Implementasi Program ATENSI Permakanan Bagi Lanjut Usia Tunggal Di Kecamatan Kembangbahu Kabupaten Lamongan (Studi di Desa Lopang dan Desa Gintungan)
Implementation of the ATENSI Food Assistance Program for Elderly Individuals Living Alone in Kembangbahu District, Lamongan Regency (A Study in Lopang and Gintungan Villages)
Meningkatnya populasi lanjut usia tunggal sebagai kelompok rentan menuntut adanya kebijakan yang efektif dalam pemeuhan kebutuhan dasar, salah satunya melalui Program Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) Permakanan. Program ini diatur dalam Peraturan Menteri Sosial Nomor 7 Tahun 2021 yang bertujuan untuk membantu individu dan kelompok rentan yang membutuhkan dukungan sosial. Namun, dalam pelaksanaannya di tingkat kecamatan masih terdapat kendala administratif dan keterbatasan fasilitas yang berpotensi memengaruhi efektivitas program. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi Program ATENSI Permakanan bagi lanjut usia tunggal di Kecamatan Kembangbahu, Kabupaten Lamongan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan indikator implementasi kebijakan, yaitu komunikasi, sumber daya, disposisi, dan struktur birokrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada indikator komunikasi, proses penyampaian informasi telah berjalan secara berjenjang dari tingkat pusat hingga kecamatan, namun masih terdapat kendala dalam transmisi administratif dan hambatan pemahaman informasi penerima manfaat. Pada indikator sumber daya, kualitas sumber daya manusia tergolong cukup kompeten tetapi sarana dan prasarana pendukung masih terbatas sehingga memengaruhi optimalisasi pelaksanaan program. Dari aspek disposisi, para pelaksana menunjukkan sikap responsif dan memiliki komitmen dalam menyalurkan bantuan secara tepat sasaran. Sementara itu, pada aspek struktur birokrasi, pelaksanaan program telah didukung oleh standar operasional prosedur serta pembagian wilayah kerja yang mendukung koordinasi antar pelaksana. Berdasarkanhasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa implementasi Program ATENSI Permakanan di Kecamatan Kembangbahu telah berjalan cukup baik dan sesuai regulasi program, meskipun masih terdapat kendala administrasi dan keterbatasan fasilitas. Oleh karena itu, diperlukan adanya peningkatan sarana dan prasarana serta penyederhanaan prosedur administratif agar pelaksanaan program dapat berjalan lebih optimal.
Kata Kunci: Implementasi, Program ATENSI Permakanan, Lansia Tunggal.
The increasing population of elderly individuals living alone as a vulnerable group demands the existence of effective policies in meeting basic needs, one of which is through the Social Rehabilitation Assistance Program (ATENSI) Permakanan. This program is regulated under the Minister of Social Affairs Regulation Number 7 of 2021, which aims to assist individuals and vulnerable groups who require social support. However, in its implementation at the sub-district level, there are still administrative obstacles and limited facilities that potentially affect the program's effectiveness. This study aims to analyze the implementation of the ATENSI Permakanan Program for elderly individuals living alone in Kembangbahu Sub-district, Lamongan Regency, as well as to identify factors that influence its implementation. This study uses a qualitative method with a descriptive approach. Data collection techniques are carried out through interviews, observations, and documentation. Data analysis is conducted using policy implementation indicators, namely communication, resources, disposition, and bureaucratic structure. The results show that in the communication indicator, the process of information delivery has been carried out hierarchically from the central government to the sub-district level; however, there are still obstacles in administrative transmission and beneficiaries’ understanding of the information. In the resources indicator, the quality of human resources is considered sufficiently competent, but supporting facilities and infrastructure remain limited, thereby affecting the optimization of program implementation. From the disposition aspect, implementers demonstrate a responsive attitude and a strong commitment to ensuring that assistance is distributed accurately to the intended beneficiaries. Meanwhile, in the bureaucratic structure aspect, program implementation has been supported by standard operating procedures and the division of working areas, which facilitate coordination among implementers. Based on these findings, it can be concluded that the implementation of the ATENSI Food Program in Kembangbahu Sub-district has been carried out fairly well and in accordance with program regulations, although administrative constraints and limited facilities still exist. Therefore, it is necessary to improve facilities and infrastructure and to simplify administrative procedures in order to optimize program implementation.
Keywords: Implementation, ATENSI Food Program, Single Elderly.