Peran Indonesia dalam G20 dan Kinerja Ekspor dengan Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang
Indonesia's G20 Role and Export Performance with the US, China, and Japan
Studi ini mengkaji hubungan antara keanggotaan G20 Indonesia dan ekspor bilateralnya ke China, Amerika Serikat, dan Jepang selama periode 1995–2023. Tujuannya adalah untuk menganalisis bagaimana integrasi perdagangan dengan tiga mitra besar ini mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan menggunakan Model Koreksi Kesalahan Vektor (VECM), dan data yang diperoleh dari Bank Dunia, UN Comtrade, dan Badan Pusat Statistik (BPS), penelitian ini menyelidiki dinamika jangka pendek dan jangka panjang antara ekspor, produk domestik bruto (PDB), pembentukan modal tetap bruto (PMTB), dan nilai tukar. Temuan empiris mengonfirmasi adanya kointegrasi di antara variabel-variabel tersebut, menunjukkan keseimbangan jangka panjang. Ekspor ke China menunjukkan dampak positif yang paling kuat dan signifikan terhadap PDB, dengan mekanisme koreksi kesalahan mengungkapkan kecepatan penyesuaian tahunan sebesar 24%. Ekspor ke Amerika Serikat juga memberikan kontribusi positif, tetapi dengan elastisitas yang lebih rendah, mencerminkan spillover makroekonomi yang terbatas meskipun ada surplus perdagangan yang terus-menerus. Sebaliknya, ekspor ke Jepang menunjukkan dampak terlemah terhadap PDB, dengan dinamika penyesuaian yang lebih lambat (18% per tahun) dan ketergantungan tinggi pada komoditas primer. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun integrasi G20 Indonesia telah meningkatkan peluang perdagangan, negara ini tetap rentan secara struktural akibat ketergantungan pada ekspor berbasis sumber daya. Rekomendasi kebijakan mencakup diversifikasi pasar ekspor, memperkuat manufaktur bernilai tambah, mengurangi hambatan non-tarif, dan mengoptimalkan peran perjanjian perdagangan regional seperti ACFTA dan IJEPA.
This study examines the relationship between Indonesia’s G20 membership and its bilateral exports to China, the United States, and Japan over the period 1995–2023. The objective is to analyze how trade integration with these three major partners influences Indonesia’s economic growth. Using the Vector Error Correction Model (VECM), with data obtained from the World Bank, UN Comtrade, and the Central Statistics Agency (BPS), the research investigates the short- and long-term dynamics between exports, gross domestic product (GDP), gross fixed capital formation (GFCF), and exchange rates. The empirical findings confirm the presence of cointegration among the variables, indicating long-term equilibrium. Exports to China show the strongest and most significant positive impact on GDP, with an error correction mechanism revealing a 24% annual adjustment speed. Exports to the United States also contribute positively, but with lower elasticity, reflecting limited macroeconomic spillovers despite persistent trade surpluses. By contrast, exports to Japan display the weakest impact on GDP, with slower adjustment dynamics (18% per year) and high dependence on primary commodities. The results imply that while Indonesia’s G20 integration has enhanced trade opportunities, the country remains structurally vulnerable due to its reliance on resource-based exports. Policy recommendations include diversifying export markets, strengthening value-added manufacturing, reducing non-tariff barriers, and optimizing the role of regional trade agreements such as ACFTA and IJEPA.