IMPLEMENTASI PEDAGOGI MULTILITERASI DALAM PENGEMBANGAN LITERASI MULTIMODAL DAN EKOLOGIS BAHASA INGGRIS
IMPLEMENTING MULTILITERACIES PEDAGOGY TO PROMOTE ENGLISH MULTIMODAL AND ECOLOGICAL LITERACY
Disertasi ini mengkaji bagaimana pedagogi multiliterasi dapat direkonseptualisasikan sebagai suatu praksis literasi yang bersifat ekologis dalam pembelajaran Bahasa Inggris di perguruan tinggi Islam berwawasan lingkungan di Indonesia. Pembelajaran Bahasa Inggris di pendidikan tinggi masih kerap berfokus pada tata bahasa, reproduksi teks, dan keterampilan teknis kebahasaan, sehingga kurang memadai untuk merespons realitas ekologis, kultural, dan moral yang membentuk kehidupan sehari-hari mahasiswa. Studi ini hadir untuk menjawab keterbatasan tersebut dengan menelaah bagaimana pengalaman ekologis dan praktik digital mereorganisasi makna dalam pembelajaran Bahasa Inggris. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan paradigma transformatif, yang didasarkan pada observasi kelas secara berkelanjutan, wawancara mendalam, serta analisis multimodal terhadap artefak yang diproduksi mahasiswa, seperti dokumenter ekologis, digital, ecogamifikasi, dan jurnalisme daring. Artefak-artefak tersebut dikembangkan melalui keterlibatan mahasiswa dengan isu-isu lingkungan lokal, seperti banjir, sampah, dan pertambangan, yang kemudian diterjemahkan ke dalam teks-teks multimodal yang berorientasi pada ruang publik.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa pedagogi multiliterasi dalam konteks ini tidak beroperasi sebagai urutan linear antara Situated Practice, Overt Instruction, Critical Framing, dan Transformed Practice. Keempat domain pedagogis tersebut justru membentuk suatu sistem ekologis yang bersifat rekursif, di mana pengalaman lingkungan yang dialami secara langsung, bimbingan etis termasuk yang dimediasi oleh kecerdasan buatan, kritik ideologis, dan tindakan publik saling membentuk secara berkelanjutan. Overt Instruction berfungsi sebagai ethical scaffolding sehingga memungkinkan tumbuhnya otonomi belajar yang tetap berlandaskan tanggung jawab sosial dan ekologis. Melalui Critical Framing, mahasiswa tidak hanya menganalisis wacana lingkungan, tetapi juga mendesain ulang wacana tersebut melalui artefak multimodal yang beredar di luar ruang kelas sebagai bentuk advokasi ekologis.
Penelitian ini memperkenalkan konsep multiliterasi ekologis sebagai praksis, di mana literasi dipahami sebagai bentuk partisipasi dalam kehidupan ekologis, kultural, dan politis. Studi ini juga mengembangkan konsep literasi eko-artifaktual dengan menunjukkan bahwa artefak yang diciptakan mahasiswa tidak hanya berfungsi sebagai luaran pembelajaran, melainkan sebagai agen yang menyimpan memori, memobilisasi komunitas, dan mengintervensi wacana ekologis. Disertasi ini berkontribusi pada pengembangan arsitektur teoretis dan pedagogis baru; Ecological Multiliteracies Framework, yang merekonfigurasi pendidikan Bahasa Inggris sebagai siklus rekursif yang melibatkan pengalaman ekologis yang dialami, pembelajaran etis dan dimediasi kecerdasan buatan, pembingkaian kritis, serta tindakan multimodal di ruang publik, sehingga menyediakan model kurikulum konkret untuk mengintegrasikan literasi ekologis dalam praktik pembelajaran sehari-hari.
This dissertation examines how multiliteracies pedagogy can be reconceptualised as an ecological and ethical form of literacy praxis in English Language Learning within a green Islamic university in Indonesia. While English instruction in higher education often remains focused on grammar, textual reproduction, and technical language skills, such approaches are inadequate for addressing the ecological, cultural, and moral realities that shape students’ everyday lives. This study responds to that limitation by exploring how ecological experience, religious values, and digital practices reorganise what it means to learn, teach, and use English. Drawing on a qualitative, transformative research design, the study is based on sustained classroom observation, in-depth interviews, and multimodal analysis of student-produced artefacts, including ecological documentaries, digital campaigns, eco-games, and web-based journalism. These artefacts were created as students engaged with local environmental issues such as flooding, waste, and mining, and translated these concerns into public-facing multimodal texts.
The findings show that multiliteracies pedagogy in this context does not operate as a linear sequence of Situated Practice, Overt Instruction, Critical Framing, and Transformed Practice. Instead, these pedagogical domains form a recursive ecological system in which lived environmental experience, ethical and AI-mediated guidance, ideological critique, and public action continually shape one another. Overt Instruction functions as ethical scaffolding rather than technical control, enabling learner autonomy while maintaining ecological and social responsibility. Through Critical Framing, students do not only analyse environmental discourse but redesign it through multimodal artefacts that circulate beyond the classroom as acts of ecological advocacy.
This study introduces the concept of ecological multiliteracies as praxis, in which literacy is understood as participation in environmental, cultural, and political life rather than as a set of transferable skills. It further advances eco-artifactual multiliteracies by demonstrating that student-created artefacts function not merely as learning outcomes but as agents that carry memory, mobilise communities, and intervene in ecological discourse. The dissertation contributes a new theoretical and pedagogical architecture, the Ecological Multiliteracies Framework, which reconfigures English language education as a recursive cycle of lived ecological experience, ethical and AI-mediated instruction, critical framing, and public multimodal action, providing a concrete curriculum model for embedding ecological literacy within everyday classroom practice.