IDEOLOGICAL REPRODUCTION IN SOCIOLOGY TEXTBOOKS IN THE POST-REFORMATION ERA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik reproduksi ideologi dalam buku pelajaran Sosiologi SMA pasca reformasi, mulai dari Kurikulum 2004 hingga Kurikulum Merdeka. Buku pelajaran dipahami tidak sekadar sebagai media pembelajaran, tetapi juga sebagai alat ideologis yang digunakan negara untuk membentuk cara pandang siswa terhadap realitas sosial. Dengan menggunakan teori reproduksi ideologi Louis Althusser dan konsep kesadaran naif dari Paulo Freire, penelitian ini mengkaji bagaimana ideologi dominan direproduksi melalui struktur isi, narasi, pemilihan kata, teori, serta representasi visual dalam buku pelajaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode analisis isi menurut Klaus Krippendorff, terhadap lima edisi buku pelajaran Sosiologi SMA dari berbagai kurikulum dan penerbit.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terjadi perubahan dalam kurikulum dan pengemasan materi, reproduksi ideologi tetap berlangsung secara sistematis dan konsisten. Tema-tema sosial seperti ketimpangan sosial dan kelas, kapitalisme dan ekonomi, nasionalisme dan multikulturalisme, kesetaraan gender, serta globalisasi dan modernisasi disampaikan dengan pendekatan yang cenderung mempertahankan status quo. Ketimpangan sosial lebih sering dijelaskan sebagai akibat dari usaha individu, bukan sebagai produk dari sistem ekonomi-politik yang timpang. Teori fungsionalisme lebih dominan dibanding teori konflik, dan visualisasi yang ditampilkan sering kali merepresentasikan kelas sosial dalam bingkai hierarkis. Kurikulum Merdeka tampak lebih inklusif dan adaptif terhadap isu kontemporer, namun tetap berada dalam koridor ideologi dominan. Dengan demikian, buku pelajaran memainkan peran penting dalam mereproduksi nilai-nilai ideologis dan membentuk kesadaran siswa agar selaras dengan kepentingan kelas yang berkuasa.