Pengaruh Penambahan Kapur terhadap Mortar Geopolimer Berbasis Kombinasi Abu Terbang dan Abu Sekam Padi pada Kondisi NaOH 12 Molar
Mortar geopolimer merupakan alternatif bahan pengganti semen konvensional yang ramah lingkungan, dikembangkan untuk mengurangi dampak pemanasan global melalui pemanfaatan bahan yang mengandung unsur silika (Si) dan alumina (Al). Penggunaan material tersebut sebagai pengganti semen dapat meningkatkan ketahanan mortar. Abu terbang memiliki kandungan kimia yang serupa dengan semen, yaitu kalsium (Ca), silika (Si), alumina (Al), dan besi (Fe), sedangkan abu sekam padi mengandung silika tinggi hingga 94% dan memiliki tekstur yang sangat halus, sehingga mampu mengisi rongga dalam campuran dengan baik dan meningkatkan kepadatan mortar. Kapur, dengan kandungan kalsium (Ca) yang tinggi, dapat mempercepat waktu ikat dan memungkinkan pengerasan berlangsung pada suhu ruang tanpa suhu tinggi. Komposisi bahan tersebut memengaruhi kuat tekan, porositas, dan waktu ikat (setting time) mortar geopolimer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan kapur terhadap mortar geopolimer berbasis kombinasi abu terbang dan abu sekam padi pada kondisi NaOH 12 Molar. Benda uji berbentuk kubus berukuran 50 × 50 × 50 mm, dengan total 150 sampel dan 10 variasi mix design (GP, 0%, 0,5%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5%, 3%, 3,5%, dan 4%). Pengujian dilakukan pada usia 7, 14, dan 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi maksimal diperoleh pada penambahan kapur sebesar 2,5%, dengan hasil kuat tekan saat usia 28 hari sebesar 23,35 MPa, porositas terendah 7,55%, serta waktu ikat 555 menit. Namun, penambahan kapur diatas 2,5% justru menurunkan kuat tekan, meningkatkan porositas, serta menyebabkan waktu ikat yang terlalu cepat, sehingga dapat menyulitkan pengerjaan di lapangan.
Kata Kunci: Abu Terbang, Abu Sekam Padi, Kapur, Kuat Tekan, Porositas, Mortar Geopolimer
Geopolymer mortar is an environmentally friendly alternative to conventional cement, developed to mitigate the effect of global warming by utilizing materials containing silica (Si) and alumina (Al). The use of these materials as cement substitutes can improve the durability of the mortar. Fly ash possesses chemical components similar to cement, containing calcium (Ca), silica (Si), alumina (Al), and iron (Fe), while rice husk ash contains up to 94% high purity silica and has a very fine texture, enabling it to fill voids within the mixture effectively and increase mortar density. Lime, with its high calcium (Ca) content, can accelerate the setting time and allow hardening to occur at room temperature without the need for elevated heat. The composition of these materials affects the compressive strength, porosity, and setting time of geopolymer mortar. This study aims to determine the effect of lime addition on geopolymer mortar based on a combination of fly ash and rice husk ash in 12 Molar NaOH conditions. The test specimens were cubes measuring 50 × 50 × 50 mm, with a total of 150 samples and 10 mix design variations (GP, 0%, 0.5%, 1%, 1.5%, 2%, 2.5%, 3%, 3.5%, and 4%). Tests were conducted at 7, 14, and 28 days of curing. The results showed that the maximum composition was achieved with 2,5% lime addition, resulting in a compressive strength of 23,35 MPa at 28 days, the lowest porosity of 7,55%, and a setting time of 555 minutes. However, lime addition above 2,5% reduced compressive strength, increased porosity, and caused excessively rapid setting times, which can hinder workability in the field.
Keywords: Fly Ash, Rice Husk Ash, Lime, Compressive Strength, Porosity, Geopolymer Mortar