Kulit singkong mengandung senyawa fenolik yang dapat memberikan banyak
manfaat, khususnya sebagai antibakteri. Namun, senyawa fenolik pada kulit
singkong ini masih terikat dalam bentuk glikosida sehingga potensinya masih
terbatas. Oleh sebab itu, perlu dilakukan upaya untuk mengolah kulit singkong untuk
memaksimalkan potensinya sebagai antibakteri, salah satunya dengan fermentasi.
Fermentasi merupakan metode untuk mendegradasi ikatan glikosida untuk
membebaskan fenolik bebas. Penelitian ini mengkaji pengaruh lama fermentasi
ekstrak kulit singkong dengan kultur starter Lactobacillus plantarum B1765 terhadap mutu mikrobiologi (total
bakteri asam laktat dan aktivitas antibakteri ), kimia (pH, total asam tertitrasi , kandungan
flavonoid total, dan kandungan fenolik total ),
dan organoleptik (warna, rasa, dan aroma). Fermentasi dilakukan
selama 0, 12, 24, 36, 48, dan 60 jam dengan kultur starter L. plantarum B1765 5% (v/v) pada suhu 37ºC. Total BAL ditentukan
dengan menggunakan metode Total Hitungan Cawan, a ktivitas
a ntibakteri
ditentukan menggunakan metode difusi agar sumuran dengan menentukan zona hambat
yang terbentuk, total asam tertitrasi ditentukan
dengan menggunakan titrasi asam basa, pH ditentukan dengan menggunakan pH
meter,
kandungan flavonoid total ditentukan dengan metode kolorimetri AlCl3 dengan
standar kuersetin, dan kandungan fenolik total ditentukan dengan metode
Folin-Ciocalteu dengan standar asam galat,
sedangkan mutu organoleptik
diuji dengan metode skala hedonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lama
fermentasi dapat meningkatkan total bakteri asam laktat (BAL), Total Asam
Tertitrasi (TAT), menurunkan pH, meningkatkan kandungan flavonoid total dan kandungan fenolik
total, serta dapat meningkatkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa lama fermentasi dapat meningkatkan total BAL hingga 3,33×107
CFU/mL, meningkatkan total asam tertitrasi
hingga 0,202%, menurunkan pH produk hingga 3,26, meningkatkan kandungan fenolik
total hingga 118,237 mg GAE/g, meningkatkan kandungan
flavonoid total hingga 20,149 mg QE/g, dan memiliki aktivitas antibakteri
dengan zona hambat hingga 15,18 mm terhadap bakteri S. aureus dan 14,18 terhadap bakteri E. coli yang termasuk dalam kategori kuat. Lama fermentasi juga
berpengaruh terhadap tingkat kesukaan panelis terhadap warna, aroma, dan rasa
pada produk yang telah difermentasi. Produk ini telah memenuhi Standar Nasional
Indonesia untuk jenis minuman fermentasi dan berpotensi sebagai antibakteri.