Review Artikel : Teknologi Fermentasi L-lisin dan Aplikasinya Sebagai Bahan Aditif Pakan
L-lisin adalah asam amino esensial yang digunakan di berbagai sektor industri makanan, kimia, dan farmasi. L-lisin memiliki nilai komersial yang signifikan sebagai aditif pakan untuk mendorong pertumbuhan dan kesehatan ternak. L-lisin dapat diproduksi melalui dua metode utama yaitu sintesis kimia dan fermentasi mikroba. Permintaan L-lisin terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir dan diproduksi setiap tahun di seluruh dunia hampir melalui fermentasi mikroba. Produksi L-lisin melalui fermentasi mikroba memiliki kelebihan menghasilkan produk samping yang bersifat tidak beracun dan memiliki nilai komersial yang tinggi. Pada umumnya L-lisin diproduksi menggunakan strain bakteri heterotrofik, seperti Escherichia coli dan Corynebacterium glutamicum. Waktu fermentasi, pH, suhu, konsentrasi glukosa, laju aliran udara dan laju aerasi merupakan faktor terpenting dalam proses fermentasi. Proses fermentasi L-lisin dibagi menjadi empat bagian yaitu preparasi molase; preparasi media kultur; fermentasi; dan pemurnian. L-lisin dipisahkan dan dimurnikan dengan proses hilir yang sesuai, melibatkan metode pemisahan atau ekstraksi klasik (ultrafiltrasi atau sentrifugasi, pemisahan atau ekstraksi pertukaran ion, kristalisasi, pengeringan) dan dijual sebagai bubuk. Kaldu fermentasi cair yang dihasilkan juga dapat digunakan sebagai suplemen pakan ternak. Penambahan L-lisin pada pakan dapat meningkatkan kualitas pakan, L-lisin dapat memberikan manfaat dalam bentuk mempercepat pertumbuhan dan memperpendek masa produksi, sehingga biaya operasional dapat ditekan. Artikel review ini membahas tentang produksi L-lisin, faktor yang mempengaruhi fermentasi L-lisin, serta aplikasinya sebagai aditif pakan.
Kata Kunci : l-lisin, fermentasi, pakan ternak
L-lysine is an essential amino acid used in various sectors of the food, chemical and pharmaceutical industries. L-lysine has significant commercial value as a feed additive to promote growth and health in livestock. L-lysine can be produced through two main methods, namely chemical synthesis and microbial fermentation. The demand for L-lysine has been steadily increasing in recent years and is produced every year throughout the world almost through microbial fermentation. L-lysine production through microbial fermentation has the advantage of producing by-products that are non-toxic and have high commercial value. In general, L-lysine is produced using heterotrophic bacterial strains, such as Escherichia coli and Corynebacterium glutamicum. Fermentation time, pH, temperature, glucose concentration, air flow rate and aeration rate are the most important factors in the fermentation process. The L-lysine fermentation process is divided into four parts, namely molasses preparation; preparation of culture media; fermentation; and purification. L-lysine is separated and purified by appropriate downstream processes, involving classical separation or extraction methods (ultrafiltration or centrifugation, ion exchange separation or extraction, crystallization, drying) and sold as powder. Adding L-lysine to feed can improve feed quality. L-lysine can provide benefits in the form of accelerating growth and shortening the production period, so that operational costs can be reduced. This review article discusses L-lysine production, factors influencing L-lysine fermentation, and application as a feed additive.
Keywords : l-lysine, fermentation, feed additive