Representasi Perlawanan Pribumi terhadap Kolonial dalam Novel 1890 Karya Ayu Dewi (Kajian Poskolonialisme Homi K. Bhabha)
Representation of Indigenous Resistance against Colonialism in the 1890 Novel by Ayu Dewi (Homi K. Bhabha's Study of Postcolonialism)
ABSTRAK
Nama : Nur Mazaya Churin’in
Judul : Representasi Perlawanan Pribumi terhadap Kolonial dalam Novel 1890 Karya Ayu Dewi (Kajian Poskolonialisme Homi K. Bhabha)
Bentuk tugas akhir : Skripsi
Nama Kota : Surabaya
Fakultas : Bahasa dan Seni
Tahun : 2025
Dosen Pembimbing : Prof. Dr. H. Setya Yuwana, M.A.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan untuk memahami bagaimana perlawanan kultural pribumi terhadap kolonial direpresentasikan dalam karya sastra, khususnya novel 1890 karya Ayu Dewi. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji bentuk- bentuk mimikri, hibriditas, dan ambivalensi sebagai strategi resistensi tokoh pribumi terhadap dominasi kolonial dengan menggunakan teori poskolonialisme Homi K. Bhabha. Penelitian dilakukan menggunakan Teknik pengmpulan data berupa studi kepustakaan dengan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan objektif. Sumber data berupa kutipan naratif, dialog, dan deskripsi peristiwa dalam novel, yang dikumpulkan melalui teknik pembacaan mendalam dan pencatatan. Instrumen penelitian adalah peneliti sendiri dengan bantuan lembar kategorisasi data. Analisis data menggunakan pendekatan hermeneutik yang meliputi tahap reduksi, interpretasi, dan penarikan makna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mimikri muncul melalui tindakan tokoh Pamungkas yang meniru system pendidikan dan pekerjaan kolonial sebagai strategi resistensi terselubung. Hibriditas terlihat pada percampuran budaya kolonial dan lokal yang membentuk identitas baru dalam praktik bahasa, gaya hidup, dan nilai sosial. Ambivalensi tampak melalui konflik batin tokoh yang berada di antara kekaguman terhadap modernitas kolonial dan trauma penindasan. Simpulan penelitian menegaskan bahwa novel 1890 tidak hanya menggambarkan sejarah kolonial, tetapi juga memaparkan negosiasi identitas yang kompleks melalui resistensi simbolik. Saran penelitian mendorong kajian lanjutan mengenai bentuk perlawanan kultural lain dalam sastra poskolonial Indonesia.
Kata kunci: ambivalensi, hibriditas, Homi K. Bhabha, mimikri, poskolonialisme.
ABSTRACT
Name : Nur Mazaya Churin’in
Title : Representation of Indigenous Resistance to Colonialism in Ayu Dewi's Novel 1890 (A Study of Homi K. Bhabha's Postcolonialism)
Final Project Format : Thesis
City Name : Surabaya
Faculty : Language and Arts
Year : 2025
Supervisor : Prof. Dr. H. Setya Yuwana, M.A.
This research is motivated by the need to understand how indigenous cultural resistance to colonialism is represented in literary works, specifically Ayu Dewi's novel 1890. The purpose of this research is to examine forms of mimicry, hybridity, and ambivalence as strategies of resistance by indigenous characters to colonial domination using Homi K. Bhabha's postcolonialism theory. The research was conducted using a literature study technique using a qualitative descriptive method with an objective approach. The data sources consisted of narrative excerpts, dialogue, and descriptions of events in the novel, collected through in-depth reading and note-taking techniques. The research instrument was the researcher herself, assisted by a data categorization sheet. Data analysis employed a hermeneutic approach, encompassing the stages of reduction, interpretation, and meaning-making. The results show that mimicry emerges through the actions of the character Pamungkas, who imitates the colonial education and employment system as a covert resistance strategy. Hybridity is evident in the blending of colonial and local cultures, forming a new identity through language practices, lifestyles, and social values. Ambivalence is evident through the character's inner conflict, which oscillates between admiration for colonial modernity and the trauma of oppression. The study's conclusion confirms that the novel 1890 not only depicts colonial history but also depicts complex identity negotiations through symbolic resistance. Research recommendations encourage further study of other forms of cultural resistance in Indonesian postcolonial literature.
Keywords: ambivalence, hybridity, Homi K. Bhabha, mimicry, postcolonialism.