PROSES KOLABORATIF DALAM POLA KONDUSIFITAS PENGAMANANPILKADA SERENTAK 2024 DI KABUPATEN SAMPANG
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menciptakan situasi kondusif dalampelaksanaan Pilkada Serentak 2024 di Kabupaten Sampang yang memiliki dinamikasosial-politik kompleks. Kolaborasi antar aktor pengamanan menjadi kunci dalammenjaga stabilitas selama tahapan Pilkada. Penelitian ini bertujuan menganalisis proseskolaborasi antar aktor keamanan seperti Polres, Kodim 0828, ormas, media, danmasyarakat. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi kasus,serta teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi.Analisis dilakukan secara tematik berdasarkan teori Collaborative Governance dari Anselldan Gash (2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada indikator starting conditions,terdapat ketimpangan sumber daya antara aktor negara dan non-negara, namundimitigasi melalui modal sosial seperti peran NU dan media. Pada face-to-face dialogue,intensitas pertemuan tinggi, tetapi partisipasi substansial ormas dan media masihterbatas. Commitment to process terlihat dari kehadiran forum, namun belum diimbangidengan kontribusi setara. Shared understanding terbangun pada tujuan umum keamanan,namun masih lemah dalam aspek teknis. Facilitative leadership dijalankan oleh KPU danBawaslu, meski belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Institutional design belumkuat karena absennya forum permanen dan koordinasi masih informal. Outcomesmenunjukkan Pilkada berjalan aman, partisipasi masyarakat meningkat, dan media aktifmenangkal hoaks, meski kesadaran politik kritis masih rendah. Temuan utamamenunjukkan kolaborasi konstruktif namun belum terlembagakan. Saran utama adalahpembentukan forum kolaborasi permanen berbasis regulasi serta peningkatan edukasipolitik partisipatif masyarakat.Kata kunci: kolaborasi, pengamanan, Pilkada Serentak, Collaborative governance.
This study is motivated by the importance of creating a conducive situation during the 2024Simultaneous Regional Elections (Pilkada) in Sampang Regency, a region with complex sociopolitical dynamics. Collaborative efforts among security actors are essential in maintainingstability throughout the election stages. This study aims to analyze the collaboration processbetween key stakeholders such as the Police (Polres), Military (Kodim 0828), communityorganizations, media, and the public. The research uses a qualitative case study approach withdata collected through in-depth interviews, observation, and documentation. Data were analyzedthematically based on Ansell and Gash's (2008) Collaborative Governance framework. Thefindings show that under the starting conditions indicator, collaboration began with resourceimbalances between state and non-state actors, mitigated by existing social capital, particularlythe roles of NU and local media. In face-to-face dialogue, formal meetings were frequent, butsubstantial involvement of non-state actors remained limited. Commitment to process was evidentthrough attendance in forums, though equal contributions were lacking. Shared understandingwas built around common security goals, yet technical alignment was weak. Facilitative leadershipwas exercised by KPU and Bawaslu, supporting community initiatives but lacking grassrootsoutreach. The institutional design remained weak due to the absence of a permanent collaborativeforum and reliance on informal coordination. Under outcomes, the election proceeded peacefully,public participation increased, and media effectively countered misinformation, although criticalpolitical awareness remained low. The main finding indicates that cross-sector collaboration wasconstructive but not yet institutionalized. The study recommends establishing a permanent,regulation-based collaboration forum and enhancing participatory political education in thecommunity.Keywords: collaboration, security, simultaneous regional elections, collaborative governance.