Tradisi Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojosuro (Mojokerto-Surabaya) Tahun 2006-2019
Tradition of Mojosuro (Mojokerto-Surabaya) Struggle Walk 2006-2019
Pertempuran 10 November memiliki sejarah yang sangat kental di masyarakat Surabaya, Sidoarjo dan Mojokerto, maka dari itu tahun 1955 Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengadakan kegiatan tahunan yaitu Gerak Jalan Mojosuro disetiap bulan November. Gerak Jalan Mojosuro menjadi seniat tradisi hingga ranah nasional dengan berbagai inovasi sebagai pelestarian tradisi, dari latar belakang tersebut munculah sebuah penelitian terbaru berjudul "Tradisi Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojosuro (Mojokerto-Surabaya) Tahun 2006-2019", dengan tujuan penelitian : (1) Mengetahui latar belakang diadakannya Tradisi Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojosuro (Mojokerto-Surabaya) Tahun 1955, (2) Menganalisis perkembangan Tradisi Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojosuro (Mojokerto-Surabaya) Tahun 2006-2019, (3) Menganalisis dampak Tradisi Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojosuro (Mojokerto-Surabaya) dalam aspek ekonomi, sosial, dan budaya di masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas heuristik, kritik sumber, interpretasi, historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gerak Jalan Mojosuro berganti nama menjadi Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojosuro (Mojokerto-Surabaya) yang diadakan oleh Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Timur diselenggarakan dari Alun-Alun Mojokerto hingga Monumen Tugu Pahlawan Surabaya. Tahun 2008 Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Kosti Jawa Timur untuk mengadakan Sepeda Juang sebagai pembuka acara gerak Jalan yang masih selaras dengan tujuan acara Gerak Jalan Perjuangan yaitu mencanangkan panji olahraga terhadap masyarakat dengan nilai-nilai Perjuangan. Hubungan kerjasama juga dilakukan pada tahun 2017 dengan Tim Solidaritas Merah Putih, dimana adanya kegiatan Kirab Bendera Merah Putih sepanjang 178,45 meter. Kerjasama yang dilakukan oelh pihak terkait mengakibatkan adanya perkembangan jumlah peserta, sistem pendaftaran yang berbeda, hingga meningkatnya kategori pemenang dan hadiah. Tradisi Gerak Jalan Perjuangan (GJP) Mojosuro (Mojokerto-Surabaya) mampu memberikan dampak ekonomi, sosial dan budaya dalam masyarakat.
Kata kunci : Gerak Jalan Perjuangan Mojokerto-Surabaya, GJP, Mojosuro
The battle of 10 November has a very strong history in the people of Surabaya, Sidoarjo and Mojokerto, therefore in 1955 the East Java Provincial Government held an annual activity, namely the Mojosuro Street Movement every November. The Mojosuro Street Movement has become an art from tradition to the national realm with various innovations to preserve traditions. From this background, new research emerged entitled "Tradition of the Mojosuro Struggle Movement (GJP) (Mojokerto-Surabaya) 2006-2019", with the research objectives: (1) Understanding the background to the implementation of the Mojosuro Struggle Tradition (Mojokerto-Surabaya) Movement Tradition Struggle (GJP) in 1955, (2) Analyze the development of the Mojosuro Struggle Movement (GJP) Tradition (Mojokerto-Surabaya) in 2006-2019, (3) Analyze the impact of the Mojosuro Struggle Movement (GJP) tradition (Mojokerto-Surabaya) in the economic aspect , social and cultural in society. This research uses historical research methods consisting of heuristics, source criticism, interpretation, historiography. The results of the research show that the Mojosuro Street Movement changed its name to the Mojosuro Struggle Movement (GJP) (Mojokerto-Surabaya) which was organized by the East Java Provincial Youth and Sports Service and carried out from Mojokerto Square to the Surabaya Heroes Monument. In 2008, the East Java Provincial Youth and Sports Department, in collaboration with Kosti Jatim, held Bicycle Juang as the opening of a walking event which was still in line with the aim of the Jalan Perjuangan event, namely raising the banner of sport for the community. with the values of struggle. Collaborative relations were also carried out in 2017 with the Red and White Solidarity Team, where a 178.45 meter long Red and White Flag Carnival was held. The collaboration carried out by related parties resulted in an increase in the number of participants, a different registration system, as well as an increase in winner categories and prizes. The traditions of the Mojosuro Struggle Movement (GJP) (Mojokerto-Surabaya) are able to have an economic, social and cultural impact on society.
Keywords : Mojokerto-Surabaya Struggle Movement, GJP, Mojosuro