RASIONALITAS PELAPOR PADA KASUS PELANGGARAN KAMPANYE PILKADA KOTA SURABAYA 2024
The Rationality of the Reporter in the Case of Violations of the 2024 Surabaya City Election Campaign
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi rasionalitas di balik keputusan individu dalam melaporkan pelanggaran kampanye pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kota Surabaya 2024 yang diwarnai fenomena kotak kosong. Menggunakan pendekatan kualitatif etnografi dengan teori Pilihan Rasional James S. Coleman, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana subjek memaknai fenomena calon tunggal dan faktor-faktor apa saja yang mendasari tindakan pelaporan mereka. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap tiga pelapor terverifikasi di Bawaslu Kota Surabaya yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan pelapor didasarkan pada kalkulasi rasional yang menyeimbangkan antara manfaat kolektif (integritas demokrasi) dan risiko pribadi (intimidasi atau hilangnya waktu). Fenomena kotak kosong dipandang subjek sebagai bentuk kegagalan regenerasi politik dan penurunan kualitas demokrasi, yang kemudian memicu solidaritas sosial untuk melakukan pengawasan partisipatif. Temuan ini mengidentifikasi bahwa motivasi pelapor tidak hanya bersifat instrumental (mencegah politik uang atau penyalahgunaan fasilitas negara), tetapi juga bersifat normatif, di mana pelaporan dianggap sebagai kewajiban moral untuk memulihkan kepercayaan publik terhadap sistem pemilu. Penelitian ini merekomendasikan penguatan perlindungan saksi dan digitalisasi sistem pelaporan guna meminimalisir risiko sosial bagi pelapor di masa depan.
Kata Kunci: Rasionalitas Pelapor, Pilkada Kotak Kosong Kota Surabaya 2024, Pelanggaran Kampanye
This study aims to analyze the dimensions of rationality underlying individual decisions to report campaign violations during the 2024 Surabaya Regional Election, which featured the "empty box" (kotak kosong) phenomenon. Employing a ethnography qualitative approach grounded in James S. Coleman’s Rational Choice Theory, the research explores how subjects perceive the single-candidate phenomenon and the specific factors driving their reporting actions. Data were gathered through in-depth interviews with three verified whistleblowers at the Surabaya Election Supervisory Body (Bawaslu), selected using purposive sampling techniques. The findings reveal that the whistleblowers' decisions are based on a rational calculation that weighs collective benefits (democratic integrity) against personal risks (intimidation or time loss). The subjects view the uncontested election as a failure of political regeneration and a decline in democratic quality, which in turn triggers social solidarity for participatory oversight. This study identifies that whistleblower motivations are not only instrumental aimed at preventing money politics or the misuse of state facilities but also normative, where reporting is considered a moral obligation to restore public trust in the electoral system. The research recommends strengthening witness protection and digitalizing reporting systems to minimize future social risks for whistleblowers.
Keywords: The Rationality of the Reporter, the 2024 Surabaya Mayoral Election, Campaign Violations