Evaluation of the Surabaya State University's National Potential Young Athlete Training Center Program
Kementrian Pemuda dan Olahraga melakukan pembentukan program pembinaan atlet-atlet muda yang diberikan nama Desain Besan Olahraga Nasional (DBON) yang saat ini terdapat empat sentra dan tersebar di empat universitas yang berada di pulau jawa. Sentra pada program DBON diberikan Sentra Latihan Olahragawan Muda Potensial Nasional. Pada program ini pembinaan yang dilakukan merupakan pembinaan jangka panjang yang ditergatkan untuk Olimpiade 2032, Brisbane, Australia. Penelitian ini hanya berfokus pada Sentra Latihan Olahragawan Muda Potensial Nasional Universitas Negeri Surabaya yang saat ini terdapat 3 (tiga) cabang olahraga dan total memiliki 24 atlet dari seluruh Indonesia. Dalam perkembangan program SLOMPN diperlukan adanya evaluasi secara berkala untuk sebuah kemajuan. Metode penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan desain penelitian yang dipilih adalah model CIPP yang dikembangkan oleh Stufflebeam. Evaluasi menggunakan model CIPP, terdiri dari unsur: context, input, process, dan product. Metode ini sudah divalidasi oleh ahli pakar ilmu keolahragaan. Sampel adalah sebagian populasi yang diambil peneliti untuk diteliti. Sampel yang diambil dalam penelitian ini terdiri dari 3 (tiga) pelatih dari cabang olahraga renang, panahan, dan taekwondo, 1 (satu) perwakilan sekolah yang merupakan wali kelas, dan 6 (enam) atlet yang berasal dari cabang olahraga renang, panahan, dan taekwondo.
Hasil penenlitian menunjukan proses pembinaan prestasi dan akademik pada SLOMPN Universitas Negeri Surabaya pada context, input, process, dan product hanya memerlukan sedikit evaluasi tim dan perbaikan sekaligus penambahan pada sarana dan prasarana yang ada. Pada hasil penelitian juga didapati kendala mengenai surat keputusan atlet, pelatih, dan tenaga pendukung yang membuat belum adanya kejelasan pasti untuk atlet, pelatih, dan tenaga pendukung. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukan bahwa seluruh prorses berjalannya program SLOMPN Universitas Negeri Surabaya sudah berjalan dengan baik, namun masih harus adanya perbaikan mulai dari koordinasi tim, perbaikan dan penambahan sarana prasaranan dan perlunya surat keputusan yang ditujukan untuk atlet, pelatih, dan tenaga pendukung.
The Ministry of Youth and Sports established a program for fostering young athletes which was named the Design of the National Sports Advisory Board (DBON), which currently has four centers spread across four universities on the island of Java. The centers in the DBON program are given the Sentra Latihan Olahragawan Muda Potensial Nasional. In this program the coaching carried out is long-term coaching which is targeted for the 2032 Olympics, Brisbane, Australia. This research only focuses on the Surabaya State University's National Potential Young Athlete Training Center, which currently has 3 (three) sports branches and has a total of 24 athletes from all over Indonesia. In the development of the SLOMPN program, it is necessary to periodically evaluate progress. This research method uses a descriptive qualitative research method with the chosen research design being the CIPP model developed by Stufflebeam. Evaluation uses the CIPP model, consisting of elements: context, input, process, and product. This method has been validated by sports science experts. The sample is part of the population taken by the researcher for research. The samples taken in this study consisted of 3 (three) coaches from swimming, archery, and taekwondo, 1 (one) school representative who was the homeroom teacher, and 6 (six) athletes from swimming, archery, and taekwondo. Taekwondo.
The results of the research show that the process of fostering achievement and academic achievement at SLOMPN Surabaya State University in terms of context, input, process, and product only requires a little team evaluation and improvement as well as additions to existing facilities and infrastructure. The results of the study also found obstacles regarding athlete, coach and support staff decisions which made there was no definite clarity for athletes, coaches and support staff. The conclusion of this study shows that the entire process of running the Surabaya State University SLOMPN program has been going well, but there still needs to be improvements starting from team coordination, repair and addition of infrastructure and the need for decrees aimed at athletes, coaches and support staff.