MASKULINITAS DALAM KUASA PATRIARKI ETNIS TIONGHOA PADA NOVEL XǓ SĀN GUĀN MÀI XUÈ JÌ《许三观卖血记》KARYA YÚ HUÁ《余华》
MASCULINITY IN POWER OF CHINESE ETHNIC PATRIARCHY IN THE NOVEL XǓ SĀN GUĀN MÀI XUÈ JÌ《许三观卖血记》BY YÚ HUÁ《余华》
Patriarki dalam masyarakat Tionghoa telah menjadi akar yang kuat dalam sejarah dan tradisi, dengan menempatkan laki-laki sebagai figur dominan dalam keluarga dan hierarki sosial melalui nilai-nilai konfusianisme yang mengukuhkan figur ayah sebagai pemegang otoritas moral, ekonomi, dan kehormatan keluarga. Dalam sistem patrilineal, maskulinitas menjadi ukuran nilai sosial, sehingga kegagalan laki-laki memenuhi standar fisik, ekonomi, dan biologis melahirkan stigma yang meruntuhkan legitimasi laki-laki sebagai kepala keluarga dan berfungsi sebagai mekanisme kontrol sosial. Dalam novel Xǔ Sān Guān Mài Xuè Jì《许三观卖血记》, maskulinitas direpresentasikan melalui penilaian atas tubuh, kemampuan bekerja, dan relasi biologis. Praktik transfusi darah dinormalisasi sebagai tolok ukur tanggung jawab laki-laki. Melalui perspektif hegemoni Antonio Gramsci, praktik tersebut menunjukkan bagaimana maskulinitas hegemonik direproduksi melalui persetujuan sosial dan internalisasi nilai, dengan stigma sebagai alat hegemoni tanpa paksaan langsung.
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa tuturan dan kalimat yang merepresentasikan hegemoni maskulinitas dan stigma maskulinitas dalam novel Xǔ Sān Guān Mài Xuè Jì《许三观卖血记》》.Selain itu, data hegemoni maskulinitas dan stigma maskulinitas yang ditemukan dideskripsikan secara runtut dan jelas. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik baca dan teknik catat.
Hasil penelitian ini terbagi menjadi 2 kategori utama: hegemoni maskulinitas dan stigma maskulinitas. Berdasarkan hasil analisis data, ditemukan 6 konsep hegemoni yaitu: (1) ideologi, (2) kebudayaan, (3) kepercayaan populer, (4) kaum intelektual, (5) negara, dan (6) hegemoni.
Patriarchy in Chinese society has been deeply rooted throughout history and tradition, placing men as dominant figures in the family and social hierarchy through confucian values that reinforce the father as the holder of moral, economic, and family honor authority. In a patrilineal system, masculinity becomes a measure of social value, so that a man's failure to meet physical, economic, and biological standards gives rise to a stigma that undermines his legitimacy as head of the family and functions as a mechanism of social control. In the novel Xǔ Sān Guān Mài Xuè Jì《许三观卖血记》, masculinity is represented through the assessment of the body, work ability, and biological relations. The practice of blood transfusion is normalized as a measure of male responsibility.
This research is a qualitative study using descriptive methods. The data used in this research are statements and sentences that represent the hegemony of masculinity and the stigma of masculinity in the novel Xǔ Sān Guān Mài Xuè Jì《许三观卖血记》. In addition, the data on the hegemony of masculinity and the stigma of masculinity found are described in a coherent and clear manner. Data collection in this study used reading and note-taking techniques.
The results of this research are divided into two main categories: the hegemony of masculinity and the stigma of masculinity. Based on the results of data analysis, six concepts of hegemony were found, namely: (1) ideology, (2) culture, (3) popular beliefs, (4) intellectuals, (5) the state, and (6) hegemony.