Penalaran Abduktif Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah Matematis Ditinjau dari Adversity Quotient
Abductive Reasoning of Junior High School Students in Mathematical Problems Solving as Viewed from Adversity Quotient
ABSTRAK
Nasruddin. 2025. Penalaran Abduktif Siswa SMP dalam Menyelesaikan Masalah Matematika Ditinjau dari Adversity Quotient, Disertasi, Program Studi S-3 Pendidikan Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Surabaya. Promotor: Prof. Dr. Dwi Juniati, M.Si., dan Kopromotor: Dr. Janet Trineke Manoy, M.Pd.
Kata Kunci: Penalaran abduktif, pemecahan masalah matematika, Adversity Quotient, Climber, Quitter. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif dengan pendekatan kualitatif yang bertujuan untuk mendeskripsikan penalaran abduktif siswa SMP dalam menyelesaikan masalah matematika ditinjau dari tipe Adversity Quotient (AQ), yakni tipe Climber dan Quitter yang merepresentasikan tipe Adverisy Quotient dalam menghadapi masalah atau tantangan. Penalaran abduktif merupakan bagian penting dari berpikir matematika yang mencakup proses menyusun dugaan berdasarkan pengamatan terhadap data awal, lalu mengembangkan argumen logis untuk menjelaskan dan menyelesaikan permasalahan serta mengambil kesimpulan. Sementara itu, AQ merepresentasikan tingkat ketangguhan siswa dalam menghadapi kesulitan, yang diyakini turut mempengaruhi cara berpikir dan bernalar siswa untuk pengambilan keputusan dalam pemecahan masalah matematika. Subjek penelitian dipilih dari siswa SMP yang telah diklasifikasikan kedalam tipe AQ menggunakan instrumen Adversity Response Profile (ARP) yang memiliki jenis kelamin sama serta kemampuan matematika yang setara. Prosedur pengumpulan data dilakukan dengan memberikan tugas masalah aljabar dan geometri kepada
siswa kemudian dilakukan wawancara berbasis tugas. Data yang diperoleh divalidasi dengan triangulasi waktu untuk mengetahui keabsahan data kemudian dianalisis dengan langkah-langkah yaitu kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek dengan tipe AQ Climber dalam menyelesaikan masalah matematika menerapkan secara maksimal penalaran abduktif yang dimiliki. Subjek Climber mampu mengidentifikasi informasi penting dalam soal, menyusun beberapa dugaan alternatif, mengevaluasi kelayakan solusi yang diajukan, dan memberikan justifikasi matematis yang konsisten sepanjang proses menyelesaikan masalah matematika. Kemampuan mereka dalam mempertahankan fokus dan beradaptasi dengan tantangan matematis yang kompleks menjadi kunci dalam menuntaskan masalah matematika dengan pendekatan yang strategis dan terukur dalam menyelesaikan masalah. Sebaliknya, subjek dengan tipe AQ Quitter menunjukkan polam penalaran abduktif yang tidak menentu dan tidak tuntas. Subjek Quitter kerap mengalami kesulitan dalam mengidentifikasi komponen utama dalam soal untuk membentuk dugaan awal, terkadang ragu dalam mengembangkan langkah-langkah pemecahan masalah, serta mudah menyerah ketika mengalami hambatan dalamm menyelesaikan masalah metematika. Hal ini menyebabkan subjek Quitter tidak mampu menjangkau solusi yang logis secara menyeluruh. Ketidakkonsistenan dan kurangnya ketangguhan mental tercermin pada terbatasnya alternatif solusi serta rendahnya kualitas justifikasi yang diberikan. Temuan ini menegaskan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah matematika yang direpresentasikan melalui Adversity Quotient berkontribusi signifikan terhadap penalaran abduktif siswa. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan teori dan praktik pendidikan matematika. Secara teoritis, hasil studi ini memperkuat posisi penalaran abduktif sebagai kompetensi berpikir yang dipengaruhi secara simultan oleh aspek kognitif dan non-kognitif. Sementara secara praktis, penelitian ini memberikan landasan bagi guru dalam menyusun strategi pembelajaran yang adaptif terhadap karakter siswa. Pengembangan perangkat pembelajaran berbasis AQ serta pelatihan ketangguhan mental melalui tantangan-tantangan terstruktur menjadi implikasi yang dapat diterapkan di lingkungan sekolah. Selain itu, penelitian ini memberikan peluang bagi studi lanjutan yang mengintegrasikan penalaran abduktif dan faktor karakter dalam konteks pembelajaran yang lebih luas, terutama untuk memahami dinamika dan potensi peralihan tipe Adversity Quotient (AQ) pada peserta didik.
ABSTRACT
Nasruddin. (2025). Profiles of Students’ Abductive Reasoning inSolving Mathematical Problems Viewed from Adversity Quotient. Dissertation, Doctoral Program in Mathematics Education, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Universitas Negeri Surabaya.
Supervisor: Prof. Dr. Dwi Juniati, M.Si.; Co-supervisor: Dr. Janet Trineke Manoy, M.Pd.
Keywords: Abductive reasoning, mathematical problem solving, Adversity Quotient, Climber, Quitter. This study employed a descriptive exploratory design with a qualitative approach, aiming to investigate junior high school students’ abductive reasoning in solving mathematical problems, examined through the lens of Adversity Quotient (AQ) typology. The focus was placed on two representative AQ types Climbers and Quitters which reflect students’ characteristic responses when confronted with challenges or difficulties. Abductive reasoning is recognized as a critical dimension of mathematical thinking, involving the formulation of plausible hypotheses based on initial data, followed by the development of logical arguments to explain and resolve problems, and ultimately drawing conclusions. In parallel, AQ serves as an indicator of resilience, believed to shape students’ modes of reasoning and decision-making in mathematical problem solving. The participants were purposively selected from junior high school students who had been previously classified into AQ types using the Adversity Response Profile (ARP) instrument. To ensure comparability, students with equivalent mathematical ability and the same gender were included. Data were collected through algebra and geometry problem-solving tasks, followed by task-based interviews. The credibility of the data was reinforced through time triangulation, while the analysis proceeded through systematic steps of data condensation, data display, and conclusion drawing, consistent with established qualitative research procedures. The findings revealed that students categorized as Climbers demonstrated optimal use of abductive reasoning when engaging with mathematical tasks. These students effectively identified critical information in the problem, generated multiple alternative hypotheses, assessed the feasibility of proposed solutions, and consistently provided coherent mathematical justifications throughout the problem-solving process. Their capacity to sustain focus and adapt to complex challenges emerged as a decisive factor in resolving problems through strategic and systematic approaches. Conversely, students identified as Quitters exhibited unstable and incomplete patterns of abductive reasoning. They frequently encountered difficulties in formulating initial hypotheses, expressed uncertainty in developing solution pathways, and showed a tendency to abandon the process when confronted with obstacles. Such tendencies limited their ability to reach comprehensive and logically consistent solutions. Their lack of persistence and resilience was evident in the restricted range of solution alternatives and the generally low quality of justifications offered. These findings underscore the significant role of Adversity Quotient in shaping students’ abductive reasoning capacities in mathematical problem solving. This research contributes meaningfully to the theoretical and practical development of mathematics education. Theoretically, the findings reaffirm the position of abductive reasoning as a cognitive competence influenced simultaneously by cognitive and noncognitive dimensions. Practically, the study provides a foundation for educators to design adaptive instructional strategies that align with diverse student characteristics. The development of AQoriented learning resources and structured resilience training may serve as viable interventions within school settings. Moreover, the study opens avenues for future research to further integrate abductive reasoning with dispositional and character-related factors in broader educational contexts.