Analisis IMPERATIF TIDAK LANGSUNG BAHASA JEPANG DALAM Manga Kimetsu no Yaiba ( 鬼滅の刃 ) Episode 7 DAN 8 karya Koyoharu Gotouge
AN ANALYSIS OF INDIRECT IMPERATIVES IN JAPANESE IN KIMETSU NO YAIBA MANGA EPISODES 7 AND 8 BY KOYOARU GOTOUNGE
Kata Kunci: pragmatik, imperatif tidak langsung, bentuk, fungsi, manga, Kimetsu no Yaiba.
Bahasa berperan penting sebagai sarana komunikasi, salah satunya melalui tindak tutur imperatif yang bertujuan memengaruhi mitra tutur agar melakukan tindakan tertentu. Jika penelitian sebelumnya lebih banyak menelaah imperatif dalam anime, lagu, dan novel, penelitian ini berfokus pada manga yang masih jarang dikaji, yakni Kimetsu no Yaiba episode 7 dan 8 karya Koyoharu Gotouge. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk dan fungsi tuturan imperatif tidak langsung dalam manga tersebut. Penulis menggunakan teori dari Wijana untuk mengklasifikasikan bentuk tuturan imperatif tidak langsung, kemudian ditindak lanjuti menggunakan teori Chaer untuk bentuk deskriptif dan teori Rahadi untuk bentuk introgatif. Selanjutnya, pada klasifikasi fungsi (makna) dasar tuturan imperatif tidak langsung, penulis menggunakan teori dari Kashiwazaki yang mengklasifikasikan fungsi berdasarkan skala untung-rugi dan skala pilihan.
Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan data berupa dialog tokoh yang diperoleh melalui teknik simak dan catat. Analisis dilakukan berdasarkan klasifikasi bentuk deklaratif dan interogatif, kemudian ditindaklanjuti dengan klasifikasi fungsi pragmatik. Hasil penelitian menunjukkan 31 data bentuk tuturan imperatif tidak langsung yang terdiri atas bentuk deklaratif sejumlah 22 data dan bentuk interogatif sejumlah 9 data dengan bentuk deklaratif sebagai bentuk yang sering muncul. Kemudian Dari segi fungsi, ditemukan tiga kategori utama yaitu fungsi permintaan sebanyak 7 data, nasihat/rekomendasi sebanyak 7 data, dan perintah sebanyak 17 data dengan perintah sebagai fungsi dominan. Temuan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pada kajian pragmatik, khususnya analisis tuturan imperatif tidak langsung dalam karya sastra Jepang seperti manga.
Keywords: pragmatics, indirect imperative, forms, functions, manga, Kimetsu no Yaiba
Language plays an important role as a means of communication, one of which is through imperative speech acts aimed at influencing the interlocutor to perform certain actions. While previous studies have mostly examined imperatives in anime, songs, and novels, this research focuses on manga, which has been less explored, namely Kimetsu no Yaiba episodes 7 and 8 by Koyoharu Gotouge. The purpose of this study is to describe the forms and functions of indirect imperative speech acts in the manga. The researcher employed theories from Wijana to classify the forms of indirect imperative speech acts, followed by Chaer’s theory for descriptive forms and Rahadi’s theory for interrogative forms. Furthermore, to classify the basic functions (meanings) of indirect imperative speech acts, Kashiwazaki’s theory was used, which categorizes functions based on profit–loss and choice scales.
This research applied a qualitative descriptive method with data consisting of character dialogues collected through observation and note-taking techniques. The analysis was carried out based on declarative and interrogative forms, which were then further classified according to their pragmatic functions. The findings reveal 31 data of indirect imperative speech acts, consisting of 22 declarative forms and 9 interrogative forms, with declaratives being the most dominant. In terms of functions, three main categories were identified: requests (7 data), advice/recommendations (7 data), and commands (17 data), with commands as the dominant function. These results are expected to contribute to the study of pragmatics, particularly the analysis of indirect imperative speech acts in Japanese literary works such as manga.