Gambaran Body Dissatisfaction pada Model Perempuan Emerging Adulthood
Perkembangan industri berbasis penampilan yang didukung oleh media sosial telah memperkuat standar kecantikan tertentu yang menempatkan tubuh sebagai objek evaluasi sosial dan profesional. Kondisi tersebut meningkatkan kerentanan terhadap body dissatisfaction, khususnya pada perempuan yang berada pada fase emerging adulthood dan bekerja sebagai model. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman yang mendalam mengenai gambaran pengalaman body dissatisfaction pada model perempuan emerging adulthood dalam konteks tuntutan profesional dunia modeling. Pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus multi-subjek digunakan dalam penelitian ini. Partisipan penelitian terdiri atas tiga model perempuan berusia 18–25 tahun yang aktif dalam dunia modeling, baik sebagai model agensi maupun freelance. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur. Analisis data menggunakan model analisis kualitatif Miles dan Huberman yang meliputi tahapan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Analisis dilakukan secara within-case dan cross-case. Hasil penelitian menunjukkan bahwa body dissatisfaction tidak dialami sebagai penilaian global terhadap tubuh, melainkan terfokus pada aspek tubuh tertentu yang memiliki nilai instrumental tinggi dalam dunia modeling. Aspek tersebut meliputi kondisi kulit dan wajah, bentuk dan berat badan, serta tinggi badan. Ketidakpuasan terhadap tubuh memunculkan respons emosional negatif berupa rasa malu, sedih, dan kelelahan mental, serta mendorong upaya kompensasi yang berfokus langsung pada tubuh. Pengalaman body dissatisfaction berlangsung dalam konteks tekanan profesional, perbandingan sosial berbasis penampilan, dan objektifikasi tubuh. Penelitian ini menegaskan bahwa body dissatisfaction pada model perempuan emerging adulthood merupakan fenomena psikososial yang terbentuk melalui interaksi antara tuntutan industri, evaluasi sosial berkelanjutan, dan karakteristik perkembangan emerging adulthood.
The development of appearance-based industries supported by social media has reinforced specific beauty standards that position the body as an object of social and professional evaluation. This condition increases vulnerability to body dissatisfaction, particularly among women in the emerging adulthood phase who work as models. This study aims to obtain an in-depth understanding of experiences of body dissatisfaction among female models in emerging adulthood within the context of professional demands in the modeling industry. A qualitative approach with a multi-subject case study design was employed. Participants consisted of three female models aged 18–25 years who were actively involved in modeling as agency-affiliated or freelance models. Data were collected through semi-structured in-depth interviews. Data analysis followed the Miles and Huberman qualitative analysis model, including data reduction, data display, and conclusion drawing and verification. Analysis was conducted using within-case and cross-case strategies. The findings indicate that body dissatisfaction was not experienced as a global body evaluation but focused on specific body aspects with high instrumental value in modeling. These aspects included skin and facial conditions, body shape and weight, and height. Body dissatisfaction elicited negative emotional responses such as shame, sadness, and mental fatigue and encouraged compensatory efforts focused on the body. Experiences of body dissatisfaction occurred within professional pressure, appearance-based social comparison, and body objectification. This study confirms that body dissatisfaction among female models in emerging adulthood represents a psychosocial phenomenon shaped through the interaction of industry demands, continuous social evaluation, and developmental characteristics of emerging adulthood.