TRADHISI ZIARAH MAKAM KYAI AGENG MUHAMMAD BESARI ING DESA TEGALSARI KECAMATAN JETIS KABUPATEN PONOROGO (TINTINGAN FOLKLOR)
Budaya dan Tradisi yang berkembang ditengah masyarakat jawa banyak jenisnya, khususnya di Ponorogo yaitu Desa Tegalsari Kecamatan Jetis. Ada sebuah Tradisi Ziarah Makam Kyai Ageng Muhammad Besari yang dilaksnakan oleh masyarakat Desa Tegalsari dan masyarakat umum. Tradisi yang dilaksanakan oleh masyarakat setiap bulan selo satu tahun sekali, tetapi untuk masyarakat diluar Desa Tegalsari tidak ada pathokan wajib waktu dan harinya, akan tetapi masyarakat paling banyak mengunjungi dihari kamis legi atau malem jumat dan peziarah dari luar daerah Ponorogo dihabi libur atau sabtu minggu. Tradisi ziarah termasuk folklor setengah lisan yang mempunyai empat rumusan masalah yaitu 1) Asal mula TZMKAMB, 2) Urut-urutan atau rantaman adicara TZMKAMB, 3) keperluan dan Makna keperluan TZMKAMB, 4) Tujuan peziarah melaksnakan TZMKAMB. Tujuan dalan penelitian yaitu menjelaskan seperti apa asal mula tradisi ziarah makam kyai ageng Muhammad Besari, kedua yaitu menjelaskan keperluan dan makna dari keperluan TZMKAMB, ketiga yaitu menjelaskan seperti apa runtutan acara TZMKAMB dan yang terakhir yaitu menjelaskan tujuan dari peziarah melaksanakan Tradisi Ziarah Makam Kyai Ageng Muhammad Besari. dan selain itu peneliti tradisi juga diharapkan bisa memberikan pengetahuan kepada warga desa dan peneliti tentang makna yang lebih dalam TZMKAMB
Menurut penelitian ini, TZMKAMB merupakan tradisi yang sudah ada sejak tahun wafatnya KAMB yaitu tahun 1747, banyak santri yang berziarah ke makam untuk mendoakan gurunya. Dari tahun ke tahun semakin banyak santri yang berziarah ke makam KAMB, dan sejak saat itu menurut cerita menjadi tradisi tahunan yang wajib dilaksanakan oleh masyarakat Tegalsari dengan tujuan sebagai rasa syukur wujud penghormatan kepada leluhur khususnya kakek Kyai Ageng Muhammad Besari beserta keturunannya. Tata cara pada saat TZMKAMB terbagi menjadi 3 yaitu (1) Titi siyaga, (2) Titi Laksana, (3) Titi wasana. Pada saat titi siyaga masih terbagi lagi menjadi 2 yaitu (1) Musyawarah, (2) Gotong Royong, pada saat titi laksana yaitu (1) Tahlil dan ambengan, (2) Ziarah Makam, sedangkan titi wasana yaitu pembubaran panitia. Dan pada TZMKAMB ini penggunaan Tumpeng, bunga setaman dan ambeng yang memiliki makna tumpeng merupakan bentuk rasa terima kasih masyarakat kepada KAMB karena telah menjadikan Desa Tegalsari menjadi maju seperti ini, bunga setaman melambangkan kehadiran KAMB di tengah masyarakat, ambeng melambangkan bentuk amal shaleh yang diamalkan oleh masyarakat Tegalsari. Peneliti juga membahas mengenai amal shaleh yang diamalkan oleh masyarakat luar Desa Tegalsari berdasarkan hasil observasi dan wawancara, data yang diperoleh menunjukkan bahwa amal shaleh yang diamalkan oleh masyarakat umum hanya untuk tujuan persembahyangan ke makam saja, tidak ada ritual khusus yang harus dipraktikkan. Peneliti juga membahas mengenai tujuan para peziarah dalam melaksanakan ziarah ke Makam Kyai Ageng Muhammad Besari, data yang diperoleh menunjukkan bahwa tujuan para peziarah berbeda-beda namun kebanyakan adalah untuk tujuan menikah, bekerja, menempuh pendidikan dan hiburan.
Kata kunci : Folklor, Tradisi, Ziarah Makam, Kyai Ageng Muhammad Besari.
Culture and Traditions that develop in the midst of Javanese society are of many types, especially in Ponorogo, namely Tegalsari Village, Jetis District. There is a TZMKAMB which is carried out by the people of Tegalsari Village and the general public. The tradition is carried out by the community every month once a year, but for people outside Tegalsari Village there is no mandatory time and day, but most people visit on Thursday Legi or Friday night and pilgrims from outside Ponorogo on holidays or Saturdays and Sundays. The pilgrimage tradition is a semi-oral folklore that has four problem formulations, namely (1) The origin of the Pilgrimage TZMKAMB, (2) The sequence or sequence of the pilgrimage TZMKAMB, (3) The need and meaning of the need for the Pilgrimage TZMKAMB, (4) The purpose of pilgrims carrying out the Pilgrimage TZMKAMB. The purpose of this research is to explain the origin of the TZMKAMB, secondly to explain the need and meaning of the need for the Pilgrimage TZMKAMB, thirdly to explain the sequence of events of the Pilgrimage TZMKAMB and the last is to explain the purpose of pilgrims carrying out the Pilgrimage TZMKAMB. and besides that, researchers of tradition are also expected to be able to provide knowledge to villagers and researchers about the deeper meaning of the Pilgrimage TZMKAMB.
According to this research, the TZMKAMB is a tradition that has existed since the year of KAMB's death, namely in 1747, many students made pilgrimages to the tomb to pray for their teacher. From year to year, more and more students made pilgrimages to the tomb of KAMB, and since then, according to the story, it has become an annual tradition that must be carried out by the Tegalsari community with the aim of expressing gratitude as a form of respect for ancestors, especially grandfather Kyai Ageng Muhammad Besari and his descendants. The procedures for TZMKAMB are divided into 3, namely (1) Titi siyaga, (2) Titi Laksana, (3) Titi wasana. At the time of titi siyaga it is still divided into 2, namely (1) Deliberation, (2) Mutual Cooperation, at the time of titi laksana, namely (1) Tahlil and ambengan, (2) Pilgrimage to the Tomb, while titi wasana is the dissolution of the committee. And in this TZMKAMB the use of Tumpeng, setaman flowers and ambeng which have the meaning of tumpeng is a form of gratitude from the community to KAMB for making Tegalsari Village advanced like this, setaman flowers symbolize the presence of KAMB in the community, ambeng symbolizes the form of good deeds practiced by the Tegalsari community. The researcher also discussed the good deeds practiced by people outside Tegalsari Village based on the results of observations and interviews, the data obtained showed that the good deeds practiced by the general public were only for the purpose of praying to the tomb, there were no special rituals that had to be practiced. The researcher also discussed the purpose of the pilgrims in carrying out the pilgrimage to the Tomb of Kyai Ageng Muhammad Besari, the data obtained showed that the purposes of the pilgrims were different but most were for the purpose of getting married, working, pursuing education and entertainment.
Keywords : Folklore, Tradition, Grave pilgrimage, Kyai Ageng Muhammad Besari.