ABSTRAK
Moh Nurman, 2025. Praktik Biliterasi dan Identitas Sosial Budaya pada Pembelajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL) di Pondok Pesantren Indonesia (studi kasus di MAN PK MAN 4 Jombang, Jawa Timur). Disertasi . Program Doktor, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya.
Pengajaran dwibahasa di Indonesia memiliki potensi besar dalam meningkatkan keterampilan Bahasa Inggris siswa. Akan tetapi, implementasinya menghadapi keterbatasan sumber daya, kesiapan guru, dan dukungan dari lingkungan sekolah dan keluarga. Dengan mengatasi tantangan-tantangan ini, pengajaran dwibahasa pada pengembangan keterampilan Bahasa Inggris siswa di Indonesia. Dwibahasa dan literasi (Biliterasi) menjadi aset penting. Pendekatan biliterasi dianggap sebagai pendekatan terbaik untuk mengajar pembelajar bahasa Inggris bahasa asing (EFL). Praktik pengajaran biliterasi secara signifikan meningkatkan keterampilan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis siswa. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menemukan praktik pengajaran terbaik untuk mengajar pembelajar EFL melalui praktik Biliterasi dan pendekatan identitas sosiokultural di sebuah sekolah asrama. 1 bagaimana implementasi praktik Biliterasi dan identitas sosiokultural di kalangan pembelajar EFL di sekolah dan di luar sekolah (asrama) MAN PK MAN 4 Denanyar Jombang? bagaimana persepsi guru dan siswa dalam implementasi Praktik biliterasi dan pendekatan identitas sosiokultural di kalangan Pembelajar EFL di sekolah dan Asrama MAN PK MAN 4 Denanyar Jombang?
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif untuk mengeksplorasi praktik biliterasi di sekolah dan di luar sekolah (Asrama). Partisipan utama dalam penelitian ini adalah siswa kelas sepuluh hingga dua belas MAN PK MAN 4. Data dikumpulkan selama satu tahun ajaran di sekolah, asrama siswa, dan berbagai acara melalui observasi partisipan, catatan lapangan dari hasil observasi, wawancara semi terstruktur, dan percakapan terbuka dengan siswa, guru, dan kepala sekolah; interaksi siswa-siswa dan siswa-guru yang direkam dalam audio dan video; serta pengumpulan dan analisis artefak literasi. Analisis dalam kasus dan lintas kasus dilakukan, dan tiga tema utama diidentifikasi sebagai faktor signifikan yang mendukung keberhasilan perkembangan bahasa dan literasi serta identitas positif siswa bilingual ini sebagai pembelajar bahasa.
Temuan penelitian mengungkapkan bahwa praktik biliterasi pertama dan identitas sosial budaya di MAN PK MAN 4 Denanyar Jombang secara signifikan meningkatkan keterampilan berbicara, mendengarkan, membaca, dan menulis siswa. Selain itu, metode ini juga meningkatkan kepercayaan diri dan motivasi siswa, yang pada akhirnya mendukung keberhasilan akademis mereka. Praktik biliterasi di sekolah telah berhasil mencapai ketiga tahap implementasinya. Tiga tahap program Biliterasi adalah pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Selain menumbuhkan identitas sosial budaya di Pesantren, ketiga fase ini berupaya untuk meningkatkan kemampuan literasi siswa, termasuk pemahaman teks, kemampuan berpikir kritis, dan kemampuan untuk mengelola dan memproses keterampilan komunikasi kreatif dengan membaca teks. Selain itu, praktik Biliterasi telah terbukti membantu siswa memperkaya kosakata bilingual mereka dan meningkatkan antusiasme mereka dalam membaca dan menulis, menurut pendapat guru dan siswa.
Agar siswa dapat berpartisipasi aktif dalam penerapan Praktik Biliterasi, baik di dalam maupun di luar kelas, penelitian ini akan membantu guru dan siswa memahami keuntungan dan dampak biliterasi. Lebih lanjut, rekomendasi bagi para pendidik juga disertakan dalam kesimpulan penelitian. Untuk mengidentifikasi isu biliterasi dalam menulis dan membaca yang tepat bagi siswa, guru harus imajinatif dan inventif. Untuk mendorong siswa membaca dan menulis, guru harus membiarkan mereka memilih buku yang ingin mereka baca. Penelitian ini berpotensi bermanfaat bagi sistem pendidikan dalam menciptakan praktik biliterasi yang sukses. Pemahaman yang lebih mendalam tentang praktik bahasa dan literasi siswa bilingual Inggris-Arab akan menjadi kunci dalam membantu siswa ini, sebagai warga dunia masa depan, mengembangkan tingkat kemahiran dwibahasa, prestasi akademik, dan kompetensi antarbudaya setinggi mungkin.
Kata Kunci: Praktik Biliterasi, Identitas Sosial Budaya, Pembelajar Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL), MAN PK MAN 4 Islamic Boarding School