Konstruksi Sosial Perempuan Lajang Terhadap Perselingkuhan Dalam Rumah Tangga Di Era Digital
The Social Construction of Single Women's Relationships to Domestic Infidelity in the Digital Era
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana perempuan lajang di Kota Surabaya mengonstruksi makna sosial terhadap perselingkuhan dalam rumah tangga. Fenomena perselingkuhan dipahami tidak sekadar sebagai pelanggaran komitmen personal, tetapi sebagai hasil konstruksi sosial yang berakar pada relasi kuasa, nilai budaya, serta perubahan sosial akibat digitalisasi. Dalam masyarakat patriarkal, perempuan sering kali menanggung beban moral lebih besar atas isu kesetiaan, sementara laki-laki cenderung memperoleh toleransi sosial yang lebih tinggi. Kondisi ini menimbulkan ketimpangan dalam cara masyarakat menilai moralitas dan relasi rumah tangga.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi feminis, yang menempatkan perempuan lajang sebagai subjek aktif dalam membentuk makna melalui pengalaman, refleksi sosial, dan interaksi kultural. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan enam perempuan lajang berusia 21–29 tahun yang berdomisili di Kota Surabaya. Analisis data dilakukan dengan mengidentifikasi tema-tema utama yang menggambarkan performativitas gender, reproduksi norma patriarki, dan negosiasi identitas perempuan di era digital.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan lajang memaknai perselingkuhan sebagai bentuk pengkhianatan moral terhadap nilai kesetiaan, namun sekaligus sebagai ruang refleksi terhadap struktur sosial yang tidak setara. Kesetiaan dipahami sebagai performa moral yang terus direproduksi melalui tindakan, bahasa, dan representasi di ruang publik maupun digital. Ruang digital berfungsi sebagai arena baru bagi perempuan untuk menegosiasikan batas etika, mengontrol citra diri, dan menampilkan kesetiaan sebagai bentuk agensi di tengah tekanan sosial. Melalui perspektif Gender Performativity Judith Butler, ditemukan bahwa moralitas dan identitas perempuan tidak bersifat tetap, tetapi dibentuk melalui repetisi tindakan sosial yang diatur oleh norma patriarkal sekaligus dilawan secara simbolik oleh subjek perempuan.
Penelitian ini memberikan kontribusi pada kajian sosiologi keluarga dan feminisme dengan menunjukkan bahwa perempuan lajang berperan aktif dalam membentuk wacana kesetiaan dan moralitas di era digital. Implikasi praktis penelitian ini menekankan pentingnya literasi digital, refleksi gender, dan dukungan sosial bagi perempuan dalam menghadapi tekanan sosial serta reproduksi stigma terhadap status lajang.
Kata Kunci: konstruksi sosial, perempuan lajang, perselingkuhan, performativitas gender, patriarki lokal, media digital.
This research aims to understand how single women in Surabaya construct social meanings toward marital infidelity. Infidelity is viewed not merely as a personal act of betrayal but as a social construction rooted in power relations, cultural norms, and digital transformation. In a patriarchal society, women often bear greater moral burdens regarding fidelity, while men are socially granted more tolerance. This imbalance shapes moral judgment and the social perception of family relationships.
The study employs a qualitative approach with a feminist phenomenological method, positioning single women as active subjects who construct meaning through experience, reflection, and cultural interaction. Data were collected through in-depth interviews with six single women aged 21–29 years residing in Surabaya. The data analysis identified recurring themes related to gender performativity, patriarchal reproduction, and the negotiation of female identity in the digital era.
The findings reveal that single women perceive infidelity as a moral transgression against fidelity values, yet also as a reflection of unequal social structures. Fidelity is understood as a moral performance continuously reproduced through actions, language, and digital representation. The digital sphere serves as a performative arena where women negotiate ethical boundaries, manage public image, and perform fidelity as a form of agency amidst social pressure. Using Judith Butler’s Gender Performativity framework, this research demonstrates that female morality and identity are not fixed, but produced through repetitive social acts governed by patriarchal norms while simultaneously subverted through symbolic resistance.
This study contributes to family sociology and feminist studies by highlighting single women as active agents in shaping discourses of fidelity and morality in the digital era. The practical implications emphasize the importance of digital literacy, gender reflection, and social support systems to help women navigate social pressures and challenge stigmas surrounding singlehood.
Keywords: social construction, single women, infidelity, gender performativity, local patriarchy, digital media