Rumah Sakit Zending Sukun Di Kota Malang Tahun 1928-1942
Zending Hospital in Malang from 1928 to 1942
Rumah sakit merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki peran penting dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan lembaga pelayanan kesehatan yang melaksanakan pelayanan kesehatan secara paripurna serta menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, gawat darurat, pelatihan, penelitian. Kota Malang mulai berkembang setelah dibangun jalan trem kereta pada tahun 1879, namun fasilitas penunjang kesehatan seperti rumah sakit terbatas untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di Kota Malang.
Penelitian ini membahas tentang Rumah Sakit Zending Sukun di Kota Malang pada tahun 1928-1942. Latar belakang penelitian ini didasarkan pada kondisi pelayanan kesehatan di Kota Malang pada masa kolonial Hindia Belanda yang masih terbatas dan cenderung tidak merata, terutama bagi masyarakat bumiputra. Rumah sakit milik pemerintah kolonial pada umumnya lebih memprioritaskan kalangan Eropa dan pegawai pemerintah, sehingga masyarakat bumiputra sering mengalami kesulitan dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut mendorong kalangan zendeling dari Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) untuk mendirikan Rumah Sakit Zending Sukun sebagai alternatif pelayanan kesehatan yang lebih terbuka bagi semua lapisan masyarakat.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang berdirinya Rumah Sakit Zending Sukun di Kota Malang serta perkembangan rumah sakit tersebut pada kurun waktu 1928–1942. Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah yang meliputi tahap heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber-sumber penelitian diperoleh dari arsip, laporan tahunan rumah sakit, surat kabar kolonial, buku, dan karya ilmiah yang relevan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendirian Rumah Sakit Zending Sukun dilatarbelakangi oleh keterbatasan sarana kesehatan terutama untuk masyarakat bumiputra di Kota Malang membuka ruang bagi peran zending Nederlandsch Zendeling Genootschap dalam bidang kesehatan di Kota Malang. Didukung oleh pemerintah Kota Malang pada masa itu, pihak Nederlandsch Zendeling Genootschap mendirikan Rumah Sakit Zending di jalan Soekoen Straat dan menjadi Rumah Sakit Zending Sukun.
Dalam perkembangannya, Rumah Sakit Zending Sukun dipimpin tiga direktur, yaitu dr. Nortier pada tahun 1928-1929 yang meletakkan fondasi dasar untuk manajemen pelayanan di Rumah Sakit Zending Sukun, dr. J.P. de Jong pada tahun 1930-1940 yang mengalami perluasaan rumah sakit serta melakukan kerja sama dengan pemerintah Kota Malang, dan dr. J. Lodder pada tahun 1940-1942 yang memimpin pada tahun-tahun krisis Rumah Sakit Zending Sukun akibat perang berkecamuk di Eropa yang mengakibatkan berhentinya subsidi untuk rumah sakit. Rumah Sakit Zending Sukun menerapkan pelayanan kesehatan yang bersifat non-profit dan tidak menjadikan pelayanan medis sebagai sarana utama pekabaran Injil. Pada tahun 1942, keberadaan Rumah Sakit Zending Sukun berakhir setelah diambil alih oleh Jepang dan dijadikan rumah sakit negara.
Kata kunci: Rumah Sakit Zending Sukun, pelayanan kesehatan, Kota Malang.
Hospitals are one of the health care facilities that play an important role in improving the health status of the community and health care institutions that provide comprehensive health care services and provide inpatient, outpatient, emergency, training, and research services. The city of Malang began to develop after the construction of a tramway in 1879, but health support facilities such as hospitals were limited to meet the health care needs in the city of Malang.
This study discusses the Zending Sukun Hospital in Malang City from 1928 to 1942. The background of this study is based on the limited and uneven health services in Malang City during the Dutch East Indies colonial period, especially for the native population. Colonial government hospitals generally prioritized Europeans and government employees, so that the native population often had difficulty obtaining health services. These conditions prompted missionaries from the Nederlandsch Zendeling Genootschap (NZG) to establish the Zending Sukun Hospital as an alternative health service that was more open to all levels of society.
This study aims to determine the background of the establishment of the Zending Sukun Hospital in Malang City and the development of the hospital during the period 1928–1942. The research method used was the historical method, which included the stages of heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. Research sources were obtained from archives, hospital annual reports, colonial newspapers, books, and relevant scientific works.
The results of the study show that the establishment of the Zending Sukun Hospital was motivated by the limited health facilities, especially for the native community in Malang City, which opened up opportunities for the Nederlandsch Zendeling Genootschap to play a role in the health sector in Malang City. Supported by the Malang City government at that time, the Nederlandsch Zendeling Genootschap established the Zending Hospital on Soekoen Straat, which became the Zending Sukun Hospital.
In its development, the Zending Sukun Hospital was led by three directors, namely Dr. Nortier in 1928-1929, who laid the foundation for service management at the Zending Sukun Hospital, Dr. J.P. de Jong in 1930-1940, who expanded the hospital and collaborated with the Malang City government, and Dr. J. Lodder from 1940 to 1942, who led the hospital during its crisis years due to the war raging in Europe, which resulted in the cessation of subsidies for the hospital. Zending Sukun Hospital provided non-profit health services and did not use medical services as the main means of spreading the gospel. In 1942, the existence of the Zending Sukun Hospital ended after it was taken over by Japan and turned into a state hospital.
Keywords: Sukun Zending Hospital, health services, Malang City.