CRITICAL THINKING ABILITIES OF HIGH SCHOOL STUDENTS IN SOLVING STATISTICAL PROBLEMS BY UTILIZING ARTIFICIAL INTELLIGENCE
Perkembangan kecerdasan buatan memberikan tantangan sekaligus peluang bagi peserta didik terhadap aktivitas kognitif dalam pembelajaran matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis peserta didik SMA berkemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah dalam menyelesaikan masalah statistika pada dua kondisi, yaitu dengan memanfaatkan ChatGPT dan tanpa memanfaatkan ChatGPT. Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus yang mewakili 3 subjek penelitian kemampuan matematika tinggi, sedang, dan rendah. Pengumpulan data dilakukan melalui Tes Kemampuan Matematika, Tes Kemampuan Berpikir Kritis, angket penggunaan kecerdasan buatan, dan wawancara. Analisis data dilakukan melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan Kesimpulan berdasarkan indikator berpikir kritis Facione, yaitu interpretasi, analisis, evaluasi, inferensi, eksplanasi, dan regulasi diri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi memanfaatkan ChatGPT, peserta didik berkemampuan matematika tinggi memenuhi seluruh indikator berpikir kritis secara lengkap. Peserta didik berkemampuan matematika sedang mampu memenuhi indikator interpretasi, analisis, dan eksplanasi, namun kurang optimal pada indikator evaluasi karena subjek menerima mentah-mentah informasi dari ChatGPT. Sementara itu, peserta didik berkemampuan matematika rendah hanya mamenuhi indikator interpretasi dan inferensi dasar dengan menyalin rumus yang disediakan oleh ChatGPT tanpa melalui proses regulasi diri. Pada kondisi tanpa memanfaatkan ChatGPT, peserta didik berkemampuan matematika tinggi tetap konsisten memenuhi seluruh indikator berpikir kritis, sedangkan peserta didik berkemampuan matematika sedang dan rendah mengalami penurunan pada indikator evaluasi, inferensi, dan eksplanasi akibat keterbatasan pemahaman konsep statistika. Dengan demikian, didapatkan bahwa adanya perbedaan pemenuhan indikator berpikir kritis masing-masing subjek pada dua kondisi tersebut yang dipengaruhi oleh tingkat kemampuan awal matematika peserta didik.
Kata kunci: Kemampuan Berpikir Kritis, Statistika, Kecerdasan Buatan, ChatGPT, Kemampuan Matematika.
The development of artificial intelligence (AI) presents both challenges and opportunities for students' cognitive activities in mathematics learning. This study aims to describe the critical thinking skills of high school students with high, moderate, and low mathematical abilities in solving statistics problems under two conditions: with and without utilizing ChatGPT. This descriptive qualitative study applied a case study design involving three subjects. Data collection was conducted through a mathematics ability test, critical thinking skills tests, an AI usage questionnaire, and interviews. Data analysis followed Facione's critical thinking indicators: interpretation, analysis, evaluation, inference, explanation, and self-regulation. The results showed that when utilizing ChatGPT, the high-ability student completely met all critical thinking indicators. The moderate-ability student fulfilled interpretation, analysis, and explanation, but was less than optimal on evaluation due to accepting ChatGPT's information at face value. Meanwhile, the low-ability student only fulfilled interpretation and basic inference by copying formulas from ChatGPT without self-regulation. Without ChatGPT, the high-ability student consistently met all indicators, whereas the moderate and low-ability students experienced a decrease in evaluation, inference, and explanation indicators due to limited conceptual understanding. Thus, differences in the fulfillment of critical thinking indicators under both conditions were influenced by the students' initial mathematical ability levels.
Keywords: Critical Thinking Skills, Statistics, Artificial Intelligence, ChatGPT, Mathematical Ability.