PROFESSIONAL DIALOGUE DURING THESIS WRITING CONSULTATION SESSION: A MULTI-CASE STUDY
Meski penelitian tentang supervisi penelitian sudah banyak dilakukan, masih terdapat kesenjangan kritis dalam memahami peran dialog profesional selama konsultasi, khususnya dalam konteks pendidikan sarjana calon guru. Studi-studi sebelumnya telah membahas tantangan dan hambatan, strategi supervisi, dan pentingnya hubungan interpersonal, tetapi seringkali mengabaikan penggunaan organisasi sekuensial dari dialog termasuk bagaimana pengajaran dialogis dan pemberian nasihat dilakukan. Selain itu, terdapat juga kesenjangan teoretis tentang bagaimana dialog timbal balik dapat membentuk wellbeing mahasiswa. Berdasarkan teori dialogisme dan sosiokultural, penelitian ini mengintegrasikan pengajaran dialogis, pemberian umpan-balik, dan teori pemahaman bersama untuk menganalisis bagaimana mediator budaya dapat mempengaruhi organisasi dialog selama sesi konsultasi penulisan skripsi dan pola wellbeing mahasiswa. Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan penelitian berikut: 1) Organisasi sekuensial dialog profesional seperti apa yang digunakan oleh supervisor penelitian dan mahasiswa-calon guru selama sesi konsultasi penulisan skripsi?; 2) Bagaimana organisasi sekuensial yang digunakan oleh supervisor penelitian dalam dialog profesional selama sesi konsultasi penulisan skripsi mewakili karakteristik pemahaman bersama selama sesi konsultasi penulisan skripsi?; 3) Bagaimana dialog profesional selama sesi konsultasi penulisan skripsi antara supervisor penelitian dan mahasiswa-calon guru membentuk pola wellbeing mahasiswa-calon guru?; 4) Mengapa pola wellbeing mahasiswa yang muncul dalam dialog profesional selama sesi konsultasi penulisan skripsi terbentuk?
Terdapat 3 kasus atau replikasi di antara kasus-kasus untuk menyelidiki fenomena penggunaan bahasa dalam dialog profesional supervisi skripsi sarjana di bidang pendidikan guru. Oleh karena itu, penelitian ini menggunakan desain penelitian studi kasus berganda yang berakar pada paradigma penelitian interpretatif. Pengambilan data dilakukan pada partisipan secara purposif selama 12 bulan pada program pendidikan Bahasa Inggris sarjana dari satu universitas negeri dan dua universitas swasta di Indonesia. Tiga dosen Pendidikan dan Sastra Inggris, terdiri dari 2 dosen perempuan dan 1 dosen laki-laki, berpartisipasi secara sukarela dalam penelitian ini. Mereka membimbing 3-6 mahasiswa-guru sarjana dalam kelompok penelitian mereka. Data dalam penelitian ini berupa dialog verbal yang dikumpulkan oleh peneliti dari peserta: supervisor penelitian dan mahasiswa-calon guru yang mereka bimbing. Setelah dialog direkam untuk pertanyaan penelitian 1-2, data dari wawancara semi-terstruktur dengan mahasiswa-guru yang dibimbing dikumpulkan untuk menjawab pertanyaan penelitian 3-4. Data dianalisis menggunakan analisis percakapan dan pengkodean tematik. Keabsahan analisis dan interpretasi dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik member-checking dan triangulasi peneliti.
Temuan mengungkapkan bahwa beberapa supervisor penelitian mungkin tidak selalu mengikuti struktur yang ditetapkan, lebih mengutamakan bagian-bagian tertentu atau mengadopsi pendekatan fleksibel yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi mahasiswa. Selama sesi konsultasi penulisan skripsi, dinamika kekuasaan terlihat di antara para peserta. Peserta 1 (P1) menunjukkan dinamika kekuasaan-dominan, menegaskan otoritas dan kontrol dengan mengarahkan diskusi, membuat keputusan sepihak, dan memaksakan pendapat, yang dapat membatasi masukan kolaboratif. Perilaku ini berasal dari persepsi Partisipan 1 tentang keahlian dan kelelahan psikologis dari tugas administratif. Sebaliknya, Partisipan 2 (P2) mempertahankan kekuasaan dengan mendorong kolaborasi, mendengarkan orang lain, dan memastikan konsensus, mencerminkan peran fasilitatif mereka dan pengakuan terhadap otonomi mahasiswa dan pembelajaran mandiri. Partisipan 3 (P3) terlibat dalam perilaku memperoleh dan mempertahankan kekuasaan, secara strategis memperoleh pengaruh dengan berempati terhadap tantangan emosional mahasiswa sambil mempertahankan dukungan sepanjang konsultasi, bertujuan untuk mengatasi hambatan motivasi dan mendorong kolaborasi dalam proses penulisan skripsi. Studi ini menyoroti berbagai faktor yang mempengaruhi keterlibatan positif dalam supervisi penelitian, termasuk umpan balik konstruktif, pertemuan rutin, dan ketahanan individu. Penelitian ini menganjurkan pendekatan holistik, menyarankan peningkatan kebijakan komunikasi dan evaluasi program rutin untuk mendorong dialog interdisipliner. Hubungan positif antara supervisor dan siswa sangat penting untuk kualitas skripsi dan lingkungan akademik yang mendukung. Pencarian informasi proaktif dan dukungan emosional dari supervisor meningkatkan keterlibatan. Nilai-nilai budaya, seperti dalam budaya Jawa-Islam, membentuk persepsi tentang kesejahteraan dan pencapaian akademik, menekankan pengembangan pribadi selain tanggung jawab akademik. Akhirnya, temuan menyoroti dampak gaya keterikatan supervisor terhadap pola wellbeing mahasiswa, mengidentifikasi tiga tipe utama: aman, cemas, dan menghindar. Mahasiswa yang memiliki pola wellbeing yang baik mendapat manfaat dari komunikasi terbuka dan kepercayaan dengan supervisor mereka, yang mendorong hubungan positif. Sebaliknya, mahasiswa dengan pola keterikatan cemas mungkin kesulitan dengan panduan yang terstruktur dan merasa tidak didukung, sementara mereka yang dengan pola keterikatan menghindar cenderung menghindari ketergantungan dan lebih memilih bekerja secara mandiri, yang berpotensi menghambat kolaborasi. Interaksi dialogis positif dengan supervisor mendorong agensi mahasiswa dan keterlibatan proaktif, yang mengarah pada lingkungan penelitian yang mendukung. Namun, tantangan muncul ketika umpan balik dianggap tidak terstruktur atau sesi konsultasi kelompok yang terkadang tidak mendukung. Terlepas dari tantangan ini, praktik reflektif dan perhatian individual berkontribusi pada tujuan dan pencapaian mahasiswa, dan meningkatkan pola wellbeing mereka secara keseluruhan dalam proses penelitian. Studi ini secara teoretis dan praktis berkontribusi pada dimensi sosiokultural dari supervisi penelitian pada tingkat sarjana.
