Karya Tari Mbujang Bentuk Dramatik Sebagai Visualisasi Pencarian Jati Diri
Karya tari Mbujang merupakan visualisasi dramatik tentang pencarian jati diri remaja, khususnya dalam pengendalian diri dari hal negatif menuju positif. Dengan eksplorasi gerak berbasis karakter Bujang Ganong dari kesenian Reyog Ponorogo, karya ini menggambarkan pergolakan emosional dan sosial yang dialami remaja dalam proses pendewasaan.
Terdapat beberapa karya tari relevan yang juga mengeksplorasi tentang pengalaman empiris, seperti Buruh Tubuh yang diciptakan oleh Dani S.Budiman pada tahun 2022, Tubuh Cantrik oleh Sulaiman pada tahun 2023, dan Doxa Rezky Febriantoro pada tahun 2021, tetapi Mbujang lebih menitikberatkan pada aspek pencarian jati diri individu. Metode penciptaan yang digunakan adalah konstruksi I dari teori Jacqueline Smith, yang membantu koreografer menyusun komposisi tari secara sistematis. Dengan tahapan pada proses kreatifnya berawal dari rangsang awal, tipe tari, mode penyajian, improvisasi, evaluasi, seleksi, motif.
Hasil penulisan karya Mbujang mencakup deskripsi isi dan bentuk. Dari segi isi, karya ini menyoroti pencarian jati diri remaja melalui pergulatan emosional dan sosial. Sementara itu, deskripsi bentuk mencakup skenario penyajian, uraian gerak, pola lantai, tata rias, busana, properti, tata panggung, cahaya, dan iringan tari. Dengan pendekatan dramatik dan eksplorasi gerak berbasis karakter Bujang Ganong, karya ini dikembangkan melalui gerak, bentuk hingga musik kontemporer yang memperkaya dinamika ekspresi. Mbujang memberikan refleksi perjalanan pendewasaan remaja serta pentingnya menghargai proses dalam menemukan jati diri.
Dari aspek artistik, eksplorasi pola lantai asimetris dalam karya ini melambangkan ketidakseimbangan emosi remaja, sementara variasi pola seperti serempak dan canon menggambarkan interaksi sosial mereka. Musik yang digunakan memadukan gamelan Jawa laras pelog-slendro dengan instrumen modern, mencerminkan pergeseran nilai akibat modernisasi.
Koreografer menemukan bahwa Mbujang adalah bentuk ungkapan ekspresi perjalanan pencarian identitas yang dihadapi remaja. Dengan memadukan unsur tradisional dan kontemporer, karya ini diharapkan menjadi refleksi bagi individu dalam memahami pentingnya proses menuju kedewasaan serta mengapresiasi setiap pengalaman dalam membentuk karakter mereka.
Kata Kunci: Tari dramatik, visualisasi, pencarian jati diri, remaja, Mbujang, Bujangganong.
The Mbujang dance is a dramatic visualization of the journey of self-discovery among adolescents, particularly in their efforts to exercise self-control and transition from negative to positive influences. By exploring movements inspired by the character of Bujang Ganong from the Reyog Ponorogo art form, this work portrays the emotional and social struggles that adolescents experience in their maturation process.
Several other dance works also explore empirical experiences, such as Buruh Tubuh by Dani S. Budiman (2022), Tubuh Cantrik by Sulaiman (2023), and Doxa by Rezky Febriantoro (2021). However, Mbujang places greater emphasis on the search for individual identity. The choreographic method employed follows Jacqueline Smith’s "Construction I" theory, which aids the choreographer in systematically structuring the dance composition. The creative process involves stages starting from initial stimuli, dance type, presentation mode, improvisation, evaluation, selection, and motif.
The written analysis of Mbujang encompasses content and form descriptions. In terms of content, the work highlights the adolescent journey of self-discovery through emotional and social struggles. Meanwhile, the form description includes aspects such as performance scenarios, movement descriptions, floor patterns, makeup, costumes, props, stage design, lighting, and musical accompaniment. With a dramatic approach and movement exploration based on the Bujang Ganong character, this piece is developed through dynamic movement, form, and contemporary music, enriching its expressive nuances. Mbujang serves as a reflection on the maturation journey of adolescents and underscores the importance of valuing the process of self-discovery.
From an artistic perspective, the exploration of asymmetrical floor patterns in this work symbolizes the emotional instability of adolescents, while variations such as synchronized and canon movements depict their social interactions. The accompanying music combines Javanese gamelan in laras pelog-slendro with modern instruments, reflecting the shifting values brought about by modernization.
The choreographer finds that Mbujang is an expressive representation of the identity-seeking journey faced by adolescents. By blending traditional and contemporary elements, this work is expected to serve as a reflection for individuals in understanding the importance of the maturation process and appreciating each experience in shaping their character.
Keywords: Dramatic dance, visualization, self-discovery, adolescence, Mbujang, Bujang Ganong.