MANIFESTASI MEMORI KOLEKTIF DALAM FILM MELUKIS LUKA KARYA PRISIA NASUTION
Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mendeskripsikan kontinuitas ingatan etnis tionghoa terhadap tragedi 1998 dalam film Melukis Luka, (2) Mendeskripsikan kesadaran tokoh terhadap tragedi 1998 dalam film Melukis Luka, dan (3) Mendeskripsikan kehendak politis dari warga untuk melestarikan ingatan tragedi 1998 dalam film Melukis Luka. Teori yang digunakan adalah memori kolektif Maurice Halbwachs yaitu (1) Kontinuitas ingatan, (2) Kesadaran, dan (3) Kehendak politis warga untuk melestarikan ingatannya. Kemudian, dipadukan dengan teori semiotika Umberto Eco untuk mengidentifikasi adegan dalam film yaitu (1) Sign, (2) Signifikasi, dan (3) Interpretan. Pendekatan yang digunakan berjenis deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah Film Melukis Luka yang disutradarai dan ditulis oleh Prisia Nasution. Data penelitian berupa unit-unit dialog, kalimat, dan gambar. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik observasi, pengambilan data visual, simak, dan catat. Langkah-langkah analisis data yang diterapkan meliputi identifikasi, klasifikasi, deskripsi, dan penarikan kesimpulan. Hasil dari Penelitian menunjukkan temuan memori kolektif dalam film Melukis Luka karya Prisia Nasution berdasarkan teori memori kolektif Maurice Halbwachs. Penelitian ini menjawab rumusan masalah yang diajukan dengan tiga temuan utama yaitu (1) Dua bentuk kontinuitas ingatan yang dilakukan oleh korban selamat dari tragedi dan melalui lukisan bertema posttruth. (2) Tiga tokoh utama yang memiliki kesadaran tentang tragedi 1998, yaitu Henry, Alisa, dan Tjia Ah Boen. (3) Kehendak politis masyarakat untuk melestarikan ingatan tentang tragedi 1998 melalui mengadakan pameran bertema posttruth, penjualan lukisan yang mengandung sejarah, dan dua pedagang yang menempelkan lukisan bertema sejarah tragedi 1998, di gerobak bakmi dan lemari minuman dingin mereka.
Kata Kunci: Memori Kolektif, Film Melukis Luka, Semiotik, Manifestasi.
This study aims to: (1) describe the continuity of Chinese ethnic memory regarding the 1998 tragedy as portrayed in the film Melukis Luka, (2) describe the characters' awareness of the 1998 tragedy in the film, and (3) describe the political will of the citizens to preserve the memory of the 1998 tragedy in the film. The theory used is Maurice Halbwachs' concept of collective memory, which includes (1) memory continuity, (2) awareness, and (3) political will to preserve collective memory. This theory is combined with Umberto Eco's semiotic theory to identify scenes in the film through (1) sign, (2) signification, and (3) interpretant. The research uses a qualitative descriptive approach. The primary data source is the film Melukis Luka, directed and written by Prisia Nasution. The data consists of dialogue units, sentences, and visual imagery. Data collection was conducted through observation, visual data extraction, listening, and note-taking techniques. The data analysis steps included identification, classification, description, and conclusion drawing. The results of the study reveal the presence of collective memory in the film Melukis Luka based on Maurice Halbwachs’ theory of collective memory. This research addresses the proposed research questions through three main findings: (1) two forms of memory continuity are depicted through the survivor of the tragedy and through post-truth themed paintings; (2) three main characters—Henry, Alisa, and Tjia Ah Boen—demonstrate awareness of the 1998 tragedy; and (3) the political will of the community to preserve the memory of the 1998 tragedy is reflected through a post-truth themed exhibition, the sale of paintings containing historical narratives, and two merchants displaying paintings of the 1998 tragedy on their noodle cart and refrigerator. Terjemahan dalam bahasa Inggris, TMR ukuran 10 italic.
Keywords: Collective Memory, Melukis Luka Film, Semiotics, Manifestation.