MENEGOSIASIKAN PENGETAHUAN DAN KEKUASAAN: SUASANA HATI, MODALITAS, DAN REGISTER DALAM WACANA KELAS
NEGOTIATING KNOWLEDGE AND POWER: MOOD, MODALITY, AND REGISTER IN UNIVERSITY CLASSROOM DISCOURSE
Disertasi ini menyelidiki bagaimana pengetahuan dan kekuasaan diwujudkan dan dinegosiasikan melalui interaksi lisan di kelas dalam lingkungan EFL universitas dengan menganalisis makna interpersonal yang diwujudkan melalui suasana hati dan modalitas. Berlandaskan Linguistik Fungsional Sistemik (SFL) dan diinformasikan oleh perspektif sosiokultural, penelitian ini mengkaji interaksi yang terjadi secara alami antara dosen dan mahasiswa dalam program Pendidikan Bahasa Inggris di sebuah universitas di Lamongan, Indonesia. Melalui desain analitik wacana kualitatif, penelitian ini menggunakan observasi kelas, rekaman audio, dan transkripsi untuk mengumpulkan data. Analisis ini menerapkan kerangka kerja SFL Hallidayan—khususnya metafungsi interpersonal yang mencakup variabel register (bidang, tenor, modus), nilai modalitas, dan jenis modus (deklaratif, interogatif, imperatif)—bersama dengan faktor sosiobudaya seperti relasi kekuasaan dan jarak sosial untuk memahami bagaimana pola interaksi dikontekstualisasikan dalam norma akademik dan budaya.
Hasilnya menunjukkan bahwa struktur modus deklaratif, yang mencerminkan otoritas dosen dan transmisi pengetahuan, mendominasi wacana kelas, sementara modus imperatif dan interogatif digunakan secara strategis untuk mengontrol partisipasi. Modalitas berfungsi sebagai mekanisme kunci untuk mengelola dinamika interpersonal; dosen menggunakan modalitas bernilai tinggi untuk menunjukkan otoritas, sedangkan mahasiswa menggunakan tingkat menengah hingga rendah untuk menyampaikan rasa hormat, yang mencerminkan dinamika kekuasaan yang tidak setara namun memfasilitasi perancah pedagogis. Pola linguistik ini mendefinisikan register akademik di mana pilihan leksikogramatikal teknis mengintegrasikan tujuan instruksional dengan harapan sosiobudaya. Kesimpulannya, dengan mensintesis SFL dengan teori sosiokultural, penelitian ini menyoroti bagaimana suasana hati, modalitas, dan register berfungsi sebagai alat semiotik penting untuk menavigasi kekuasaan dan epistemologi, menawarkan wawasan untuk mengembangkan strategi pedagogis yang menyelaraskan keterlibatan siswa dengan ketelitian akademis dalam pendidikan tinggi.
This dissertation investigates how knowledge and power are enacted and negotiated through spoken classroom interaction in a university EFL setting by analysing interpersonal meaning as realised through mood and modality. Grounded in Systemic Functional Linguistics (SFL) and informed by a sociocultural perspective, the study examines naturally occurring interactions between a lecturer and students in an English Education program at a university in Lamongan, Indonesia. Through a qualitative discourse-analytic design, the research utilizes classroom observations, audio recordings, and transcriptions to gather data. The analysis applies Hallidayan SFL frameworks—specifically the interpersonal metafunction covering register variables (field, tenor, mode), modality values, and mood types (declarative, interrogative, imperative)—alongside sociocultural factors such as power relations and social distance to understand how interactional patterns are contextualised within academic and cultural norms.
The results show that declarative mood structures, reflecting lecturer authority and knowledge transmission, dominate classroom discourse, while imperative and interrogative moods are used strategically to control participation. Modality functions as a key mechanism for managing interpersonal dynamics; lecturers employ high-value modality to exert authority, whereas students use mid-to-low levels to convey deference, reflecting unequal power dynamics yet facilitating pedagogical scaffolding. These linguistic patterns define an academic register where technical lexicogrammatical choices integrate instructional objectives with sociocultural expectations. In conclusion, by synthesizing SFL with sociocultural theory, this research highlights how mood, modality, and register serve as essential semiotic tools for navigating power and epistemology, offering insights for developing pedagogical strategies that harmonize student engagement with academic rigor in tertiary education.