Kurangnya penyesuaian model pembelajaran dengan tingkat motivasi belajar yang berbeda antar peserta didik menjadi kendala dalam meningkatkan hasil belajar. Upaya peningkatan motivasi belajar sering kali kurang efektif, sementara hubungan antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil belajar belum jelas. Penelitian ini akan menerapkan model pembelajaran kooperatif dengan metode jigsaw pada mata pelajaran dasar-dasar konstruksi bangunan gedung, serta membandingkannya dengan model pembelajaran direct instruction untuk mengukur keberhasilan masing-masing model berdasarkan hasil belajar peserta didik.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan hasil belajar berdasarkan tingkat motivasi belajar (tinggi dan rendah) antara kedua model pembelajaran. Fokus utamanya adalah membandingkan hasil belajar peserta didik bermotivasi tinggi dan rendah yang mengikuti model pembelajaran kooperatif metode jigsaw maupun direct instruction. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi interaksi antara model pembelajaran yang diterapkan dan tingkat motivasi belajar terhadap hasil belajar secara keseluruhan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan jenis kuasi-eksperimental, di mana instrumen yang digunakan berupa angket motivasi belajar dan soal tes kognitif untuk mengumpulkan data yang dianalisis secara statistik. Desain penelitian mengadopsi desain faktorial 2x2 dengan variabel independen berupa dua model pembelajaran (Direct instruction dan kooperatif metode jigsaw), serta variabel moderator tingkat motivasi belajar (tinggi dan rendah). Analisis varians (ANAVA) dua jalur digunakan untuk menguji interaksi antara ketiga variabel tersebut.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Hasil belajar peserta didik dengan motivasi tinggi yang mengikuti model pembelajaran kooperatif metode jigsaw (74,433) lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengikuti model direct instruction (66,601). Peserta didik dengan motivasi rendah yang mengikuti model jigsaw (71,363) juga menunjukkan hasil lebih tinggi dibandingkan dengan yang mengikuti model direct instruction (64,876). Hasil belajar peserta didik dengan motivasi tinggi dalam model jigsaw (74,433) lebih tinggi dibandingkan dengan yang bermotivasi rendah (71,363), sementara pada model direct instruction, peserta dengan motivasi tinggi (66,601) juga unggul dari yang bermotivasi rendah (64,876). Analisis interaksi antara model pembelajaran dan motivasi belajar menunjukkan nilai signifikansi 0,812, yang lebih besar dari 0,05, sehingga tidak ada interaksi signifikan antara kedua variabel terhadap hasil belajar. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Model pembelajaran kooperatif metode jigsaw lebih efektif dalam meningkatkan hasil belajar peserta didik dibandingkan dengan model direct instruction, baik untuk peserta dengan motivasi tinggi maupun rendah. Namun, tidak terdapat interaksi signifikan antara model pembelajaran dan motivasi belajar terhadap hasil belajar peserta didik.
The lack of alignment between teaching models and the varying levels of student motivation is a barrier to improving learning outcomes. Efforts to enhance motivation are often ineffective, while the relationship between teaching models, motivation, and learning outcomes remains unclear. This study will implement a cooperative learning model using the Jigsaw type method in building construction fundamentals, and compare it with the direct instruction model to assess the success of each model based on student learning outcomes.
This study aims to analyze the differences in learning outcomes based on levels of motivation (high and low) between the two teaching models. The main focus is to compare the learning outcomes of highly motivated and low-motivated students who participated in either the Jigsaw cooperative learning model or the direct instruction model. Additionally, this study explores the interaction between the applied teaching models and levels of motivation on overall learning outcomes.
This research employs a quantitative approach with a quasi-experimental design, using motivation questionnaires and cognitive test questions as instruments to collect data for statistical analysis. The research design adopts a 2x2 factorial design with independent variables consisting of two teaching models (Direct Instruction and Jigsaw cooperative), and a moderator variable being the level of motivation (high and low). Two-way analysis of variance (ANOVA) is used to test the interaction between these three variables.
The results indicate that students with high motivation in the Jigsaw cooperative learning model (74.433) performed better than those in the direct instruction model (66.601). Students with low motivation in the Jigsaw model (71.363) also showed better results compared to those in the direct instruction model (64.876). Learning outcomes for high-motivation students in the Jigsaw model (74.433) were higher than those with low motivation (71.363), while in the direct instruction model, students with high motivation (66.601) also outperformed those with low motivation (64.876). The interaction analysis between the teaching model and motivation showed a significance value of 0.812, which is greater than 0.05, indicating no significant interaction between the two variables in relation to learning outcomes.
Thus, it can be concluded that the Jigsaw cooperative learning model is more effective in improving student learning outcomes compared to the direct instruction model, for both high and low-motivated students. However, there is no significant interaction between the teaching model and motivation in relation to student learning outcomes.