KARYA TARI "KAWENG" VISUALISASI PROPERTI SARUNG PADA MASYARAKAT TENGGER DALAM BENTUK TARI DRAMATIK
DANCE WORK "KAWENG" VISUALIZATION OF TENGGER COMMUNITY'S SARONG PROPERTY IN DRAMATIC FORMS
Karya tari Kaweng berangkat dari salah satu tradisi masyarakat Tengger yaitu penggunaan sarung dalam kegiatan sehari-hari sebagai penutup badan untuk melawan dingin kawasan Gunung Bromo. Sarung digunakan oleh masyarakat setempat baik Wanita maupun Pria, tetapi sarung yang digunakan Wanita memiliki makna tersendiri disetiap simpul atau ikatan yang ada di pundaknya, jika simpul atau ikatan sarung berada dibagian belakang maka Wanita tersebut pertanda sudah menikah, kemudian terdapat simpul dibagian depan menandakan Wanita yang sedang hamil, dan yang terakhir simpul yang ada di pundak kanan atau kiri menandakan Wanita tersebut masih gadis atau belum menikah. Sedangkan sarung yang digunakan Pria tidak memiliki makna disetiap ikatan atau simpulnya. Terdapat dua fokus di dalam karya tari ini yaitu fokus isi menggambarkan pemakaian sarung oleh wanita khususnya remaja dalam kegiatan sehari – hari yang sudah diterapkan turun temurun yang harus dilestarikan agar tidak luntur, dan fokus bentuk karya tari ini digarap dalam tipe dramatik.
Metode Penciptaan yang digunakan proses koreografi karya tari Kaweng ini menggunakan Metode Konstruksi I oleh Jacqueline Smith mulai dari rangsang awal, improvisasi, evaluasi, seleksi, dan motif. Kemudian diperkuat dengan prinsip – prinsip bentuk oleh Sal Murgiyanto yaitu Kesatuan (Unity), keragaman (Variasi), pengulangan (repetisi), kontras, transisi, urutan (sequence), klimaks, keseimbangan (balance), dan harmoni. Tahapan ini dilakukan secara berurutan untuk menciptakan hasil karya tari yang tepat dan sesuai dengan konsep. Terdapat beberapa karya tari relevan yang sumber ide nya berangkat dari tradisi masyarakat Tengger yaitu tari Monel Sadur oleh Rr. Tjahyani Widyowati pada tahun 2021, karya tari Karo yang disutradarai oleh Tri Broto Wibissono dan Amalia Suciningtyas, S.Pd. sebagai penata tari pada tahun 2015, dan Tari Puja Barikan oleh Helen Celia Thermalista, S.Sn. pada tahun 2018.
Karya tari Kaweng merupakan karya tari dramatik yang bertema tradisi penggunaan sarung yang ada di daerah Tengger khususnya wanita yang masih remaja, karya ini memvisualisasikan sarung yang disajikan oleh 7 penari Wanita remaja yang menggunakan properti sarung dengan ikatan atau simpulnya berada di sebelah kanan dengan bentuk gerak Jawa Timuran yang sudah dikembangkan, menggunakan tata rias dan busana yang sederhana yang dominasi berwarna merah, hitam dan emas sebagai penggambaran semangat serta kesederhanaan Wanita masyarakat Tengger untuk melawan suhu dingin kawasan Gunung Bromo dalam menjalankan aktivitas sehar-hari. Di tampilkan pada panggung proscenium yang di dukung dengan beberapa jenis tata cahaya serta rekaman iringan musik tradisional gamelan Jawa Timur dan saxophone sebagai alat musik tambahan untuk memperkuat suasana.
Kaweng dance work departs from one of the traditions of the Tengger community, namely the use of sarongs in daily activities as body coverings to fight the cold of the Mount Bromo area. The sarong is used by both women and men, but the sarong used by women has its own meaning in each knot or tie on the shoulder, if the knot or tie of the sarong is at the back then the woman is a sign of being married, then there is a knot on the front indicating a pregnant woman, and the last knot on the right or left shoulder indicates that the woman is still a girl or unmarried. Meanwhile, the sarong used by men does not have a meaning in each tie or knot. There are two focuses in this dance work, namely the focus of content describing the use of sarongs by women, especially teenagers in daily activities that have been applied from generation to generation which must be preserved so as not to fade, and the focus of the form of this dance work is worked on in the dramatic type.
The creation method used in the choreographic process of this Kaweng dance work uses the Construction Method I by Jacqueline Smith starting from initial stimulation, improvisation, evaluation, selection, and motif. Then strengthened with the principles of form by Sal Murgiyanto namely Unity, variety, repetition, contrast, transition, sequence, climax, balance, and harmony. These stages are carried out sequentially to create dance works that are appropriate and in accordance with the concept. There are several relevant dance works whose sources of ideas depart from the traditions of the Tengger community, namely the Monel Sadur dance by Rr. Tjahyani Widyowati in 2021, Karo dance directed by Tri Broto Wibissono and Amalia Suciningtyas, S.Pd. as a dance director in 2015, and Puja Barikan dance by Helen Celia Thermalista, S.Sn. in 2018.
Kaweng dance work is a dramatic dance work with the theme of the tradition of using sarongs in the Tengger area, especially teenage women, this work visualizes sarongs presented by 7 teenage female dancers who use sarong properties with ties or knots on the right with Javanese Timuran motion forms that have been developed, using simple makeup and clothing dominated by red, black and gold as a depiction of the spirit and simplicity of Tengger community women to fight the cold temperature of the Mount Bromo area in carrying out daily activities. Performed on a proscenium stage supported by several types of lighting and recorded accompaniment of traditional East Javanese gamelan music and saxophone as additional musical instruments to strengthen the atmosphere.