Eksplorasi Kemampuan Berpikir Kreatif dalam Pengajuan Masalah Kolaboratif (Collaborative Problem Posing) Pada Materi Pecahan Peserta Didik Kelas V SD
An Exploration of Creative Thinking Abilities in Collaborative Problem Posing on Fraction Topics Among Fifth Grade Elementary Students
Kemampuan berpikir kreatif merupakan kompetensi esensial yang perlu dikembangkan sejak jenjang sekolah dasar, khususnya dalam konteks pembelajaran kolaboratif yang mendorong peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam mengajukan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif peserta didik dalam proses pengajuan masalah kolaboratif (collaborative problem posing) pada materi pecahan di kelas V sekolah dasar, dengan menelaah perbedaan antar kelompok berdasarkan komposisi kemampuan.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus eksploratif. Subjek penelitian terdiri dari enam kelompok, yaitu dua kelompok heterogen dan empat kelompok homogen (tinggi, sedang, rendah), yang dibentuk berdasarkan hasil tes kemampuan matematika. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi aktivitas kelompok saat pengajuan masalah, dokumentasi, catatan lapangan, dan Focus Group Discussion (FGD). Instrumen penelitian dikembangkan berdasarkan indikator kemampuan berpikir kreatif (fluency, flexibility, dan novelty) serta aspek kolaboratif dari OECD, yaitu: (1) membangun dan memelihara pemahaman bersama, (2) mengambil tindakan yang tepat dalam mengajukan masalah, dan (3) membentuk serta memelihara organisasi kelompok. Data dianalisis melalui teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara tematik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kelompok Heterogen 1 dan 2 memiliki kemampuan berpikir kreatif yang tinggi dan seimbang pada seluruh indikator. Kelompok-kelompok ini disusun secara heterogen berdasarkan hasil tes kemampuan matematika dan identifikasi gaya kognitif siswa, sehingga masing-masing kelompok terdiri dari anggota dengan kemampuan tinggi, sedang, dan rendah. Meskipun komposisinya serupa, dinamika interaksi antar anggota menunjukkan perbedaan karakter. Kelompok Heterogen 1 membagi peran sejak awal diskusi, di mana setiap anggota memiliki tugas tertentu dalam proses pemecahan masalah. Sementara itu, Kelompok Heterogen 2 tidak menetapkan peran secara eksplisit, tetapi bekerja bersama-sama secara kolaboratif dalam setiap tahap. Kedua kelompok mampu menghasilkan banyak ide dalam waktu singkat (fluency), mengeksplorasi berbagai pendekatan (flexibility), serta mencetuskan ide-ide unik yang dimodifikasi dari pengalaman nyata (novelty). Proses pengajuan masalah berlangsung aktif, terbuka, dan partisipatif, menciptakan kolaborasi yang dinamis. Kelompok homogen tinggi menonjol dalam fluency, tetapi mengalami hambatan pada flexibility dan novelty karena dominasi anggota tertentu. Kelompok homogen sedang 1 menunjukkan kemampuan berpikir kreatif terbatas dan kecenderungan mengikuti pola yang ada, sedangkan kelompok homogen sedang 2 menunjukkan interaksi setara dengan capaian fluency dan flexibility yang baik, meskipun kebaruan ide masih terbatas. Kelompok homogen rendah 1 dan 2 menunjukkan kemampuan berpikir kreatif yang sangat terbatas, dengan partisipasi yang pasif dan ide-ide yang kurang berkembang.
Temuan ini mengindikasikan bahwa keberagaman kemampuan dalam kelompok heterogen dapat menjadi stimulus penting bagi berkembangnya ide-ide kreatif dan praktik kolaboratif yang efektif. Sebaliknya, kelompok homogen memerlukan intervensi dan strategi fasilitasi yang lebih terarah untuk mendorong kemajuan dalam berpikir kreatif dan kerja sama. Implikasi dari penelitian ini menekankan pentingnya pengelolaan komposisi kelompok dan penerapan strategi pembelajaran yang terstruktur untuk mendukung pengembangan kemampuan berpikir kreatif dan kolaboratif peserta didik dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar.
Creative thinking ability is an essential competency that should be developed from the elementary school level, particularly within collaborative learning contexts that encourage students to actively participate in problem-posing activities. This study aims to explore and describe students' creative thinking abilities during the process of collaborative problem posing in learning fractions among fifth-grade elementary school students, by examining differences among groups based on ability composition.This research employed a qualitative approach with an exploratory case study design. The subjects consisted of six groups: two heterogeneous groups and four homogeneous groups (high, medium, and low ability), formed based on the results of a mathematics ability test. Data were collected through observation of group activities during problem posing, documentation, field notes, and Focus Group Discussions (FGDs). Research instruments were developed based on indicators of creative thinking ability fluency, flexibility, and novelty as well as collaborative aspects adapted from the OECD framework: (1) building and maintaining shared understanding, (2) taking appropriate actions in problem posing, and (3) establishing and maintaining group organization. Data were analyzed thematically through data reduction, display, and conclusion drawing.
The results show that both Heterogeneous Group 1 and 2 demonstrated high and balanced creative thinking abilities across all indicators. These groups were composed heterogeneously based on mathematics ability test results and identified cognitive styles, with each group consisting of students with high, medium, and low abilities. Although similarly composed, their group dynamics differed. Heterogeneous Group 1 assigned roles at the beginning of the discussion, with each member responsible for specific tasks in problem solving. In contrast, Heterogeneous Group 2 worked collaboratively throughout the process without explicit role division. Both groups successfully generated many ideas in a short time (fluency), explored various approaches (flexibility), and produced unique ideas modified from real-life experiences (novelty). The problem-posing process was active, open, and participatory, fostering dynamic collaboration.
The high-ability homogeneous group excelled in fluency but encountered obstacles in flexibility and novelty due to the dominance of certain members. The first medium-ability homogeneous group showed limited creative thinking and tended to follow established patterns, while the second demonstrated more equal interaction with good fluency and flexibility, though novelty remained limited. Both low-ability homogeneous groups displayed very limited creative thinking, passive participation, and underdeveloped ideas.
These findings indicate that diversity of abilities in heterogeneous groups can serve as a key stimulus for the development of creative ideas and effective collaboration. In contrast, homogeneous groups require more structured intervention and facilitation strategies to foster growth in creative thinking and teamwork. The implications of this study highlight the importance of managing group composition and implementing structured learning strategies to support the development of students’ creative and collaborative abilities in elementary mathematics education.