Kentrung Jatimenok Lakon Ajisaka: Kajian Etnosemiotika
Ajisaka's Story in Kentrung Jatimenok: An Ethnosemiotic Study
Penelitian ini bertujuan untuk menemukan dan mendeskripsikan ikon, indeks, dan simbol dalam kentrung Jatimenok lakon Ajisaka menggunakan kajian etnosemiotika. Metode penelitian ini mengggunakan metode kualitatif. Sumber datanya adalah tiga teks pertunjukkan kentrung Jatimenok lakon Ajisaka di Desa Tebuireng, Kecamatan Diwek dan Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang. Data dalam penelitian ini adalah semua yang berkaitan dengan ikon, indeks dan simbol. Teknik pengumpulan data menggunakan teknik observasi, wawancara, perekaman, catatan lapangan dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan hermeneutika. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi, FGD (Focus Group Discussion), dan pemeriksaan ahli. Berdasarkan hasil penelitian dirumuskan bahwa kentrung Jatimenok lakon Ajisaka mengandung ikon, indeks, dan simbol. Masing-masing dianalisis menggunakan etnosemiotika untuk menggambarkan hubungan tanda dengan budaya masyarakat dan relevansinya dengan kehidupan modern saat ini. Pertama adalah ikon, ikon dalam kentrung Jatimenok lakon Ajisaka ditemukan tiga jenis ikon, yaitu ikon tipologis, ikon diagramatik, dan ikon metaforis. Ikon tipologis yaitu Antabaga, rujak cengkir, powan dan yatra dinar, Wanadribaya, Medhang Kamulan, dan Aksara Jawa. Sementara itu, ikon diagramatik yang ditemukan adalah baya putih. Ikon metaforis dalam kentrung Jatimenok adalah Bambang Durjana, kitab, Dewi Kurati, Kiai Kures, wit Jati, Ajisaka, Dewata Cengkar, Keris Ajisaka, Dora dan Sembada. Kedua adalah indeks, indeks yang ditemukan diantaranya yaitu Antabaga, rujak cengkir, powan dan yatra dinar, Bambang Durjana, kitab, Dewi Kurati, Kiai Kures, Wanadribaya, wit jati, Ajisaka, Medhang Kamulan, Dewata Cengkar, baya putih, keris Ajisaka, Dora dan Sembada, dan aksara Jawa. Temuan ketiga adalah simbol, simbol yang ditemukan adalah simbol keseimbangan alam, simbol kesepakatan, simbol keserakahan, simbol kepercayaan dan pengetahuan, simbol tanggung jawab dan kepasrahan, simbol pengendalian diri, simbol pengasingan diri, simbol kekuatan, simbol kepemimpinan dan kebijaksanaan, simbol perubahan, simbol kekejaman, simbol transformasi kekuasaan, simbol kepercayaan, simbol tanggung jawab dan kepatuhan, simbol filosofi kehidupan. Implikasi penelitian ini berkontribusi secara teoretis dan praktis. Secara teoretis, penelitian ini memperkaya literatur etnosemiotika dengan pendekatan interdisipliner yang memadukan semiotika dan etnografi, serta menunjukkan bagaimana seni tradisional bertahan di tengah globalisasi. Secara praktis, hasilnya relevan bagi pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal, pelestarian budaya, dan pemanfaatan media digital untuk promosi seni tradisional.
This study aims to identify and describe icons, indices, and symbols in Kentrung Jatimenok with the story of Ajisaka using an ethnosemiotic approach. This research employs a qualitative method. The data sources are three performance texts of Kentrung Jatimenok with the story of Ajisaka, performed in Tebuireng Village, Diwek Subdistrict, and Rejosopinggir Village, Tembelang Subdistrict, Jombang Regency. The data includes all elements related to icons, indices, and symbols. Data collection techniques include observation, interviews, recording, field notes, and documentation. The data analysis technique uses hermeneutics. Data validity is ensured through triangulation techniques, FGD (Focus Group Discussion) and expert reviews. The study's findings conclude that Kentrung Jatimenok with the story of Ajisaka contains icons, indices, and symbols. Each of these elements is analyzed through an ethnosemiotic approach to describe the relationship between signs and the community's culture, as well as their relevance to modern life. The first element is icons, with three types identified: typological icons, diagrammatic icons, and metaphoric icons. Typological icons include Antabaga, rujak cengkir, powan and yatra dinar, Wanadribaya, Medhang Kamulan, and Javanese script (Aksara Jawa). Diagrammatic icons identified include baya putih (white crocodile). Metaphoric icons include Bambang Durjana, kitab (book), Dewi Kurati, Kiai Kures, teak trees (wit jati), Ajisaka, Dewata Cengkar, Ajisaka's dagger (keris), Dora, and Sembada. The second element is index, which include Antabaga, rujak cengkir, powan and yatra dinar, Bambang Durjana, kitab, Dewi Kurati, Kiai Kures, Wanadribaya, teak trees (wit jati), Ajisaka, Medhang Kamulan, Dewata Cengkar, baya putih, Ajisaka's dagger (keris), Dora, Sembada, and Javanese script (Aksara Jawa). The third element Is symbols, categorized as symbols of natural balance, agreement, greed, trust and knowledge, responsibility and surrender, self-control, isolation, strength, leadership and wisdom, transformation, cruelty, power transition, trust, responsibility and obedience, and philosophical life lessons. The implications of this research contribute both theoretically and practically. Theoretically, it enriches ethnosemiotic literature through an interdisciplinary approach that combines semiotics and ethnography, and demonstrates how traditional arts endure amid globalization. Practically, the findings are relevant for developing local wisdom-based curricula, cultural preservation efforts, and the digital promotion of traditional performances.