Investigasi Paralelisme Verbal dalam Khotbah Reverend Mariann Budde pada Ibadah Pelantikan Presiden
Investigation of Verbal Parallelism in Reverend Mariann Budde's Sermon at the Presidential Inauguration Prayer Service
Bahasa memiliki peran penting dalam khotbah publik sebagai sarana untuk memengaruhi, menginformasikan, dan membangun keterhubungan emosional dengan audiens. Penelitian ini mengeksplorasi penggunaan paralelisme verbal sebagai ciri stilistik dalam khotbah yang disampaikan oleh Pendeta Mariann Budde pada Layanan Doa Pelantikan Presiden Amerika Serikat tahun 2025. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengidentifikasi delapan jenis paralelisme verbal berdasarkan klasifikasi dari Leech tahun 1969. Sebanyak dua puluh delapan satuan linguistik dalam khotbah ditemukan mengandung berbagai bentuk paralelisme verbal, dengan anafora sebagai bentuk yang paling dominan. Untuk menganalisis bagaimana audiens menginterpretasikan penggunaan gaya bahasa tersebut, kuesioner disebarkan kepada seratus lima belas partisipan. Jawaban mereka dianalisis berdasarkan empat fungsi foregrounding yang dikemukakan oleh Emmott dan Alexander pada tahun 2014, yaitu menyoroti poin utama, menghasilkan makna tematik, membangkitkan respons emosional, dan menciptakan efek ikonik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paralelisme verbal memberikan kontribusi besar terhadap kejelasan, daya ingat, dan kekuatan emosional dalam penyampaian khotbah. Meskipun penelitian ini hanya terbatas pada satu khotbah, temuan ini membuka peluang bagi studi lebih lanjut terhadap gaya bahasa dalam khotbah atau pidato publik lainnya.
Kata kunci: stilistika, paralelisme verbal, foregrounding, khotbah.
Language plays a significant role in public sermons as a medium to influence, inform, and build emotional connection with audiences. This study explores the use of verbal parallelism as a stylistic feature in Reverend Mariann Budde’s sermon delivered at the 2025 United States Presidential Inauguration Prayer Service. Using a qualitative approach, the study identifies eight types of verbal parallelism based on the classification by Leech in 1969. A total of twenty-eight linguistic units from the sermon were found to contain various forms of verbal parallelism, with anaphora being the most frequently used. To examine how the audience interpreted these stylistic choices, a questionnaire was distributed to one hundred fifteen participants. The responses were analyzed based on the four functions of foregrounding proposed by Emmott and Alexander in 2014, which include highlighting specific key points, producing thematic meaning, prompting emotional response, and yielding iconic effects. The findings show that verbal parallelism contributed significantly to the clarity, retention, and emotional strength of the sermon. Although this study focuses only on a single sermon, it opens opportunities for future research on the stylistic features of other religious or political speeches.
Keywords: stylistics, verbal parallelism, foregrounding, sermon