Kemandirian yang ditunjukkan oleh sebagian besar anak di Kelompok B TK Pertiwi Doyomulyo masih tergolong rendah, dari 13 peserta didik, Ananda EAS merupakan anak dengan kemandirian yang paling menonjol. Komunikasi menjadi salah satu faktor penting dalam menanamkan kemandirian pada anak, melalui komunikasi guru dan orang tua dapat menyampaikan nilai-nilai kemandirian serta memberikan dukungan dan dorongan pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan komunikasi persuasif oleh guru dan orang tua dalam menanamkan kemandirian pada anak. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan berfokus pada penerapan komunikasi persuasif guru dan orang tua serta kemandirian anak di sekolah dan di rumah. Analisis data menggunakan teknik analisis data kualitatif model Miles dan Huberman
Hasil penelitian menunjukkan bahwa guru dan orang tua menerapkan komunikasi persuasif dengan cara yang berbeda namun saling melengkapi. Di sekolah, guru menggunakan pembelajaran menarik dan komunikasi yang menyenangkan untuk mendorong kemandirian anak. Sementara itu, di rumah, orang tua memberikan pengalaman langsung serta komunikasi yang lembut dan emosional agar anak lebih nyaman dan mudah menerima arahan. Guru dan orang tua menerapkan lima tahapan komunikasi persuasif, yaitu attention, interest, desire, decision, dan action, dengan tahapan desire dan action sebagai tahapan paling berpengaruh terhadap perkembangan kemandirian anak.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penerapan komunikasi persuasif yang konsisten berkontribusi pada tingginya kemandirian anak, terutama dalam aspek tanggung jawab, disiplin, dan kemauan berbagi. Namun, guru perlu meningkatkan dorongan dalam aspek kemauan berbagi di sekolah, sedangkan orang tua perlu lebih mendorong aspek tanggung jawab anak di rumah.