KONFLIK BATIN DRUPADI PADA KARYA TARI
PAWITRANING DRUPADI
DRUPADI’S INNER CONFLICT IN DANCE WORKS
Kata Kunci: drupadi, dramatik, konflik batin.
Karya Tari Pawitraning Drupadi merupakan visualisasi dari konflik batin yang dialami oleh tokoh Drupadi dalam cerita Mahabarata versi India. Dalam cerita Mahabarata terdapat beberapa babak cerita salah satunya mengkisahkan kemalangan yang dialami oleh tokoh Drupadi. Yaitu ketika rambutnya ditarik oleh Dursasana yang kemudian memunnculkan bentuk ekpsresi dan reflek tubuh yang menggambarkan perasaan tokoh Drupadi. Fokus pada karya tari ada 2 variabel yaitu variabel isi dan bentuk. Variabel isi fokus yang diambil dari fenomena tersebut adalah ekspresi dan tingkah laku yang muncul akibat perisitiwa yang terjadi pada dirinya dan menyebabkan kehormatannya (rambut) ternodai dan memunculkan konflik batin. Kemudian variabel bentuk pada karya tari ini ialah tipe tari dramatik yang dimunculkan melalui pengaturan pola lantai atau keruangan penari, rangakaian gerak, serta iringan. Mode penyajian yang digunakan yaitu represetatif simbolis dengan pola gerak yang diambil dari kehidupan nyata yang kemudian dikembang menjadi rangkaian gerak gaya Jawa Timuran dengan ciri khas koreografer gerak stakato atau patah-patah.
Pada karya tari ini koreografer menggunakan pendekatan Metode Konstruksi I Jacqueline Smith dalam proses penciptaan karya tarinya. Metode Konstruksi I tersebut meliputi rangsang awal, penentuan tipe tari, penentuan mode penyajian, improvisasi, evaluasi improvisasi, seleksi dan penghalusan, serta motif. Kemudian teori yang digunakan dalam pembentukan koreografi adalah keutuhan, repetisi, variasi, transisi, keseimbangan, klimaks, dan rangkaian yang disesuaikan dengan teori konflik batin dan teori koreografi kelompok guna untuk memunculkan susana dan isi. Bentuk penyajian yang dipilih ialah panggung terbuka dengan menggunakan skenario, desain dramatik, tata rias dan busana, gerak, iringan tari, dan pola lantai.
Hasil dari karya tari Pawitraning Drupadi adalah munculnya suasana yang berbeda pada tiap adegannya yang merupakan hasil dari pengaturan bentuk keruangan atau pola lantai penari, rangkaian gerak dan ekspresi, serta iringan tari. Adegan pertama menggambarkan ketengan dan kesedihan, adegan dua menggabarkan suasana yang gembira, adegan tiga menggambarkan kegelisahan, adegan empat meggambarkan kesedihan dan kekecewaan, serta adegan lima menggambarkan kemarahan. Rangkaian gerak yang digunakan sudah menyimbolkan beberapa perisitiwa yang dapat ditangkap secara sekilas. Hal ini disebabkan pengulangan gerak maupun rangkaian gerak dramatis. Karya tari ini dipentaskan dipanggung terbuka yang ada di halaman Monumen Bantarangin Ponorogo, dan diujikan secara virtual sesuai dengan kebijakan kampus terkait kondisi saat ini akibat menyebarnya virus Covid-19. Hasilnya berupa video dokumenter yang sudah di edit untuk menyesuaikan pencahayaan dan memperjelas bentuk gerak maupun ekspresi penari dari pengambilan video moving camera.
Kesimpulannya, terdapat penemuan baru dari penggunaan video dokumenter dalam pertunjukan karya tari ini. Dimana perlu di perhatikan beberapa aspek salah satunya editing yang digunakan menguntungkan pemunculan suasana atau hanya sebagai hiasan saja. Selain itu, dalam menggambarkan atau menyimbolkan suatu perasaan tidak melulu direalisasikan dalam rangkaian gerak yang rumit, melainkan dapat dimunculkan melalui gerak sederhana yang dapat menggambarkan suasana hati.
Keywords: drupadi, dramatic, inner conflict.
The Pawitraning Drupadi dance work is a visualization of the inner conflicts experienced by the Drupadi characters in the Indian version of the Mahabarata story. In the Mahabarata story, there are several story stages, one of which tells of the misfortune experienced by the Drupadi character. Namely when his hair is pulled by Dursasana, which then creates expression and body reflexes that depict the feelings of the Drupadi character. The focus on dance work has 2 variables, namely content and form variables. The focus content variables taken from this phenomenon are expressions and behaviors that arise as a result of events that occur to him and cause his honor (hair) to be tarnished and create inner conflicts. Then the form variable in this dance work is the type of dramatic dance that appears through the arrangement of the dancer's floor or spatial pattern, the sequence of movements, and the accompaniment. The mode of presentation used is symbolic repetitive with motion patterns taken from real life which are then developed into a series of movements in the East Javanese style with choreographed characteristics of stakato or broken movements. In this dance work the choreographer uses the Jacqueline Smith I Construction Method approach in the process of creating his dance works. The first construction method includes initial stimulation, determining the type of dance, determining the mode of presentation, improvising, evaluating improvisation, selecting and refining, and motives. Then the theories used in the formation of choreography are wholeness, repetition, variation, transition, balance, climax, and sequences which are adapted to the theory of inner conflict and group choreography theory in order to bring out the atmosphere and content. The form of presentation chosen is an open stage using scenarios, dramatic designs, make-up and clothing, movements, dance accompaniment, and floor patterns. The result of the Pawitraning Drupadi dance work is the emergence of a different atmosphere in each scene which is the result of the arrangement of the dancer's spatial form or floor pattern, a series of movements and expressions, and dance accompaniment. The first scene depicts calm and sadness, scene two depicts a happy atmosphere, scene three depicts anxiety, scene four depicts sadness and disappointment, and scene five depicts anger. The series of movements used have symbolized several events that can be captured at a glance. This is due to the repetition of motion as well as a dramatic series of motion. This dance work is staged on an open stage in the courtyard of the Bantarangin Ponorogo Monument, and tested virtually in accordance with campus policies regarding current conditions due to the spread of the Covid-19 virus. The result is a documentary video that has been edited to adjust the lighting and clarify the shape of the dancers' movements and expressions from the video moving camera. In conclusion, there are new discoveries from the use of documentary videos in this dance performance. Where it is necessary to pay attention to several aspects, one of which is editing which is used to benefit the appearance of the atmosphere or just as decoration. In addition, in describing or symbolizing a feeling, it is not only realized in a complex series of motion, but can be generated through simple movements that can describe a mood.