Tri Hita Karana Sebagai Penguat Resiliensi pada Perempuan yang Mengalami Perceraian
Tri Hita Karana as a Strengthener of Resilience in Women Experiencing Divorced
Perceraian di Kota Denpasar meningkat setiap tahunnya sehingga berdampak signifikan secara psikologis dam sosial, terutama bagi perempuan. Penelitian ini berujuan memahami konsep budaya Tri Hita Karana sebagai penguat resiliensi perempuan yang mengalami perceraian. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk menggali kondisi-kondisi khusus pada partisipan. Partisipan berjumlah tiga perempuan beragama hindu yang bercerai tidak lebih dari lima tahun, memiliki anak, bekerja, dan berdomisili di Bali. Serta dua significant others dari masing-masing partisipan, yaitu anak dan teman. Data diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa nilai Pawongan dalam Tri Hita Karana paling kuat dalam membentuk resiliensi perempuan yang mengalami perceraian. Setelah melewati perceraian, ketiga partisipan mampu menunjukkan ketujuh aspek resiliensi. Dalam proses mencapai resilien, Tri Hita Karana dapat menjadi penguat resiliensi pada perempuan yang mengalami perceraian. Penelitian ini memberi gambaran resiliensi pada perempuan yang mengalami perceraian diperkuat dengan konsep budaya Bali, Tri Hita Karana.
Kata kunci: Perceraian, perempuan, resiliensi, tri hita karana
The increasing rate of divorce in Denpasar City each year has led to significant psychological and social impacts, particularly on women. This study aims to explore the cultural concept of Tri Hita Karana as a source of resilience for women who have experienced divorce. Employing a qualitative methodology with a case study approach, the research delves into the specific lived experiences of the participants. The study involved three Hindu women who had been divorced for no more than five years, were mothers, employed, and residing in Bali. Additionally, two significant individuals from each participant — namely a child and a close friend — were included. Data were collected through semi- structured interviews and analyzed thematically. Findings indicate that the Pawongan element of Tri Hita Karana plays the most significant role in fostering resilience among divorced women. All three participants demonstrated the seven dimensions of resilience following their divorce. Throughout this process, Tri Hita Karana served as a cultural foundation reinforcing their ability to adapt and recover. This study highlights how the resilience of divorced women is supported and strengthened by the Balinese cultural values embedded in Tri Hita Karana.
Keywords: Divorce, resilience, tri hita karana, women