MAKNA SIMBOLIK SABETAN DALAM PERTUNJUKAN RITUAL TIBAN DI DESA WAJAK BOYOLANGU KABUPATEN TULUNGAGUNG
THE SYMBOLIC MEANING OF SABETAN IN TIBAN RITUAL PERFORMANCES IN WAJAK BOYOLANGU VILLAGE, TULUNGAGUNG DISTRICT
Kesenian Tiban merupakan salah satu kesenian hasil dari peradaban kebudayaan masyarakat Desa Wajak yang sudah turun-temurun dari leluhur nenek moyang sejak abad ke-15. Tiban berasal dari kata tiba yang artinya jatuh pada saat musim kemarau. Tujuan diselenggarakannya Tiban, yaitu untuk melakukan kegiatan adu kekuatan di masyarakat yang mempunyai keyakinan sama dengan pengharapan akan “jatuh hujan”. Pertunjukan ritual Tiban didominasi oleh gerakan sabetan yang dilakukan oleh Peniban dengan membawa pecut. Gerakan sabetan pada Tiban memiliki makna simbolik atau simbol sebagai lambang berbahasa dan berkomunikasi. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan makna simbolik gerakan sabetan dalam pertunjukan ritual Tiban di desa Wajak Boyolangu kabupaten Tulungagung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan menggunakan landasan teori seni pertunjukan, pertunjukan ritual, kesenian Tiban, dan makna simbolik. Sumber data berasal dari person, place dan paper. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk membuktikan pengabsahan data pada penelitian ini menggunakan teknik triangulasi.
Hasil penelitian menyatakan bahwa pada masa modern ini, pertunjukan ritual Tiban tetap dilakukan oleh masyarakat Desa Wajak. Pada Pelaksanaan Tiban terdapat 3 struktur pertunjukan, meliputi awalan, saat pertunjukan ritual Tiban dan akhir pertunjukan ritual Tiban. Makna simbolik dalam pertunjukan ritual Tiban ditujukan sebagai sebuah pengorbanan setiap tetes darah yang keluar dari tubuh akibat goresan sebuah Ujong dengan kulit. Tiban memiliki 6 macam gerak sabetan sebagai media ungkapan penyampaian tujuan yang ingin disampaikan. Gerak tersebut, yaitu gerak muwung yang memiliki makna simbol konstitutif. Gerak nadah yang memiliki simbol ekspresif. Gerak nebah yang memiliki simbol pengetahuan. Gerak mlaku yang memiliki simbol awalan. Gerak ancang-ancang yang memiliki simbol gerak moral, dan gerak ngece yang memiliki simbol ekspresif.
Kata Kunci : Makna Simbolik, Sabetan, Tiban, Pertunjukan Ritual
Keywords: Symbolic Meaning, Sabetan, Tiban, Ritual Performance
Tiban art is one of the arts resulting from the cultural civilization of the Wajak Village community which has existed since the 15th century. Tiban is an art passed down from our ancestors. Tiban comes from the word arrived which means falling during the dry season. The purpose of holding Tiban is an activity carried out communally by the local community, with the same belief in carrying out strength-fighting activities in the hope that "rain will fall". In the performance, Tiban is dominated by slashing movements carried out by Peniban carrying a whip. Pecut comes from sodo palm called Ujong. The sabetan movement in Tiban has a symbolic meaning as a symbol of language and communication. The aim of this research is to describe the symbolic meaning of the slashing movement in Tiban art in Wajak Boyolangu village, Tulungagung district. This research uses qualitative methods and uses the theoretical basis of performing arts, ritual performances, Tiban arts, and symbolic meaning. Data sources come from person, place and paper. Data collection techniques use observation, interviews and documentation techniques. To prove the validity of the data in this research, triangulation techniques were used.
The results of the research state that in modern times, Tiban performances are still performed by the people of Wajak Village. In its implementation, Tiban has 3 performance structures, which include the beginning, the time of the Tiban ritual performance and the end of the Tiban ritual performance. The symbolic meaning in the Tiban ritual performance is intended as a sacrifice for every drop of blood that comes out of the body as a result of scratching an Ujong with the skin. Tiban has 6 types of slashing movements as a medium for expressing the purpose it wants to convey. This movement is the muwung movement which has a constitutive symbolic meaning. Nadah movements that have expressive symbols. The movement of the nebee is a symbol of knowledge. Actions that have a prefix symbol. The stance movement has a symbol of moral movement, and the ngece movement has an expressive symbol.