Kabupaten Banyuwangi memiliki beragam adat dan budaya. salah satunya adalah ritual tari seblang. Ritual tari seblang merupakan budaya masyarakat Suku Osing. Sebagai warisan budaya yang harus dijaga, pada tahun 1991 ritual tari seblang telah mengalami pergeseran nilai. Puncak dari pergeseran nilai ritual tari seblang di Desa Olihsari adalah pada tahun 2015. Pada tahun 2015 ritual tari seblang telah ditetapkan sebagai objek pariwisata dan mencapai puncak populeritasnya dikalangan pariwisatawan.
Didalam penelitian ini menggunakan 4 metode dalam mengumpulkan sumber, metode yang pertama adalah heuristik, kedua kritik sumber, ketiga interpretasi, dan yang keempat adalah historiografi. Tahapan metode tersebut akan membantu dalam menjawab tiga permasalahan yang ingin diteliti. Pertanyaan yang pertama adalah a. Bagaimana ritual tari seblang diselenggarakan secara tradisional di desa Olihsari kecamatan Glagah kabupaten Banyuwangi.? b. Mengapa ritual tari seblang secara ritualitas mengalami pergeseran.? c. Bagaimana eksistensi ritual tari seblang tradisional setelah muncul kreasi tari seblang.?
Menurut hasil penelitian, pergeseran nilai pada ritual tari seblang di awali pada tahun 1991 dan mengalami puncak eksistensi pada tahun 2015 ketika ritual tari seblang ditetapkan sebagai objek pariwisata. Pergeseran nilai ritual tari seblang terdiri dari beberapa nilai antara lain adalah nilai spiritual, nilai seni dan nilai budaya. ritual ttari seblang sebagai objek pariwisata diadakan 10 hari sebelum hari raya idul fitri yang ditentukan oleh musyawarah beberapa pihak.
Kata Kunci: Pergeseran Nilai. Ritual Tari Seblang
Banyuwangi Regency has a variety of customs and cultures. one of them is a seblang dance ritual. The ritual of seblang dance is the culture of the Osing people. As a cultural heritage that must be guarded, in 1991 the seblang dance ritual had undergone a shift in value. The culmination of the shift in the value of the seblang dance ritual in Olihsari Village was in 2015. In 2015 seblang dance rituals were designated as objects of tourism and reached the peak of their popularity among tourists
In this study using 4 methods in gathering resources, the first method is heuristics, both source criticism, the three interpretations, and the fourth is historiography. The stages of the method will help in answering the three problems that you want to study. The first question is a. How is the seblang dance ritual held traditionally in Olihsari village, Glagah district, Banyuwangi district? b. Why is a seblang dance ritual ritually shifting? c. How is the existence of a traditional seblang dance ritual after the emergence of seblang dance creations?
According to the results of the study, the shift in values in the seblang dance ritual began in 1991 and experienced a peak in existence in 2015 when seblang dance rituals were designated as objects of tourism. The shift in the value of seblang dance rituals consists of several values including spiritual values, artistic values and cultural values. the tariari seblang ritual as a tourism object is held 10 days before Eid al-Fitr which is determined by the deliberations of several parties.
Keywords: Value Shift. Seblang Dance Ritual