Penelitian ini bertujuan untuk memahami pemaknaan peserta
didik terhadap pilar menghormati dalam Program Pendidikan
Budi Pekerti (PBP) berbantuan kertas amatan di SMK Wijaya Putra
Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif
deskriptif dengan subjek peserta didik kelas XI, guru, wali kelas,
dan pengelola PBP. Data diperoleh melalui wawancara mendalam,
observasi, dan dokumentasi, serta diuji keabsahannya melalui
triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pilar
menghormati dimaknai peserta didik sebagai kepatuhan terhadap
aturan sekolah, sikap sopan santun dalam interaksi sosial, dan
kemampuan mengendalikan diri, namun pemaknaan tersebut
masih berada pada tataran normatif dan administratif serta belum
sepenuhnya terinternalisasi sebagai kesadaran moral. Perspektif
pendidikan karakter Thomas Lickona memperlihatkan bahwa
perkembangan moral knowing, moral feeling, dan moral action
belum berlangsung secara seimbang karena motivasi peserta didik
masih didominasi faktor eksternal seperti rasa takut terhadap
konsekuensi dan penilaian sekolah. Kertas amatan berfungsi
sebagai instrumen reflektif yang berpotensi menumbuhkan
kesadaran diri peserta didik, meskipun dalam praktiknya sering
dipersepsikan sebagai alat kontrol perilaku. Faktor pendorong
penumbuhan sikap menghormati meliputi konsistensi
iii
pembiasaan nilai, pendekatan humanis guru dan wali kelas,
dukungan orang tua, serta sistem pengamatan yang terstruktur,
sementara faktor penghambat mencakup minimnya kesadaran
internal, pengaruh kelompok sebaya, budaya praktik yang
maskulin, serta ketidakkonsistenan penerapan aturan. Penelitian
ini menegaskan bahwa pemaknaan peserta didik terhadap pilar
menghormati terbentuk melalui interaksi antara pengalaman
personal, mekanisme program, dan konteks sosial sekolah.
Kata Kunci : Pemaknaan peserta didik, Pilar menghormati,
Pendidikan budi pekerti, Kertas amatan, Refleksi perilaku
This study aims to understand students’ meaning-making of the
respect pillar in the Character Education Program (Pendidikan Budi
Pekerti/PBP) assisted by observation sheets at SMK Wijaya Putra
Surabaya. This research employed a descriptive qualitative approach
involving eleventh-grade students, teachers, homeroom teachers, and
PBP program administrators as research subjects. Data were collected
through in-depth interviews, observations, and documentation, and data
validity was ensured through technique triangulation. The findings
indicate that students interpret the respect pillar as obedience to school
rules, politeness in social interactions, and the ability to exercise selfcontrol. However, such interpretations remain at a normative and
administrative level and have not been fully internalized as moral
awareness. From the perspective of Thomas Lickona’s character education
framework, the development of moral knowing, moral feeling, and moral
action has not progressed in a balanced manner, as students’ motivation
is still predominantly influenced by external factors such as fear of
consequences and school evaluation. The observation sheet functions as a
reflective instrument with the potential to foster students’ self-awareness,
although in practice it is often perceived as a tool for behavioral control.
Supporting factors in fostering respect include consistency in value
habituation, a humanistic approach adopted by teachers and homeroom
teachers, parental support, and a structured observation system, while
inhibiting factors include limited internal awareness, peer group
v
influence, masculine practice culture, and inconsistency in rule
enforcement. This study emphasizes that students’ meaning-making of
the respect pillar is shaped through the interaction of personal
experiences, program mechanisms, and the school’s social context.
Keywords : Students’ meaning-making, Value of respect, Character
education, Observation sheets, Behavioral reflection