Penerapan Teknik Sulam Pada Limbah Sepatu Oleh Peserta Didik Kelas VIII B SMP Wijaya Putra Surabaya
Application of Embroidery Techniques to Shoe Waste by Class VIII B Students of Wijaya Putra Middle School, Surabaya
Penerapan teknik sulam pada limbah sepatu oleh peserta didik kelas VIII B SMP Wijaya Putra Surabaya, tidak hanya memberikan solusi kreatif terhadap permasalahan limbah sepatu yang semakin menumpuk, tetapi juga mengembangkan kreativitas dengan memperkenalkan keterampilan berkarya sulam yang sebelumnya tidak pernah diajarkan pada sekolah tersebut.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mendeskripsikan proses pembelajaran, hasil karya dan tanggapan terhadap penerapan teknik sulam pada limbah sepatu. Memanfaatkan sepatu bekas sebagai bahan berkarya sulam dapat memberikan nilai tambah dan daya tarik estetika karya seni.
Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data melalui observasi langsung di sekolah, wawancara dengan kepala sekolah, waka kurikulum, serta guru mata pelajaran seni budaya, dokumentasi serta angket untuk peserta didik. Dengan teknik analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Validasi data menerapkan triangulasiteknik dengan melakukan pengecekan data yang diperoleh dari observasi, wawancara, dan dokumentasi penelitian.
Proses pembelajaran dalam penelitian ini dilaksanakan sebanyak lima kali pertemuan. Pertemuan pertama pemaparan materi sulam. Pertemuan kedua membuat desain, peneliti juga menjelaskan dan mencontohkan satu-persatu beberapa jenis tusuk sulam pada peserta didik. Pertemuan ketiga menjiplak hasil akhir sketsa motif yang telah dibuat pada pertemuan sebelumnya pada sepatu bekas. Pertemuan keempat melanjutkan kegiatan menyulam pada sepatu. Pertemuan kelima peserta didik mengumpulkan hasil karya nya, kemudian dilanjut mengisi angket yang diberikan oleh peneliti. Hasil dari penerapan teknik sulam pada limbah sepatu oleh peserta didik kelas VIII B SMP Wijaya Putra Surabaya dapat disimpulkan penerapan jenis tusukan sulam harus memperhatikan jenis bahan sepatu, sepatu dengan tekstur tebal menggunakan tusuk knot dan jelujur, sedangkan sepatu dengan jenis kain tipis bisa menggunakan semua tusuk sulam. Guru pengampu mata pelajaran seni budaya di lokasi penelitian menyatakan bahwa penelitian ini menghadirkan inovasi baru, peserta didik menanggapi bahwa pembelajaran dengan menggunakan limbah sepatu terasa unik dan memberikan tantangan tersendiri. Mereka juga merasa puas dengan hasil karya yang telah dihasilkan.
Kata Kunci: Limbah Sepatu, Sulam, SMP Wijaya Putra Surabaya.
The application of embroidery techniques to shoe waste by Grade VIII-B students at SMP Wijaya Putra Surabaya not only provides a creative solution to the growing problem of shoe waste but also fosters creativity by introducing embroidery skills that were previously untaught at the school. This study aims to identify and describe the learning process, the resulting artworks, and the responses to the application of embroidery techniques on discarded shoes. Utilizing used shoes as a medium for embroidery can provide added value and enhance the aesthetic appeal of the artwork.
This study employs a descriptive qualitative research method. Data collection techniques include direct observation at the school, interviews with the principal, vice principal of curriculum, and the arts and culture teacher, as well as documentation and student questionnaires. Data analysis involves data reduction, data display, and drawing conclusions. To ensure data validity, technical triangulation was applied by cross-checking data obtained from observations, interviews, and research documentation.
The learning process in this study was conducted over five meetings. The first meeting involved the presentation of embroidery theory. In the second meeting, students created designs, while the researcher demonstrated various embroidery stitches. The third meeting focused on tracing the final motif sketches onto the used shoes. The fourth meeting continued the embroidery process on the shoes. In the fifth meeting, students submitted their final work and completed the provided questionnaire.
The results of applying embroidery techniques to shoe waste by Grade VIII-B students at SMP Wijaya Putra Surabaya conclude that the selection of embroidery stitches must consider the shoe material; shoes with thick textures require the knot stitch and running stitch, whereas shoes made of thinner fabric can accommodate all types of embroidery stitches. The arts and culture teacher at the research site stated that this study introduces a new innovation, while students responded that learning with shoe waste felt unique and provided a distinct challenge. Furthermore, they expressed satisfaction with the artworks they produced.
Keywords: Shoe Waste, Embroidery, Wijaya Putra Junior High School Surabaya