KONSTRUKSI SOSIAL KESENIAN JARAN JENGGO "ASWO KALOKO JOYO" DESA SOLOKURO KABUPATEN LAMONGAN
SOCIAL CONSTRUCTION OF JARAN JENGGO ART "ASWO KALOKO JOYO" IN SOLOKURO VILLAGE, LAMONGAN REGENCY
KONSTRUKSI SOSIAL KESENIAN JARAN JENGGO "ASWO KALOKO JOYO" DI DESA SOLOKURO KABUPATEN LAMONGAN
Nama : Alvina Aprilia Yudistira
NIM : 21020134027
Prodi : S1 Pendidikan Sendratasik
Fakultas : Fakultas Bahasa dan Seni
Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya
Pembimbing : Dr. Welly Suryandoko, S.Pd., M.Pd.
Tahun : 2025
Jaran Jenggo merupakan salah satu kesenian tradisional yang berkembang di Kabupaten Lamongan, khususnya di daerah Solokuro. Kehadiran Jaran Jenggo dalam berbagai prosesi adat dan hajatan, seperti khitanan dan pernikahan, merepresentasikan status sosial, kehormatan, dan prestise pemilik hajat di mata masyarakat. Masyarakat memaknai bahwa semakin megah dan meriah pelaksanaan pertunjukan, semakin tinggi pula citra sosial yang ditampilkan. Fenomena ini menjadi alasan mengapa masyarakat Solokuro, bahkan dari kalangan menengah ke bawah, berupaya menghadirkan Jaran Jenggo dalam perayaan-perayaan penting. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teori konstruksi sosial dari Berger dan Luckman terdapat tiga tahapan yaitu Eksternalissai, Objektivasi, dan Internalisasi. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan Konstruksi Sosial Kesenian Jaran Jenggo. Berdasarkan hasil penelitian, Kebutuhan untuk menunjukkan status sosial melalui kehadiran Jaran Jenggo merupakan hasil dari proses eksternalisasi, yakni penciptaan tindakan sosial untuk memperoleh pengakuan dan prestise. Melalui objektivasi, kesenian ini diterima sebagai simbol kehormatan dan kedudukan sosial. Selanjutnya, melalui internalisasi, masyarakat memandang wajar bahkan perlu menghadirkan Jaran Jenggo dalam momen penting sebagai bagian dari identitas sosial dan harga diri.
Kata Kunci : Jaran Jenggo, Konstruksi sosial, Tradisi khitan, Simbolik sosial
SOCIAL CONSTRUCTION OF JARAN JENGGO ART
"ASWO KALOKO JOYO" IN SOLOKURO VILLAGE, LAMONGAN REGENCY
Name : Alvina Aprilia Yudistira
Study Program : S1 Sendratasik Education
Faculty : Faculty of Languages and Arts
Institution Name : Surabaya State University
Supervisor : Dr. Welly Suryandoko, S.Pd., M.Pd.
Year : 2025
Jaran Jenggo is a traditional art form that originated in Lamongan Regency, specifically in the Solokuro region. During circumcision ceremonies, this art form takes the form of a procession in which the bride, who has undergone circumcision, rides a horse controlled by a handler and accompanied by various attractions. This tradition began in 1907 and continues to this day. This study aims to describe how the Jaran Jenggo community shapes and maintains its cultural identity through language, symbols, and social interactions. The study employs a descriptive qualitative method, using direct observation, in-depth interviews, and documentation to collect data. According to Berger and Luckman's social construction theory, there are three stages: externalization, objectification, and internalization. This study aims to describe the social construction of Jaran Jenggo art. According to the research findings, the externalization of Jaran Jenggo art originated from the tradition of using horses during the missionary activities of Sunan Drajat and Sunan Sendang Duwur. This tradition was then inherited and developed into a unique performance art in Lamongan. Jaran Jenggo's objectification is reflected in the symbolic, spiritual, and local cultural identity values inherent in its movement, costume, and language. Internalization occurs through primary and secondary socialization, involving individuals from an early age, and integrating them into the wider community. This ensures that the art form is preserved and accepted as an integral part of the Lamongan community's social life.
Keywords: Jaran Jenggo, Social construction, Circumcision tradition, Social symbolism