Tradisi Haul Mbah Janten Di Dusun Beciro Desa Becirongengor Kecamatan Wonoayu Kabupaten Sidoarjo (Tintingan Folklor)
The Haul Mbah Janten Tradition In Beciro Hamlet Becirongengor Village Wonoayu Sub-District Sidoarjo Regency (Folklor Perspective)
Haul Mbah Janten adalah salah satu tradisi yang ada dikabupaten Sidoarjo tepatnya di Desa Becirongengor, Haul Mbah Janten tersebut tergolong pada folklor setengah lisan yang masih sering dilakukan oleh masyarakat Desa Becirongengor, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo. Tradisi haul ini dilaksanakan oleh para warga sebagai bentuk rasa hormat kepada sesepuh yang membabad alas, tidak hanya itu sesepuh tersebut juga mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam yang sampai sekarang digunakan dalam keseharian masyarakat Desa Besirongengor. Rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana awal mulanya, wujud dan makna didalam tradisi haul, dan fungsi dari tradisi haul tersebut. Adapun konsep yang digunakan dalam penelitian ini konsep masyarakat Surabaya sub-Sidoarjo, konsep kebudayaan Jawa, konsep folklor setengah lisan, konsep tradisi Jawa, konsep makna, dan yang terakhir konsep fungsi. Selain itu adanya penelitian ini juga mempunyai tujuan yaitu dengan adanya penelitian ini yang mengangkat judul Haul Mbah Janten bisa menambah wawasan orang yang membaca, yang kedua adanya skripsi ini untuk mendeskripsikan dan menjelaskan mengenai tradisi Haul Mbah Janten dengan titingan folklor. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Sumber data yang digunakan dalam penlitian yaiku sumber data primer dan sumber data sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah wawancara dan dokumentasi. Untuk rangkaian acara dalam tradisi Haul Mbah Janten ini dibagi menjadi tiga rangkaian. Yang pertama persiapan didalamnya terdapat kegiatan membentuk panitian, menyiapkan peralatan yang dibutuhkan, dan persyaratan untuk warga saat acara haul. Yang kedua pelaksanaan didalamnya terdapat kegiatan seperti pembacaan Al-Qur’an dari juz 1 sampai juz 30, sambutan dari ketua pelaksana dan kepala desa, kirim doa dan tahlilan. Yang ketiga penutupan yaitu kegiatan terakhir dalam acara haul ini adalah makan-makan dan bersih-bersih. Selain itu didalam haul ini juga dibutuhkan peralatan dan barang-barang yang harus ada saat acara haul yaitu sesaji, berkat, tumpeng, dan jajan pasar. Tradisi Haul Mbah Janten ini juga mempunyai fungsi yang bermanfaat seperti sebagai sistem proyeksi, pengesahan budaya, sarana pendidikan, sarana mendirikan norma masyarakat, dan masih banyak lainnya. Oleh karna itu adanya tadisi Haul Mbah Janten ini sangat bermanfaat untuk masyarakat dan generasi yang akan datang bahwasannya asal mula adanya desa yang merka tempati dan keadaan masyarakat yang sekarang ini karena Mbah Janten dan keluarga dahulu. Kata Kunci : Tradhisi Haul, Tintingan Folklor, Mbah Janten
The Haul Mbah Janten is a tradition held in Becirongengor Village, Wonoayu Sub-District, Sidoarjo Regency, classified as a semi-oral folklore that is still frequently practiced by the local community. This haul tradition is carried out by residents as a form of respect for the elder who pioneered the village’s establishment. Additionally, this elder taught Islamic teachings that continue to be applied in the daily lives of the Becirongengor Village community. The research problem statement focuses on the origin, form, meaning, and function of the Haul Mbah Janten tradition. The concepts used in this research include the Surabaya sub Sidoarjo community, Javanese culture, semi-oral folklore, Javanese tradition, meaning, and function. Furthermore, this research aims to broaden the readers’ knowledge about the Haul Mbah Janten tradition and to describe and explain the tradition from a folklore perspective. The research method employed is qualitative descriptive. Data sources consist of primary data and secondary data. Data collection techniques include interviews and documentation. The series of events in the Haul Mbah Janten tradition is divided into three stages. The first is preparation, which includes forming a committee, preparing necessary equipment, and setting requirements for residents during the haul event. The second is implementation, encompassing activities such as reciting the Qur’an from Juz 1 to Juz 30, speeches by the event coordinator and village head, sending prayers, and tahlilan. The third is the closing, which involves the final activities of communal eating and cleaning up. Additionally, the haul requires essential items such as offerings, berkat (blessed food), tumpeng (cone-shaped rice dish), and traditional market snacks. The Haul Mbah Janten tradition also serves beneficial functions, including as a projection sistem, cultural validation, educational medium, a means to establish community norms, and many others. Therefore, the Haul Mbah Janten tradition is highly valuable for the community and future generations, as it highlights the origin of the village they inhabit and the current state of society, attributed to Mbah Janten and his family in the past. Keywords: Haul Tradition, Folklore Perspective, Mbah Janten