Wayang kulit Jawa Timur memiliki cengkok yang berwarna-warni. Diantaranya adalah cengkok Porong, cengkok Mojokerto, cengkok Malang, cengkok Surabaya, cengkok Jombang, dan cengkok Lamongan. Setiap cengkok juga mempunyai ciri khasnya masing-masing. Menurut Basir (2013) ciri khas wayang kulit Jawa Timur adalah (1) iringan lagu atau alat musik pengiring, (2) bentuk wayang, (3) urutan adegan, dan (4) bahasa dan ciri khas wayang. Iringan atau gamelan yang digunakan meliputi bonang babok, bonang penersus, gambang, slenthem, kempul, kenong, saron, siter, rebab, demung, gender, kendhang, dan gong. Sementara itu, cengkok Malang atau yang disebut dengan gaya Malangan lebih menonjol pada iringan gendang pelog. Gaya Mojokerto lebih menonjol pada bentuk tari wayang. Selain itu, gaya porongan lebih menonjol pada bentuknya, melengkung dan lurus. Pertunjukan wayang kulit Ki Puguh Pasetyo mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan dalang lain, yaitu gaya yang digunakannya, baik gaya pesisiran maupun gaya yang sudah dikembangkan menjadi gaya Gresikan. Seperti halnya Ki Puguh Prasetyo yang memerankan tokoh Mujeni dengan guyonan penuh nasihat selama pementasan, yang membuat pementasan ini makin menarik adalah gineme atau percakapan yang dilakukan tokoh Mujeni. Kata-kata yang diucapkan tokoh Mujeni tersebut juga dikemas oleh Ki Puguh Prasetyo menjadi guyonan yang mengundang perhatian penonton. Dalam tuturan yang diucapkan oleh tokoh Mujeni tidak semuanya dapat dipahami maka setelah tuturan yang diucapkan oleh Ki Puguh Prasetyo melalui tokoh Mujeni, beliau menjelaskan apa maksud dari tuturan tersebut. Karakter Mujeni diperkenalkan untuk menghibur dan memberikan bimbingan kepada penonton. Kenyamanan dan bimbingan karakter tercermin dalam ucapannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimana bentuk tindak tutur tokoh Mujeni dalam pertunjukan wayang kulit Jawa Timur karya Puguh Prasetyo? (2) Jenis tindak tutur yang menyertai tokoh Mujeni dalam pertunjukan wayang Jawa Timur karya Puguh Prasetyo. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Deskriptif berarti mengungkapkan hasil penelitian secara deskriptif. Penelitian deskriptif menggambarkan fakta dan gejala secara berurutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif karena data yang dikumpulkan berupa kata-kata dari transkrip percakapan pada pertunjukan wayang kulit Jawa Timur karya Ki Puguh Prasetyo.
East Javanese shadow puppets have colorful cengkok. Among them are Porong cengkok, Mojokerto cengkok, Malang cengkok, Surabaya cengkok, Jombang cengkok, and Lamongan cengkok. Each cengkok also has its own characteristics. According to Basir (2013) the characteristics of East Javanese shadow puppets are (1) accompaniment of songs or accompanying musical instruments, (2) the form of the puppet, (3) the sequence of scenes, and (4) the language and characteristics of the puppet. The accompaniment or gamelan used includes bonang babok, bonang penersus, gambang, slenthem, kempul, kenong, saron, siter, rebab, demung, gender, kendhang, and gong. Meanwhile, Malang cengkok or what is called the Malangan style is more prominent in the accompaniment of pelog drums. The Mojokerto style is more prominent in the form of puppet dance. In addition, the porongan style is more prominent in its shape, curved and straight. Ki Puguh Pasetyo's shadow puppet performance has its own characteristics that distinguish it from other puppeteers, namely the style he uses, both coastal styles and styles that have been developed into Gresikan styles. Like Ki Puguh Prasetyo who plays the character Mujeni with jokes full of advice during the performance, what makes this performance even more interesting is the gineme or conversation carried out by the character Mujeni.
The words spoken by the character Mujeni are also packaged by Ki Puguh Prasetyo into jokes that attract the attention of the audience. In the speech spoken by the character Mujeni, not everything can be understood, so after the speech spoken by Ki Puguh Prasetyo through the character Mujeni, he explains what the meaning of the speech is. The character Mujeni is introduced to entertain and provide guidance to the audience. The comfort and guidance of the character are reflected in his speech. The formulation of the problem in this study is (1) What is the form of speech acts of the character Mujeni in the East Javanese shadow puppet performance by Puguh Prasetyo? (2) The types of speech acts that accompany the character Mujeni in the East Javanese shadow puppet performance by Puguh Prasetyo. The research method used is descriptive qualitative. Descriptive means expressing research results descriptively. Descriptive research describes facts and symptoms sequentially. This study uses a qualitative method because the data collected are in the form of words from transcripts of conversations in the East Javanese shadow puppet show by Ki Puguh Prasetyo.