Jalur Kereta Api Madiun-Slahung (Ponorogo) merupakan jalur tua salah satu peninggalan masa penjajahan bangsa Belanda yang salah satunya disebutkan dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS) 2030 untuk dapat direvitalisasi dan diaktifkan kembali bahkan dapat dikembangkan. Namun perlu adanya tinjauan terhadap kelayakan jalur tersebut sebelum jalur dapat diaktifkan dan dioperasikan kembali. Baik dari segi teknis, sosial-ekonomi, lalu-lintas dan kebutuhan masyarakat lokal akan transportasi kereta api. Dalam penelitian ini menggunakan metode campuran (kuantitatif dan kualitatif) dan menggunakan pendekatan analisis kelayakan dan strategi SOAR (Strengths, Opportunities, Aspiration, Result). Data primer diperoleh dari survey kuesioner terhadap 368 sampel responden pengguna angkutan umum bus trayek Madiun - Ponorogo PP untuk mendapatkan pendapat relevan mereka tentang reaktivsi jalur transportasi umum kereta api rute Madiun - Slahung (Ponorogo). Adapun data sekunder diperoleh melalui obeseravsi, dan studi terhadap dokumen-dokumen pendukung penelitian. Analisis menggunakan pembobotan dan Scoring SOAR yang di dapatkan dari pembobotan aspek-aspek penelitian lalu kemudian di lakukan scoring pada masing-masing poin narasi dari SOAR berdasarkan pembobotan pada kriteria aspek penelitian. Hasil analisis dikatakan layak dari aspek sosio-ekonomi. Rekomendasi prototype yang ditawarkan adalah gambar perencanaan blueprint trase jalur alternatif, pada trase jalur alternatif 3 wilayah Ponorogo.
The Madiun-Slahung (Ponorogo) Railway is an old line, one of the legacies of the Dutch colonial period, one of which is mentioned in the 2030 National Railway Master Plan (RIPNAS) so that it can be revitalized and reactivated and can even be developed. However, there needs to be a review of the suitability of the line before the line can be activated and operated again. Both in terms of technical, socio-economic, traffic and local community needs for rail transportation. This research uses mixed methods (quantitative and qualitative) and uses a feasibility analysis approach and SOAR strategy (Strengths, Opportunities, Aspiration, Result). Primary data was obtained from a questionnaire survey of 368 sample respondents using public transport buses on the Madiun - Ponorogo PP route to obtain their relevant opinions regarding the reactivity of the Madiun - Slahung (Ponorogo) rail public transport route. Secondary data was obtained through observation and study of research supporting documents. The analysis uses SOAR weighting and scoring which is obtained from weighting the research aspects and then scoring each narrative point from SOAR based on the weighting of the research aspect criteria. The results of the analysis are said to be feasible from a socio-economic aspect.The prototype recommendation offered is an alternative routeblueprint planning drawing, for the 3 alternative route routes in the Ponorogo area.