Analisis Wakamono Kotoba (若者言葉) dalam TikTok Bertema Kehidupan Remaja (Periode 2025–2026): Kajian Sosiopragmatik.
Sociopragmatic Analysis of Wakamono Kotoba in TikTok Content Themed on Teenage Life (2025–2026 Period)
Analisis Wakamono Kotoba (若者言葉) dalam TikTok Bertema Kehidupan Remaja (Periode 2025–2026): Kajian Sosiopragmatik
Nama : Omar Syarief Saladin
NIM : 22020104036
Program Studi : S-1 Pendidikan Bahasa Jepang
Jurusan : Bahasa dan Sastra Jepang
Fakultas : Bahasa dan Seni
Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya
Pembimbing : Dr. Ina Ika Pratita, M.Hum.
Penggunaan media sosial berbasis video, khususnya TikTok, telah menjadikannya ruang komunikasi utama bagi remaja Jepang. Dalam ruang tersebut, remaja secara aktif menggunakan wakamono kotoba (若者言葉) atau ragam bahasa remaja Jepang yang bersifat kreatif, dinamis, dan kontekstual. Penggunaan wakamono kotoba di TikTok sering kali mengandung makna yang tidak disampaikan secara eksplisit, melainkan bersifat implisit dan hanya dapat dipahami melalui konteks percakapan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk penggunaan wakamono kotoba, menganalisis makna implisit berdasarkan teori implikatur Grice (1975), serta mendeskripsikan pelanggaran maksim Grice yang terjadi dalam penggunaan wakamono kotoba pada TikTok bertema kehidupan remaja periode 2025–2026. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kajian sosiopragmatik. Sumber data berupa enam akun TikTok publik milik remaja Jepang berusia 13–25 tahun. Data dikumpulkan melalui metode simak dengan teknik catat terhadap tuturan lisan dalam video yang dipublikasikan pada periode 2025–2026. Analisis dilakukan dengan mengidentifikasi bentuk linguistik wakamono kotoba, menafsirkan makna implisit melalui konsep implikatur Grice, dan mengidentifikasi maksim yang dilanggar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wakamono kotoba dalam data terbentuk melalui proses pemendekan, reduplikasi, nominalisasi, pembentukan adjektiva informal, serta pergeseran dan perluasan makna. Setiap data mengandung implikatur percakapan yang dihasilkan melalui pelanggaran keempat maksim Grice, dengan pelanggaran maksim cara sebagai yang paling dominan. Simpulan penelitian ini adalah bahwa wakamono kotoba di TikTok tidak hanya berfungsi sebagai variasi leksikal, melainkan sebagai strategi pragmatik yang menghasilkan makna implisit melalui pelanggaran maksim percakapan. Disarankan bagi penelitian selanjutnya untuk memperluas jumlah data dan mempertimbangkan aspek multimodal dalam analisis.
Kata kunci: wakamono kotoba, TikTok, implikatur, maksim Grice, sosiopragmatik, bahasa remaja Jepang
Analysis of Wakamono Kotoba (若者言葉) in TikTok Videos on Youth Life Themes (Period 2025–2026): A Sociopragmatic Study
Name : Omar Syarief Saladin
Student ID : 22020104036
Study Program : S-1 Japanese Language Education
Department : Japanese Language and Literature
Faculty : Faculty of Languages and Arts
Institution : Universitas Negeri Surabaya
Advisor : Dr. Ina Ika Pratita, M.Hum.
The widespread use of video-based social media, particularly TikTok, has made it a primary communication space for Japanese youth. Within this space, young people actively employ wakamono kotoba (若者言葉), a creative, dynamic, and contextual variety of Japanese youth language. The use of wakamono kotoba on TikTok frequently carries implicit meaning that can only be understood through conversational context. This study aims to describe the linguistic forms of wakamono kotoba, analyze implicit meaning based on Grice’s (1975) implicature theory, and describe violations of Gricean maxims in the use of wakamono kotoba on TikTok videos with youth life themes during 2025–2026. This study employs a qualitative approach with a sociopragmatic framework. Data were sourced from six public TikTok accounts owned by Japanese youths aged 13–25 years. Data were collected through the observation method with note-taking technique applied to spoken utterances in videos published during the 2025–2026 period. Analysis was conducted by identifying linguistic forms of wakamono kotoba, interpreting implicit meaning through Grice’s implicature concept, and identifying the maxims violated. The findings indicate that wakamono kotoba are formed through clipping, reduplication, nominalization, informal adjective formation, and semantic shift and broadening. Each data instance contains conversational implicature generated through violations of Gricean maxims, with the maxim of manner being the most frequently violated. This study concludes that wakamono kotoba on TikTok functions not merely as lexical variation but as a pragmatic strategy that produces implicit meaning through maxim violations. Future research is recommended to expand the dataset and consider multimodal aspects in the analysis.
Keywords: wakamono kotoba, TikTok, implicature, Gricean maxims, sociopragmatics, Japanese youth language