ANALISIS KONTEN KESADARAN BUDAYA DALAM BUKU TEKS ENGLISH TEXTBOOK FOR NUSANTARA
CULTURAL SENSE IN "ENGLISH FOR NUSANTARA TEXTBOOK CONTENT ANALYSIS
Pentingnya bahasa Inggris sebagai bahasa global menuntut integrasi antara kompetensi linguistik dan kompetensi budaya dalam pembelajaran bahasa. Di Indonesia, Kurikulum Merdeka menekankan pengembangan karakter dan kesadaran budaya melalui Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini berangkat dari asumsi bahwa buku teks bahasa Inggris tidak hanya berfungsi sebagai alat pembelajaran bahasa, tetapi juga sebagai media untuk menumbuhkan kompetensi antarbudaya dan memperkuat identitas nasional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis representasi konten budaya dalam buku teks English for Nusantara untuk siswa kelas IX. Secara khusus, penelitian ini mengevaluasi bagaimana persebaran sense of culture (estetik, sosiologis, semantik, dan pragmatik) dan type of culture (budaya sumber, budaya target, dan budaya internasional) ditampilkan dalam buku teks, serta sejauh mana hal tersebut mendukung pengembangan kompetensi antarbudaya dan identitas kebangsaan siswa.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode analisis isi, serta didukung oleh analisis wacana kritis dari Fairclough. Data dikumpulkan dari teks tertulis, ilustrasi, dan aktivitas pembelajaran dalam buku, serta diklasifikasikan berdasarkan kerangka teori Adaskou et al. (1990) dan Cortazzi & Jin (1999). Hasil penelitian menunjukkan bahwa buku teks ini paling banyak merepresentasikan budaya sumber (68,2%) dan sense budaya sosiologis (35,5%), yang menandakan fokus besar pada budaya Indonesia dan interaksi sosial sehari-hari. Namun, representasi terhadap budaya target dan budaya internasional masih terbatas, sehingga dapat menghambat pemahaman siswa terhadap perspektif global. Meskipun buku ini sudah sesuai dengan tujuan nasional dalam menanamkan nilai dan identitas lokal, tetap diperlukan representasi budaya yang lebih seimbang untuk benar-benar membentuk kompetensi antarbudaya siswa di era global. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pengembangan buku ajar dan integrasi budaya dalam pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia.
The increasing importance of English as a global language has highlighted the need to integrate both linguistic and cultural competence in language education. In Indonesia, the Merdeka Curriculum emphasizes character development and cultural awareness through the Pancasila Student Profile. This study is based on the assumption that English textbooks can serve as tools not only for language acquisition but also for promoting intercultural competence and reinforcing national identity. The aim of this research is to analyze the representation of cultural content in the English textbook English for Nusantara for ninth-grade students. Specifically, the study examines how cultural senses (aesthetic, sociological, semantic, and pragmatic) and cultural types (source, target, and international culture) are distributed throughout the textbook, and to what extent they support the development of intercultural competence and national identity.
This research employs a qualitative descriptive method with content analysis, supported by Fairclough's discourse analysis. The data were collected from written texts, illustrations, and learning activities in the textbook, then categorized based on frameworks by Adaskou et al. (1990) and Cortazzi & Jin (1999). The findings show that the textbook predominantly features source culture (68.2%) and sociological sense (35.5%), indicating a strong emphasis on Indonesian culture and everyday social interactions. However, the representation of target and international cultures remains limited, potentially restricting students’ exposure to global perspectives. While the textbook aligns with national goals by embedding local values and cultural identity, a more balanced cultural representation is needed to fully foster students’ intercultural competence in an increasingly globalized world. This study contributes to the improvement of textbook development and cultural integration in English language teaching in Indonesia.