KAJIAN SOSIOLINGUISTIK: ANALISIS WAKAMONO KOTOBA DALAM ANIME 'MY DRESS UP DARLING'
A SOSILINGUISTIC STUDY: AN ANALYSIS OF WAKAMONO KOTOBA IN THE ANIME MY DRESS UP DARLING
Kata kunci: Wakamono kotoba, anime, My Dress-Up Darling, sosiolinguistik, Ervin Tripp
Penelitian ini secara mendalam mengkaji tindak tutur wakamono kotoba remaja dalam anime My Dress-Up Darling, dengan tujuan utama untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk serta karakteristik wakamono kotoba yang digunakan para tokohnya, sekaligus menganalisis latar sosial yang memengaruhi pengimplementasiannya. Anime ini dipilih karena dinilai merefleksikan dinamika komunikasi remaja Jepang dalam situasi santai yang penuh ekspresi khas generasi muda. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dan observasi partisipatif pasif, penelitian ini mengumpulkan dan mengklasifikasikan data berdasarkan aspek linguistik seperti sosiolinguistik, serta mengaitkannya dengan konteks sosial antar penutur. Analisis dilakukan dengan merujuk pada teori pemilihan ragam bahasa Ervin Tripp yang menekankan pentingnya situasi sosial dalam interaksi verbal. Hasilnya diharapkan dapat memperkaya pemahaman tentang fungsi sosial bahasa slang dalam budaya remaja Jepang sekaligus berkontribusi pada pengembangan kajian sosiolinguistik kontemporer.
Keywords: Wakamono kotoba, anime, My Dress-Up Darling, sociolinguistics, Ervin Tripp
This study explores the speech acts of wakamono kotoba (Japanese youth slang) in the anime My Dress-Up Darling. Its main objectives are to identify the forms and characteristics of wakamono kotoba used by the characters and to analyze the social contexts that influence their use. The anime was chosen for its authentic reflection of Japanese youth communication in casual, expressive settings. Employing a qualitative descriptive method with passive participant observation, the study collects and classifies data based on linguistic and sociolinguistic aspects, linking them to the social context of interaction. The analysis applies Ervin Tripp’s theory of code choice, which emphasizes the role of social situations in verbal interaction. The findings are expected to enrich the understanding of the social functions of slang in Japanese youth culture and contribute to contemporary sociolinguistic studies.