Kemampuan bercerita merupakan
salah satu aspek penting dalam perkembangan bahasa anak usia dini. Observasi
awal di PPT Cahaya Mentari, Kelurahan Pakis, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya
menunjukkan bahwa anak usia 3–4 tahun masih mengalami kesulitan dalam
menyampaikan pengalaman secara lisan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
sejauh mana kegiatan bermain gelembung udara (Gelud) dapat meningkatkan
kemampuan bercerita anak usia 3–4 tahun serta mengevaluasi peran guru dalam
mengoptimalkan pembelajaran melalui media tersebut. Penelitian ini menggunakan
metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model spiral Kemmis &
McTaggart yang dilaksanakan dalam tiga siklus, masing-masing terdiri atas tahap
perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Subjek penelitian berjumlah
10 anak, terdiri dari lima anak laki-laki dan lima anak perempuan.
Data dikumpulkan melalui teknik observasi dan
dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas guru
mengalami peningkatan dari 60% pada siklus I, menjadi 87% pada siklus II, dan
mencapai 95% pada siklus III. Kemampuan bercerita anak juga menunjukkan
peningkatan signifikan, baik dalam aspek menceritakan pengalaman secara
sederhana (62,5% pada siklus I, 82,5% pada siklus II, dan 95% pada siklus III),
maupun dalam menceritakan kembali cerita secara urut dengan kata-kata sendiri
(60% pada siklus I, 75% pada siklus II, dan 90% pada siklus III). Secara keseluruhan, peningkatan kemampuan bercerita anak mencapai 70%
pada siklus I, 80% pada siklus II, dan 90% pada siklus III. Temuan ini
menunjukkan bahwa media Gelud efektif digunakan sebagai alternatif pembelajaran
yang menyenangkan untuk menstimulasi perkembangan bahasa anak, khususnya dalam
kemampuan bercerita secara sederhana dan terstruktur. Peran aktif guru dalam
merancang kegiatan yang eksploratif dan memberikan stimulus melalui pertanyaan
pemantik turut mendukung keberhasilan program ini.
Kata Kunci: Kemampuan Bercerita, Bermain Gelembung Udara (Gelud), Anak
Usia 3–4 Tahun, Aktivitas Guru