THE CONCEPT OF KAWRUH JIWA IN SERAT WIDYAKIRANA (A PHILOLOGICAL STUDY)
Kawruh jiwa merupakan konsep yang berisi pengetahuan mengenai cara-cara yang harus di lakukan manusia untuk meraih kebahagiaan dalam kehidupannya. Konsep yang menjadi pendukung dalam keberhasilan penelitian ini yaitu konsep kawruh jiwa menurut Ki Ageng Suryomentaram. Penelitian ini akan membedah gambaran konsep kawruh jiwa dalam Serat Widyakirana NB 994. Kajian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kajian filologi yang bertujuan untuk menjelaskan (1) deskripsi naskah; (2) transliterasi; (3) suntingan dan kritik Teks; (4) terjemahan); dan (5) konsep kawruh jiwa dalam Serat Widyakirana NB 994. Penelitian ini juga menggunakan metode penelitian kualitatif dengan desain penelitian deskriptif analitik. Analisis dalam penelitian ini difokuskan pada sumber data primer berupa Serat Widyakirana NB 994 dan sumber data sekunder sebagai pendukung berupa buku, artikel dan jurnal. Hasil analisis dalam penelitian ini berupa penjelasan alur penelitian filologi serta gambaran rinci konsep kawruh jiwa yang terkandung dalam Serat Widyakirana NB 994. Alur penelitin filologi dijelaskan secara runtut dimulai dari deskripsi Serat Widyakirana NB 994, transliterasi Teks, suntingan dan kritik Teks dengan menggunakan metode edisi kritis, terjemahan dan konsep kawruh jiwa yang dimuat dalam Teks. Pembahasan utama dalam konsep kawruh jiwa tersebut dibagi menjadi tiga yaitu rasa, aku Kramadangsa dan mawas diri. Rasa tersebut berupa rasa pangrasa yang terbagi atas rasa cinta kasih, ikhlas, senang melestarikan kebudayaan, hawa nafsu dan iri dengki. Kemudian bagian aku Kramadangsa berisi empat tahapan perkembangan jiwa manusia yang terdiri atas dimensi I manusia sebagai juru catat, dimensi II atau catatan-catatan, dimensi III yang bisa juga disebut Kramadangsa serta dimensi IV atau manusia tanpa ciri. Bagian terakhir yaitu mawas diri sebagai hasil dari upaya manusia dalam mengolah jiwanya. Manusia yang mampu melewati tiga tahap bagian tersebut dianggap mampu mengolah jiwanya dan menerapkan kawruh jiwa.
Kata kunci: Kawruh jiwa, Serat Widyakirana NB 994, filologi
Kawruh jiwa is a concept that contains knowledge about the ways in which humans must act to achieve happiness in their lives. The concept that supports the success of this study is the concept of kawruh jiwa according to Ki Ageng Suryomentaram. This study will analyze the description of the concept of kawruh jiwa in Serat Widyakirana NB 994. The study used in this research is a philological study that aims to explain (1) manuscript description; (2) transliteration; (3) editing and text criticism; (4) translation; and (5) the concept of kawruh jiwa in Serat Widyakirana NB 994. This study also uses qualitative research methods with a descriptive analytical research design. The analysis in this study focused on primary data sources in the form of Serat Widyakirana NB 994 and secondary data sources in the form of books, articles, and journals. The results of the analysis in this study are an explanation of the philological research process and a detailed description of the concept of kawruh jiwa contained in Serat Widyakirana NB 994. The philological research process is explained sequentially, starting from the description of Serat Widyakirana NB 994, the transliteration of the text, editing and text criticism using the critical edition method, translation, and the concept of kawruh jiwa contained in the text. The main discussion in the concept of kawruh jiwa is divided into three parts, namely rasa (feeling), aku Kramadangsa (self-awareness), and mawas diri (self-reflection). Rasa refers to feelings, which are divided into love, sincerity, joy in preserving culture, lust, and envy. Then, the Kramadangsa part contains four stages of human soul development, consisting of dimension I of humans as recorders, dimension II or records, dimension III which can also be called Kramadangsa, and dimension IV or humans without characteristics. The last part is self-awareness as a result of human efforts in cultivating their souls. Humans who are able to pass through these three stages are considered capable of cultivating their souls and applying spiritual knowledge.
Keywords: Kawruh jiwa, Serat Widyakirana NB 994, philology