Despite extensive research on undergraduate thesis supervision, there remains a critical gap in understanding the role of professional dialogue during these consultations, particularly in the context of teacher education. Previous studies have addressed challenges and barriers, supervision strategies, and the importance of interpersonal relationships, but they often overlook the structured use of sequential organization of the dialogue including how dialogic teaching and advice giving are delivered. Moreover, there is also a theoretical gap on how the reciprocal dialogue may shape the student’s wellbeing. Rooted from dialogism and sociocultural theories, this study integrated dialogic teaching, advice giving, and shared understanding theories to analyze how cultural mediators could affect the organization of dialogue during thesis writing consultation sessions and the students’ wellbeing pattern. This study attempts to address the following research questions: 1) What sequential organization of professional dialogue during thesis writing consultation session do research supervisors and student-teachers use?; 2) How does sequential organization used by research supervisors in professional dialogue during thesis writing consultation session represent the characteristics of shared understanding during thesis writing consultation session?; 3) How does professional dialogue during thesis writing consultation session between research supervisors and student-teachers shape the student-teachers’ well-being?; 4) Why does the student-teachers’ wellbeing represented in professional dialogue during thesis writing consultation session occur?
There were 3 cases or replications across the cases to investigate the same phenomena of the use of language in the professional dialogue of undergraduate thesis supervision in the teacher education discipline. Thus, this study used a multiple case-studies research design which is rooted in the interpretative research paradigm. The purposive sampling of this 12-month fieldwork was used to choose an undergraduate degree of English education program of Indonesian state and two private universities as research participants. Three English Education and Literature lecturers, consisting of 2 females and 1 male lecturers volunteered to participate in this study. They supervised 3-6 undergraduate student-teachers (e.g. in their research group. Data in this study were verbal dialogues collected by the researchers from the participants: research supervisors and their supervised student-teachers. Following the recorded dialogues for research question 1-2, data from semi-structured interview with the supervised student-teachers were collected to answer research question 3-4. The data were analyzed using conversation and thematic coding analysis. Trustworthiness for analysis and interpretation in this study was done by conducting member-checking technique and triangulation investigators.
Findings revealed that some research supervisors participants may not strictly adhere to a set structure, prioritizing different sections or adopting a flexible approach tailored to the student's needs and circumstances. During the thesis writing consultation session, power dynamics were evident among the participants. Participant 1 (P1) exhibited power-over dynamics, asserting authority and control by directing discussions, making unilateral decisions, and imposing opinions, potentially limiting collaborative input. This behaviour stemmed from P1's perceived expertise and psychological fatigue from administrative tasks. In contrast, Participant 2 (P2) maintained power by fostering collaboration, listening to others, and ensuring consensus, reflecting their facilitative role and acknowledgment of students' autonomy and self-regulated learning. Participant 3 (P3) engaged in both power gaining and maintaining behaviours, strategically acquiring influence by empathizing with students' emotional challenges while maintaining support throughout the consultation, aiming to overcome motivational barriers and foster collaboration in the thesis writing process. The study highlights various factors influencing positive engagement in research supervision, including constructive feedback, regular meetings, and individual resilience. It advocates for a holistic approach, suggesting improved communication policies and regular program evaluations to foster interdisciplinary dialogue. Positive relationships between supervisors and students are crucial for thesis quality and a supportive academic environment. Proactive information-seeking and emotional support from supervisors enhance engagement. Cultural values, like those in Javanese culture, shape perceptions of wellbeing and academic achievement, emphasizing personal development alongside academic responsibilities. Lastly, the finding highlights the impact of supervisory attachment styles on students' wellbeing, identifying three main types: secure, anxious, and avoidant. Securely attached students benefit from open communication and trust with their supervisors, fostering a positive relationship. Conversely, students with anxious attachment may struggle with structured guidance and feel unsupported, while those with avoidant attachment tend to avoid dependency and prefer working independently, potentially hindering collaboration. Positive dialogic interactions with supervisors promote student agency and proactive engagement, leading to a supportive research environment. However, challenges arise when feedback is perceived as unstructured or group consultation sessions become confusing. Despite these challenges, reflective practices and individualized attention contribute to students' sense of purpose and achievement, enhancing their overall wellbeing in the research process. This present study theoretically and practically contributes to sociocultural dimensions of research supervision for undergraduate degree context.