PEMANFAATAN ALUMUNIUM SLAG DAN FLY ASH SEBAGAI SUBTITUSI SEMEN PADA CAMPURAN BETON NORMAL
UTILIZATION OF ALUMINIUM SLAG AND FLY ASH AS CEMENT SUBSTITUTE IN NORMAL CONCRETE MIXTURES
Kemajuan dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia memberikan dampak yang signifikan pada berbagai sektor. Semen merupakan bahan utama untuk pembuatan beton pada infrastruktur. Limbah aluminium slag dan fly ash, memiliki potensi untuk menggantikan semen. Penelitian ini memiliki tujuan menyelidiki kemungknan menggunakan slag sebagai pengganti semen pada beton normal. Sementara, fly ash banyak digunakan secara komersial sebagai bahan tambahan pengganti semen. Penelitian ini secara kuantitatif dengan pendekatan eksperimental untuk kulitas beton K-300. Dalam eksperimen ini, variasi aluminium slag yang diuji adalah 0%, 1,5%, 3%, 4,5%, 6%, dan 7,5%, sementara fly ash digunakan secara tetap sebesar 15%. Sampel berbentuk kubus berukuran 15 x 15 x 15 cm diuji pada umur 7, 14, 21, dan 28 hari. Hasil menunjukkan bahwa kadar aluminium slag yang optimal adalah 1,5%, karena kadar yang lebih tinggi menyebabkan terbentuknya rongga udara dalam beton, mengakibatkan penurunan berat volume dan kuat tekan. Meskipun penggunaan fly ash pada beton normal umumnya meningkatkan kuat tekan, pengaruh kimia dari aluminium slag dalam penelitian ini lebih dominan dalam menurunkan kuat tekan beton dibandingkan efek peningkatan yang dihasilkan oleh fly ash.
The progress in infrastructure development in Indonesia has a significant impact on various sectors. Cement is the primary material for concrete in infrastructure. Aluminum slag and fly ash waste have the potential to replace cement. This study aims to examine the possibility of utilizing aluminum slag as a substitute for cement in normal concrete. Meanwhile, fly ash is widely used commercially as a supplementary cement replacement material. This research is quantitative with an experimental approach on normal concrete with a quality of K-300. In this experiment, the variations of aluminum slag tested were 0%, 1.5%, 3%, 4.5%, 6%, and 7.5%, while fly ash was used at a constant rate of 15%. The samples were in the form of cubes measuring 15 x 15 x 15 cm and were tested at the ages of 7, 14, 21, and 28 days. The results showed that the optimal aluminum slag content was 1.5%, as higher levels led to the formation of air voids in the concrete, resulting in a decrease in volume weight and compressive strength. Although the use of fly ash in normal concrete generally increases compressive strength, the chemical effects of aluminum slag in this study were more dominant in reducing the compressive strength of the concrete compared to the enhancement effects produced by fly ash.