strongly impacted by how well structured training management works, especially throughout the stages of mentoring and developing entrepreneurial character. Therefore, it is recommended that PKBM managers improve their relationships with batik industry participants, boost the managerial components of the training, and advocate for legislation that support the local entrepreneurial ecosystem. To enhance the growth of the creative economy through locally-based non-formal education institutions, support from the government and other stakeholders is required.
Keywords: Training Management, Batik, Entrepreneurial Interest, Non-Formal Education, CLC Annisa